Di Batas Bening Jiwa

Posted on February 1, 2012

0



Sejatinya perbedaan itu memperindah. Jika kita saling sama, maka akan monoton. Kita tentu tidak mengingini itu. Kita ingin indah. Kita ingin bercorak. Aku sadar jika itu tak mudah. Tidak sulit, itu sebuah prahara saja yang sebentar juga padam.

Perdebatan yang kita lalui dan terkadang berlangsung sengit membuat kita sama-sama yakin untuk terus erat. Bukan ikatan jika tidak saling terkait. Inilah kita yang terikat keindahan. Seperti sebuah orkestra yang mengalunkan legato asmara. Ada petikan dawai cinta.

Hanya satu yang ada di semesta ini. Engkau tercipta untukku. Hanya satu yang bisa menyejukkan. Dan, itu engkau Juwitaku. Demi dimensi waktu yang ekspansional aku berjanji untuk tidak berkompromi dengan hati. Aku pasti terus melangkah menjemputmu. Engkau pun pasti akan menunggu untukku jua.

Juwitaku, engkaulah sebuah pahatan indah karya agung Sang Maha Penggoda. Meski letih dan kini aku masih merangkak, mari sini ku bantu engkau untuk melangkah menuju tangga kebahagiaan maknawi.

Kita yang kini bertengger di batas bening jiwa. Betapa hati kita sama-sama tergenang oleh air rindu. Semoga masih ada asa untuk bersama. Dikala kita sama-sama tua dan duduk di teras kedamaian dalam dekapan rasa cinta.

Posted in: Poem, Short Story