Imajinasi dalam SOTOJI

Posted on March 12, 2012

0



Aku masih terpaku. Membereskan tugas kuliahku. Tugas ini cukup membuatku galau. Dalam satu malam buku setebal 500 halaman harus ku-review. Gila! Sekarang sudah jam satu, dan aku masih juga termangu. Kayaknya aku yang lebih gila dari tugas itu. Boro-boro mikirin makan, mikirin tugas saja sudah cukup membuatku kacau. Dan, pikiranku lagi-lagi tidak jelas meracau.

Aku hanya ditemani secangkir kopi. Hanya ini yang kujadikan amunisi. Kubiarkan jari-jariku terus menari di atas papan ketik. Semoga saja masih ada secercah inspirasi. Sampai tak sadar jika mata ini tak lagi setajam pisau belati. Tapi, terasa masih kurang satu amunisi. Sebentar, kuingat-ingat biar semakin lengkap malam ini. Aku ingat! Perut ini belum terisi semenjak sore tadi. Pantas saja aku lemas terkulai.

“Makan dulu, Mas,” suruh Ibuku.

Bau itu seketika menyeruak mengisi lubang penciumanku. Aku langsung bangkit dari kursi dan melongok ke meja makan. Terhidang satu mangkuk makanan. Sepertinya semangkuk mie. Aku langsung saja duduk dengan tangan kanan memegang garpu. Tak perlu pakai sendok, karena mie seperti ini cocok kulumat dengan hanya pakai garpu. Segera kuisi mulutku dengan makanan itu. Luar biasa. Dahsyat. Fantastis.

Aroma yang keluar darinya sungguh sedap. Seperti mencium wangi taman eden. Aku tak berpikir panjang. Ujung garpu itu langsung kuhujamkan ke dalam cekungan mangkuk. Kurasakan setiap detail dari mie itu. Aroma soto. Ya, jelas ini aroma soto. Rasa nikmat dengan bumbu kuning dan rasa renyah dari jamurnya adalah paduan yang pas. Dicampur dengan bumbu kualitas nomor satu membuatnya tiada tandingan. Sungguh racikan bumbu yang sempurna.

Dalam sekejap. Dan hanya hitungan detik mangkuk itu kembali kosong. Tiada yang tersisa sehelaipun mie itu. Kuhela napas panjang. Sesaat mataku masih terpejam menikmati rasa yang baru saja hinggap di lidah, dan sekarang memenuhi perutku. Mie yang lembut, renyahnya jamur, dengan perpaduan bumbu soto yang unik membuatku lupa diri. Makanan ini sudah cukup melayangkan imajinasiku tinggi-tinggi.

Udah makannya, Mas?” ibuku bertanya.

Udah, Bu,” jawabku segera, “eh Bu, perasaan ibu tadi gak ke pasar khan?”

Enggak, emang kenapa?” balas ibuku.

Kok bisa ada soto padahal Ibu gak ke pasar?” tanyaku semakin penasaran.

Gak perlu ke pasar jauh-jauh kalo mau buat soto jamur,” jawab ibuku sambil tersenyum manis. Kemudian melanjutkan, “tinggal ke warung terdekat saja,”

Aku masih bingung dengan ucapan ibuku itu. Aku tahu sekali warung terdekat samping rumahku itu. Bu Marsih tak pernah jualan sayuran. Dia cuma buka warung kelontongan. Mana ada jamur, bumbu, apalagi bahan-bahan untuk buat soto. Aneh.

Aku masih terduduk di tempat makan padahal makanku sudah usai. Jujur, aku masih kepikiran soal itu. Atau jangan-jangan ibu beli soto instan yang tinggal masak hanya dalam satu kemasan. Tapi, apa mungkin soto plus jamur seenak itu dijual sachet-an? Kalau tak ada yang sachet, kenapa ibu tadi bilang gak ke pasar hari ini? aku bingung plus heran. Kekagumanku itu sampai-sampai melupakan tugas utamaku malam itu. Ya, mengerjakan tugas review buku.

“Heii..” ibuku mencolekku tiba-tiba, “jangan ngelamun, ntar kesurupan lho. Lanjutin sana tugas kamu.”

“Eh iya Bu,” sontak aku tersadar dari lamunanku. “Ini mau aku terusin Bu ngerjain tugas,”

“Bu, aku boleh tanya?”

“Iya boleh, kenapa?”

“Ibu dapat dari mana soto jamur ini?” tanyaku penasaran.

“Hmm..Kamu lupa ya?” ibuku tersenyum dan melanjutkan, “tadi pagi khan kamu dapat paket. Terus kamu letakin aja tuh paket di atas meja makan. Pas Ibu buka isinya Sotoji, soto jamur. Karena ibu lupa tadi gak belanja ke pasar dan kamu belum makan, udah aja Ibu masakin itu buat makan malam kamu.”

“Ooooooo…soto jamur instan Sotoji, Bu?” aku langsung ingat kalau tadi pagi ada paket kiriman dari Sotoji. Mungkin sebab pikiranku sudah keisi dengan tugas dan tugas jadi aku lupa itu. Untungnya Ibu ingat.

Terus terang, aku baru tahu tentang Sotoji. Aku sudah sering makan mie instan atau sejenisnya. Tapi, aku pikir dan aku juga yakin 100% gak ada yang lebih edan dari Sotoji. Soto instan komplit plus jamur kering yang sungguh renyah dihadirkan hanya dalam satu kemasan praktis. Masih ada lagi plusnya. Harga terjangkau. Terjangkau pula tempatnya karena tersedia dimana-mana. Sotoji benar-benar beda.

“Cara memasaknya pun mudah. Tinggal dibuka bungkusnya, masukin mie-nya ke dalam air panas. Setelah itu jamur dan bumbunya. Dalam hitungan menit Sotoji siap saji,” Ibuku meneruskan.

Posted in: Competition