De Nekat Creativepreneur [Part.6]

Posted on February 18, 2012

1



Industri Kreatif

Industri kreatif adalah industri yang bertumpu pada karya, bukan modal dan tenaga kerja. Hal ini sesuai dengan karakter industri kreatif yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan kerja dengan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Creatives Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill&talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content) (UK Task Force, 1998). Definisi tersebut mengisyaratkan bahwa modal utama industri kreatif adalah SDM, ide, kreativitas, dan inovasi.

Data menyebutkan jika kontribusi industri kreatif untuk negeri tidak main-main. Pada rentang waktu 2002-2006 misalnya, sumbangan industri-industri kreatif telah mencapai 6.3% dari GDP Nasional (104,638 triliun rupiah). Di samping itu, sektor industri kreatif pun mampu menyerap tenaga kerja rata-rata sebesar 5,4 juta pekerja di Indonesia dengan tingkat partisipasi sebesar 5.8% serta produktivitas tenaga kerja bahkan mencapai 19.5 juta rupiah per pekerja setiap tahun melebihi produktivitas nasional yang cuma mencapai kurang dari 18 juta rupiah per pekerja per tahun (BPS, 2008).

Semangat Indonesia untuk menjadi negeri kreatif mutlak diaplikasikan oleh daerah yang mewujud melalui pembentukan kawasan kreatif. Menurut Richard Florida, pengarang Buku The Creative Class Theory, keberhasilan untuk menjadi kota kreatif ditentukan oleh tiga faktor (3T), antara lain:

  1. Faktor talenta; meliputi aspek pekerja kreatif, aspek budaya meneliti, dan aspek modal SDM. Sebagaimana kreativitas adalah jantungnya inovasi, maka pekerja kreatif menentukan kelangsungan industri kreatif.
  2. Faktor toleransi; meliputi aspek sikap, aspek nilai, dan aspek ekspresi diri. Aspek sikap dinilai dari sikap terhadap minoritas, keterbukaan terhadap orang-orang yang asalnya berbeda, kesempatan pekerjaan yang tersedia bagi warga bukan putra daerah. Aspek nilai diukur dari sejauh mana nilai-nilai tradisional asli daerah bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan nilai-nilai modern dan sekuler. Aspek ekspresi diri diukur dari sejauh mana suatu kota menghormati hak-hak individu dan kebebasan mengekspresikan dirinya.
  3. Faktor teknologi; meliputi kecanggihan teknologi yang digunakan dan juga mengenai sejauh mana teknologi informasi berkembang. Aspek ini menjadi penting karena sekaranglah era kecanggihan teknologi informasi.

Semakin terpenuhi “3T” secara memuaskan semakin mimpi menjadi kota kreatif menjadi kenyataan, dan semakin siap kawasan tersebut untuk menjadi kawasan kreatif.

Tujuan dari program TIK sendiri adalah terbukanya wawasan seluruh stakeholders akan kontribusi ekonomi kreatif terhadap ekonomi Indonesia. Menyadari peran penting tersebut, Presiden juga telah memerintahkan kepada 28 instansi pemerintah pusat dan daerah juga mengamanatkan kepada daerah untuk mendukung kebijakan Pengembangan Ekonomi Kreatif tahun 2009-2015 melalui Inpres No.6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif. Dijelaskan bahwa pengembangan kegiatan ekonomi dilakukan berdasarkan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.