Ada Apa Dengan Campus?

Posted on February 22, 2012

2



Indonesia Corruption Watch (ICW) selama 2011 menemukan 10 sektor yang terbilang tinggi korupsinya. Dari kesepuluh sektor tersebut, sektor pendidikan menduduki posisi teratas dengan jumlah korupsi senilai Rp115,7 miliar (Media Indonesia 01/02/2012). Ada apa dengan dunia pendidikan? Inilah pertanyaannya. Ditengah masifnya berita tentang kasus korupsi di Indonesia, muncul aspek yang bernama pendidikan.

Dunia pendidikan yang berisi para intelektual ternyata tidak intelek. Jika dahulu dunia ini disebut sebagai dunia bersih, kini dunia ini berisi orang-orang korup. Para pejabat dunia ini pun yang dahulu disebut sebagai orang suci (the holy man) kini berubah 180 derajat menjadi orang-orang yang sarat kepentingan. Penyalahgunaan uang negara menjadi marak dalam dunia pendidikan kini.

Para koruptor yang kini menjadi tokoh utama dalam persinetronan Indonesia adalah orang-orang pintar. Tak dapat dipungkiri jika mereka adalah lulusan kampus. Institusi pendidikan inilah kontributor terbesar penerus bangsa. Mau tidak mau, atau suka tidak suka pemimpin negeri ini pasti dari lulusan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, tingginya kasus korupsi di Indonesia juga atas sumbangsih kampus.

Betapa luar biasanya dunia yang bernama kampus. Bukan hanya lulusannya yang nantinya menjadi pengerat uang rakyat. Kini, dunia pendidikan alias wadahnya pun sudah korup. Barangkali bisa jadi ini semua terjadi sebab di kampus tidak diajarkan mengenai moral. Jadi wajar saja jika lulusannya kemudian tak bermoral dan hanya menghabiskan uang negara. Kampus memang belum telanjang. Mereka takut untuk transparan, terutama soal pengelolaan keuangannya.

Demonstrasi yang terjadi belakangan ini mayoritas dilatarbelakangi oleh ketidakterbukaan kampus/dunia pendidikan tentang anggaran. Jangan disalahkan dulu ketika demo terjadi. Saya pikir sangat wajar dan logis jika mahasiswa menuntut soal transparansi pengelolaan keuangan kampus. Mereka membayar untuk kuliah. Dan artinya mereka juga wajib tahu untuk apa uang yang mereka bayarkan tersebut.

Para pengajar seperti acuh tak acuh soal anak didiknya setelah lulus. Mereka hanya mengajar dan bukan mendidik. Menyegerakan mahasiswanya cepat lulus agar tetap mempertahankan nama baik dan akreditasinya, tanpa peduli bagaimana kualitas lulusannya. Egoisme intelektual ini yang pada akhirnya memutus tanggung jawab kampus sebagai pencetak generasi penerus bangsa. Seperti kata pepatah, ‘setali tiga uang’. Institusi korup lulusannya pun ikut.

Posted in: Article, Bureaucrazy