De Nekat Creativepreneur [Part.5]

Posted on February 16, 2012

2



Ekonomi Kreatif

Pada tahun 2008, berawal dari pertemuan internasional kota berbasis ekonomi kreatif di Yokohama Jepang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Indonesia Kreatif (TIK). Tema Indonesia Kreatif 2009 sangatlah inspiratif bukan saja hanya dalam mengatasi dampak gejolak ekonomi global, tetapi juga melihat kontribusi sektor ini terhadap ekonomi nasional. Langkah pemerintah ini tentu patut diacungi jempol.

Sektor ini dipercaya sebagai harapan bagi ekonomi Indonesia untuk bangkit, bersaing, dan meraih keunggulan dalam ekonomi global. Ide dasar ini menjadi cikal bakal tumbuhnya kembali industri kreativitas di era ekonomi baru berbasis pengetahuan (new knowledge economy era). Era dimana pengetahuan menjadi faktor penentu kamajuan suatu bangsa.

Menindaklanjuti gagasan tersebut, Departemen Perdagangan RI kemudian merilis 14 cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia 2009-2025 serta pengembangan subsektor-subsektor ekonomi kreatif, antara lain:

  1. Periklanan (kreasi dan produksi iklan),
  2. Arsitektur (tata kota, pertamanan, konservasi budaya, lelang dan sebagainya),
  3. Pasar seni dan barang antik,
  4. Kerajinan,
  5. Desain (interior, eskterior, grafis, dan sebagianya),
  6. Tata busana (fashion),
  7. Film dan fotografi,
  8. Permainan kreatif,
  9. Musik,
  10. Seni pertunjukan,
  11. Penerbitan/percetakan,
  12. Layanan komputer dan piranti lunak,
  13. Televisi dan radio,
  14. Riset dan pengembangan.

Abad 21 kini menilai bahwa keberhasilan ekonomi sangat ditentukan dari seberapa banyak pengetahuan-pengetahuan baru dihasilkan. Peran para pekerja pengetahuan yang berketerampilan tinggi (highly skilled knowledge workers) menjadi sangat sentral. Melalui kreativitasnya mereka menghasilkan inovasi-inovasi berupa kekayaan-kekayaan intelektual yang dihakciptakan. Pekerja kreatif siap menjadi pencipta pengetahuan, mengaplikasikan, dan memanfaatkan pengetahuan baru tersebut di tempat kerja. Relevansinya tidak lagi diartikan sebagai aplikasi pengetahuan di tempat kerja melainkan tempat kerja itu sendiri sebagai tempat pembelajaran (learning site).