Melacak Jejak Kretek Di 4 Kota (Episode: Kudus)

Posted on March 7, 2012

4



Siapa sangka jika industri kretek di Kudus adalah sebuah pelarian pada awalnya. Adalah industri batik yang lebih muncul duluan ketimbang usaha lain di kota pesisir utara Pulau Jawa bagian tengah itu. Oleh sebab industri batik ini kemudian tersaingi oleh kota-kota lain, termasuk batik Solo, batik Pekalongan, batik Tegal, dan batik Jogjakarta, Kudus pun beralih. Pengusaha pribumi Kudus kemudian beralih ke usaha kretek pada sekira tahun 1870-1880 (Onghokham, 1987). Semenjak itu Kudus mengukuhkan diri bukan hanya sebagai tempat penemuan awal kretek, tetapi sekaligus sebagai salah satu pusat industri kretek terbesar di Indonesia, bahkan dunia (Kretek, 2010).

Kudus Kota Kretek

Kretek mulai dikenalkan di Kudus pada abad ke-19 oleh Haji Djamhari. Ia adalah putra asli Kudus. Penemuan kretek olehnya boleh dikatakan sebagai bentuk ketidaksengajaan. Haji Djamhari (atau ada juga yang menyebutnya Haji Djamasri) tengah sakit asma dan sesak dada kala itu. Penyakitnya itu sudah lama bersemayam di tubuhnya. Tanpa sengaja ia menggosokkan minyak cengkeh ke permukaan dadanya. Merasa lebih nyaman dan enakan, ia pun mencoba mengunyah biji-biji cengkeh kering. Tak puas disitu, ia kemudian memotong-motong cengkeh kering dan juga merajang daun tembakau kering untuk disatukan dan dilinting menjadi rokok untuk dihisapnya. Syahdan, penyakitnya itu langsung terusir seketika. Dinilai memiliki nilai jual tinggi, akhirnya ia pun memproduksinya dalam jumlah banyak untuk dijual.

Industri kretek makin marak sepeninggal Haji Djamhari. Permintaan pasar akan ‘barang kebutuhan’ yang satu ini lama-kelamaan meningkat. Pemerintah Hindia Belanda melalui kongsi dagangnya, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), ikut berperan disini. VOC melihat kretek ini sebagai satu komoditas baru yang cukup mendatangkan banyak rejeki buatnya. Atas dasar pertimbangan materi inilah kemudian Pemerintah Hindia Belanda dengan mudahnya memberikan ijin kepada pengusaha pribumi dalam membuka bisnis kretek. Karena menjanjikan keuntungan yang tak sedikit, terutama bagi kompeni kala itu, bisnis ini pun tumbuh subur di Pulau Jawa.

Pada perkembangannya, ada juga rokok klobot dengan cap ‘kodok mangan ulo’ (Jawa=kodok makan ular) yang awalnya dikenalkan oleh seorang asli Kudus bernama Roesdi pada tahun 1863 (Laura, 1994:38). Inilah yang kemudian berkembang menjadi perusahaan dengan nama “Sigaretan Fabriek M. Niti Semito Koedoes”. Hingga kemudian lahirlah perusahaan ‘Nojorono’ pada tahun 1935, dan pada tahun 1950 PT Djarum mulai bercokol di Kudus sebagai yang terbesar. Dari sinilah kemudian industri rokok mulai dikenal, dan Kudus menjadi Kota Kretek kesohor seantero nusantara.

Sampai pada medio 2009, industri rokok yang tersebar di seluruh penjuru Kota Kudus ada sekira 209 unit industri, dengan total produksi tiap tahunnya tak kurang dari 58,9 miliar batang. Penguasaan pasar terbesar, hampir mencapai 98%, dikuasai oleh dua produsen terbesarnya, yakni PT Nojorono dan PT Djarum. Sisanya, kurang dari 2%, dinikmati oleh perusahaan kecil dan menengah. Industri ini mampu menyerap 78,14% dari total angkatan kerja (101.394 orang). Dalam setahun, ratusan produsen rokok tersebut mampu menyokong PDRB Kudus sejumlah Rp. 23,57 triliun (66,25% dari total PDRB Kudus). Wajar saja jika sektor industri inilah yang disebut-sebut sebagai penyumbang terbesar PDRB Kudus.

Kudus juga dikenal sebagai penyumbang cukai rokok terbesar di Indonesia. Nilainya pada tahun 2008 hampir mencapai Rp. 3 triliun. Deretan angka tersebut kian meneguhkan Kudus sebagai Kota Kretek terbesar di Indonesia. Dan, mau tidak mau, suka atau tidak suka, serta di tengah polemik haram tidaknya, industri kretek ini telah terbukti mampu menghidupi ratusan juta kepala masyarakat Indonesia. Fantastis!

*Diinspirasi dari Majalah “Kretek”, edisi 2010.