Cintai Negeri Lewat Mentari

Posted on March 2, 2012

0



Mendaki adalah tentang bagaimana memahami isi ibu pertiwi. Mendaki bukan hanya sebatas menuruti ambisi. Lebih dari itu, ia adalah aktivitas hati, menaklukkan ambisi egoisitas diri, pun ajang menapaki jati diri. Inilah sederet alasan soal kecintaan saya mendaki. Sampai sejauh ini, sudah sembilan gunung di Indonesia dengan ketinggian di atas 3000 MDPL telah saya daki. Satu kepingan dalam hidup yang sungguh berarti.

Bukan hanya sekadar hobi, buat saya mendaki telah menjadi bagian dari hidup dan gaya hidup. Saat ini aktivitas ini sudah agak mulai ditinggalkan. Generasi muda kini lebih autis pergi ke cafe, mall, atau ke club malam ketimbang harus berkotor-kotor ria di gunung. Gak salah sih mereka ke tempat-tempat itu. Hanya saja kita sebagai generasi muda juga jangan lupakan keindahan negeri ini. Kita wajib bangga dengan negeri seribu gunung ini, dan caranya adalah dengan mendaki atau backpaker-an ke pelosok negeri.

Era teknologi informasi sekarang boleh jadi ikut berpengaruh terhadap kurangnya kecintaan kepada negeri, terutama mendaki gunung. Lebih enak nongkrong depan komputer lalu berselancar di dunia maya daripada harus capek-capek keliling nusantara. Masifnya serbuan teknologi, terutama internet membuat kita serba instan. Gak usah ke gunung untuk melihat keindahan Indonesia, tinggal klik di search engine semua akan hadir di depan mata dalam hitungan detik. Memang, dunia maya memang menjanjikan kemudahan bagi semua mahluk hidup di jagat raya ini.

Padahal, jika kita mau berpikir lebih dalam, kita bisa memanfaatkan atau mengolaborasikan keduanya. Jangan dulu di judge bahwa para pendaki adalah orang tradisional nan primitif yang gak tahu apa itu internet. Kita, para pendaki, juga paham betul soal itu. Aktivitas mendaki tanpa didukung oleh teknologi informasi ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Para pendaki juga manusia yang tentu ingin dikenal, ingin eksis, terkadang narsis, dan butuh aktualisasi diri. Buktinya, pasti tak jarang dari mereka yang mempublikasikan hasil dari mendakinya ke dunia maya. Inilah sisi kebutuhan kita akan layanan internet.

Kemudahan dalam berinternet ria tentu atas dukungan provider/penyedia layanan telekomunikasi modern, yang salah satunya adalah Indosat. PT Indosat jauh-jauh hari telah berkomitmen dalam memudahkan komunikasi masyarakat. Apalagi kini Indosat hadir dengan layanan internet broadband yang sangat memanjakan para penggunanya. Dengan layanan Indosat Internet, saya dan para pendaki gunung yang lain tentu sangat terbantu, salah satu contoh kecilnya adalah jika ingin mengunggah foto-foto dokumentasi pendakian ke dalam media blog, jejaring sosial, website, atau yang lainnya.

Kemudahan yang diberikan Indosat Internet sangat membantu, terutama bagi saya. Selain dapat narsis sebab foto-foto saya dapat dilihat orang, saya juga dapat berbagi informasi mengenai apa itu pendakian, berapa ongkosnya, apa saja yang dibutuhkan selama backpacker-an, dan informasi lainnya kepada masyarakat peselancar dunia maya. Padahal, saya hanya menggunakan paket layanan Indosat Internet yang Rp. 50.000 (Rp.50K). Tapi, meski 50 puluh ribu perak, kecepatan yang didapat sampai 384 kbps. Sebatas pengetahuan saya ini yang paling cepat, belum ada tandingannya. Apalagi kalau pakai yang Rp. 100.000 (Rp.100K) bisa-bisa saya harus pakai sabuk pengaman biar gak jatuh sangkin cepatnya.

Indosat Internet, yang sebelumnya masyarakat mengenalnya dengan nama Indosat Broom, hadir di hadapan kita untuk kartu Indosat apa saja (IM3, Mentari, atau Matrix). Nikmati layanan paket data  unlimited dengan kecepatan super dahsyat hingga 1 Mbps untuk e-mail, chatting, downloading, blogging, browsing, dll. Dengan akses yang mudah dan tarif yang terjangkau tentu ini akan menjadikan kita nyaman dan aman (di kantong). Apapun dan dimanapun layanan Indosat Internet selalu menjadi prioritas solusi berinternet. Apalagi dengan masa aktif sampai 30 hari, yang pasti membuat kita santai gak seperti dikejar kereta. Beli dan segera nikmati kemudahan akses internet dimanapun berada.

Saya jadi ingat beberapa tahun silam, tepatnya tahun 2008 saat saya dan teman-teman sesama pendaki mendaki Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat. Saat itu, saya memakai HP jenis Hiu, yang diproduksi oleh salah satu produsen HP dunia, dengan memakai kartu Mentari. Hasilnya luar biasa. Coba Anda bayangkan, di ketinggian tak kurang dari 3078 MDPL saya masih dapat sinyal. Kita bisa ngobrol bebas tanpa gangguan sinyal sedikitpun dengan teman, keluarga, dan sahabat kita di bawah. Sungguh satu pengalaman dan pencapaian yang fantastis mengingat pada ketinggian yang demikian sinyal pasti menjadi barang langka nan mahal. Tapi, dengan Indosat semua menjadi jelas, bebas, dan lepas. Terimakasih Indosat.

Posted in: Competition