You’re My Everything

Posted on February 4, 2012

0



Pukul 03.00 dinihari perutku keroncongan. Detik ini juga kuputuskan untuk keluar mencari mangsa. Yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah bagaimana caranya menghentikan musik keroncong dalam perutku ini. Dengan seperti itu, dinginnya malam tak lagi kuhiraukan. Setan pun tak akan sanggup menghalangi niatku untuk melangkahkan kaki pagi ini untuk makan. Sekali lagi, makan!

Jalanan sunyi Jatinangor kusisir pagi ini. Tak kulihat satupun warung makan yang masih unjuk gigi. Maklum, ini sudah pagi. Kepagian malah. Tapi, karena rasa lapar ini sudah menguasai relung imajinasiku, aku tak pedulikan itu. Mencari dan terus menelusuri jalanan mencari keberadaan nasi. Terus terang langkahku gontai. Selain lapar, dingin yang begitu menggigit juga mempegaruhi langkahku ini.

Aku sampai pada batas gapura yang bertuliskan “Selamat Datang Di Kabupaten Bandung”. Tak terasa. Bermenit-menit aku berjalan dan kini aku sudah melewati daerahku. Aku melewati perbatasan Bandung. Luar biasa, sungguh pencapaian yang menjadi satu prestasiku berikutnya, yakni masih bisa berjalan cukup panjang ditengah lapar dan dingin berkecamuk. I’ll be strong, if i push my limit. Yeahhh!!

Finally, beberapa meter dari gapura perbatasan aku menemukan seekor gerobak bertuliskan “Nasi dan Mie Goreng”. Inilah pelampiasan nafsu makanku. Tak mau basa-basi dan tak berharap si Bapak penjual bilang “Habis A,” aku langsung saja memesannya. “1 Pak!” sambil kumengacungkan telunjukku. Aku pun dengan tidak sabar menunggu hadirnya seporsi nasi goreng spesial—karena rasa lapar yang sudah sangat mendera perut.

Sambil menunggu hadir pula dua orang yang kulihat bernasib sama denganku. Datang dengan tiba-tiba dan langsung memesan pesanan yang sama—karena memang itulah menu satu-satunya. Aku dan kedua orang itu tak saling bertegur sapa awalnya. Kami hanya saling diam dan harap-harap cemas. Menunggu Bapak Nasgor segera menyulap nasi putih menjadi nasi coklat dan menyajikannya dalam sebuah piring dengan taburan bawang dan irisan tomat serta mentimun.

Nasi goreng penantian pun hadir. Tak butuh waktu lama untukku melahapnya. Dalam hitungan ratusan detik piring kembali seperti semula, bersih tanpa sedikitpun butir nasi yang tersisa. Alhamdulillah. Sebab kini perutku sudah tidak mengalunkan irama keroncong lagi, dan kini tengah menyenandungkan musik rock, aku memulai obrolan basa-basi dengan kedua orang tadi.

Cepet amat makannya A?” aku memulai.

“Lapar Cuk,” satu orang yang terlihat agak kucel menjawab. Dengan santainya dia mengakhiri kalimatnya dengan Cuk. Aku paham betul dengan logatnya. Apalagi dengan akhiran Cuk yang tentu sudah tidak asing lagi di telingaku. Dia pasti orang Jawa Timur, tebakanku. Aku tak perlu melakukan riset mengenai asumsiku ini. Aku orang Jawa, jadi sudah pasti tahu dengan makna Cuk.

Aku pun tak mau melanjutkan obrolan dengan orang yang belakangan kuketahui bernama Bambang itu. Lalu aku mengalihkan obrolan pada orang kedua.

“Makan A,” tanyaku pada orang satunya.

“Iya A,” ia menjawab. Terlihat sopan dan ramah orang ini. Terlihat sangat paradoks dengan orang yang satunya tadi. Yang ini rapih, bersih, dan terpenting ia sopan. Belakangan kuketahui namanya adalah Dwi, orang Bandung.

Beberapa menit aku ngobrol dengannya kini saatnya merebahkan badan dikost-an. Dingin nampaknya telah merajai pagi dini hari ini. Sebentar lagi juga fajar keluar dari peraduannya. Dan ini saatnya aku harus segera bersembunyi di balik selimut mimpi. Aku kenyang. Selain itu, aku jadi belajar untuk sadar bahwa seorang penjual nasi goreng pun bisa menjadi penting disaat genting. Ia menjadi penolong disaat pagi bolong.

Terimakasih Pak Nasgor. You’re my everything😀

Posted in: Short Story