Melacak Jejak Kretek Di 4 Kota (Episode: Minahasa)

Posted on February 29, 2012

0



Sejatinya Pemerintah Belanda lah yang turut andil dalam penyebaran cengkeh ke Minahasa pada abad ke-19. Seperti ditulis oleh Ishak Salim dalam “Kretek”; Pierre Poivre (1719-1786) seorang Perancis berhasil mencuri 70 pohon cengkeh dan ribuan benihnya dari tangan Belanda di Kepulauan Maluku. Inilah saat-saat dimana VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) kebobolan—meminjam bahasa Hanusz (2000). VOC merosot dan bangkrut seiring dengan ditanamnya cengkeh oleh Pierre Poivre di seluruh jajahan Perancis, Asia dan Afrika.

Zanzibar Lengkoan dari Minahasa

Jumlah uang yang beredar di Minahasa dari sektor perkebunan cengkeh dapat mencapai Rp 300-600 miliar pada setiap musim panen sekali satahun. Jumlah yang lebih fantastis lagi, yakni pada saat musim panen raya yang mencapai Rp 1,32 triliun (Kretek, 2010). Keterserapan tenaga kerjanya pun tidak main-main, sektor ini dapat menyerap 460.650 tenaga kerja. Angka yang cukup fantastis mengingat angka ini melebihi jumlah penduduk lokal Minahasa yang hanya 301.857 orang (BPS Minahasa, 2008).

Minahasa punya 19 kecamatan sebagai ladang cengkehnya, dengan Kecamatan Kombi dan Sonder sebagai dua kecamatan terbesar penghasil cengkeh. Cengkeh (Eugenia Aromatica) di Minahasa menjadi salah satu komoditas primadona sektor perkebunan disamping kelapa (Cocos Nucifera), coklat (Theobrama Cacao), dan kopi—terutama jenis robusta (Coffea Canephora). Meski bukan sebagai tanah asli cengkeh, karena berasal dari Kepulauan Maluku, Minahasa pernah meraih rekor sebagai penghasil cengkeh terbesar se-Nusantara.

Terdapat 3 jenis cengkeh yang kesohor di Minahasa, yakni jenis ‘Cikotok’, jenis ‘Zanzibar’ (yang masuk pada 1970an), dan jenis ‘Zanzibar Lengkoan’—hasil persilangan antara cengkeh asli Ternate ‘Cikotok’ dengan cengkeh ‘Zanzibar’ asal Madagaskar. Jenis yang terakhir ini populer berkat tangan kreatif Frans Welley, petani cengkeh dari Sonder, yang berhasil mengawinkan keduanya. Lengkoan sendiri diambil dari nama kawasan (Lengkoan) dimana Welley menanam cengkehnya. Soal kualitas, cengkeh Cikotok lebih harum dan berat dibandingkan cengkeh Zanzibar Lengkoan, yang unggul karena kapasitas produksinya.

Posisi Minahasa, terletak hanya beberapa kilometer dari Kota Manado, ibukota Propinsi Sulawesi Utara, yang diapit oleh gunung-gunung berapi seperti Gunung Soputan, Lokon, dan Klabat turut mempengaruhi kesuburan tanahnya. Tak heran, jika cengkeh dapat tumbuh subur disana. Pun menyuburkan perekonomian masyarakatnya. Setoran dari sektor cengkeh untuk Pemerintah Daerah cukup besar. Sekira 4,92% total PDRB Kabupaten Minahasa atau Rp 3,27 triliun disokong dari sektor ini. Angka ini cukup besar jika dibanding dengan setoran sektor listrik, gas, dan air bersih yang hanya 1,02% atau Rp 33,41 miliar saja.

Bernard Welley, salah seorang petani senior dan aktivis Forum Solidaritas Petani Cengkeh (FSPC), menghitung pendapatan seorang petani cengkeh untuk setiap hektar adalah Rp 51.884.000 (pendapatan bersih per dua tahun) atau Rp 2.161.830 per bulannya (Salim&Bara, 54;2010). Dengan angka ini pula petani cengkeh Minahasa pernah berjaya sebagai penduduk yang memiliki pendapatan per kapita tertinggi di Indonesia. Angka itu konon melampaui pendapatan seorang warga Swiss yang notabene negeri paling makmur di Eropa. Sangkin kayanya, ada pameo yang berkembang, “…orang Minahasa pergi naik pesawat ke Jakarta hanya untuk bercukur. Lalu, mereka memborong puluhan botol bir hanya untuk cuci muka.”

*Diinspirasi dari Majalah “Kretek”, edisi 2010.