Kretek

Posted on February 5, 2012

5



“Kepekaan dan kemampuan mereka—para penemu dan perintis kretek itu—membaca gelagat masa depan, layak disebut luar biasa. Kaum rohaniawan atau wakil kaum rohaniawan: Menjual agama dengan harga murah. Para peneliti: Ketidakjujuran akademik/ilmiah. Kaum intelektual: Pemihakan yang salah” oleh Mohammad Sobary-Budayawan dan Mantan Dirut Antara, Dalam Pengantar Majalah Kretek Ed.2010.

Inilah fakta unik di balik rokok. Bahwa ternyata para penciptanya lebih visioner ketimbang para peneliti atau rohaniawan sekalipun. Dari segi bisnis, rokok ini memang luar biasa. Menjanjikan keuntungan yang fantastis. Tak dapat dielakkan lagi jika salah satu penyumbang devisa negara ini adalah dari bisnis kretek. Fantastis bukan?

Rokok dibenci juga dicintai. Dalam upayanya melawan keberadaan barang yang satu ini, pihak-pihak yang berada di balik perlawanan selalu bersenjatakan tiga argumen: fatwa haram, mengganggu kesehatan, dan kesejahteraan semu. Dua fakta pertama sering sekali kita perbincangkan, baik dalam forum nasional maupun dinamika lokal (KRETEK, 2010:vii). Dan itu masih saja menjadi polemik, terutama tentang benar tidaknya argumentasi tersebut.

Menarik untuk dicermati adalah pada argumentasi yang ketiga, yakni persoalan kesejahteraan semu. Tak dapat disangkal jika bisnis ini menjanjikan rezeki banyak kepala. Coba tengok kota-kota seperti Kudus, Kediri, dan Surabaya. Ketiga kota tersebutlah tempat berdirinya merek dagang rokok yang paling menguasai pasar saat ini. Ada Djarum, Gudang Garam, dan HM Sampoerna. Ketiga tempat hidup industri rokok itulah yang juga telah menjadi saksi hidupnya jutaan kepala masyarakatnya.

Dewasa ini, klaim atas kesejahteraan semu barangkali hanya dari hitung-hitugan statistik yang kayaknya logis (KRETEK, 2010:vii). Mereka—pihak yang mengklaim—tentu tidak memperhatikan sisi yang lebih dalam lagi, yakni soal subjeknya. Terdapat ribuan, bahkan jutaan, manusia yang bisa hidup dari industri ini. Artinya aspek kemanusiaan tentu harus diperhatikan pula. Jika ada argumen soal kesejahteraan semu, pertanyaannya adalah mana yang lebih semu antar industri ini dengan pemerintah di lain pihak. Karena penyelenggara kesejahteraan publik tentu menjadi tugas utama pemerintah bukan oleh korporasi.

Inilah satu titik dimana khalayak juga harus sadar dan membuka mata. Betapa ada satu benda yang begitu dipuja dan juga ditentang. Bahwa ada satu kenyataan tentang kemanusiaan yang wajib kita perhitungkan. Ladang rezeki memang bukan hanya dari sini. Tapi, inilah kenyataan jika bisnis ini menghidupi ribuan kepala ditengah pandangan sinis ribuan pasang mata. Bukan soal korporasi. Bukan pula soal penyebab impotensi. Tapi, ini adalah bagaimana kita menyikapi satu arti bahwa apa yang sekarang masyarakat butuhkan hanyalah soal nasi.

 

*Diinspirasi dari Majalah KRETEK, ed. 2010.