Pesan Dari Secangkir Kopi

Posted on January 31, 2012

0



Malam tadi migrainku kambuh. Aku telah lama mengidap rasa sakit kepala sebelah ini. Dan, sekali lagi rasa sakit ini menyergapku. Biasanya ia datang disaat aku banyak masalah, atau disaat ada hal yang aku pikirkan. Soal ini aku tahu sekali obatnya.

Belakangan persoalan negeri menumpuk sama seperti masalahku. Kian hari kian banyak masalah. Inilah hidup, yang barangkali dipenuhi dengan persoalan dan tantangan. Indonesia kaya dan memperkaya. Mungkin karena itu terjadi penjarahan. Somehow, i’m not really understand what the reason.

Orang pintar di negeri ini jumlahnya tidak sedikit. Mereka yang korup. Mereka yang bohong. Dan mereka yang menyikut adalah mereka orang-orang pintar. Dengan catatan kepintaran yang tanpa iman. Omongan Einstein saat itu terbukti. Iman tanpa ilmu itu dungu, dan ilmu tanpa iman adalah bencana. Inilah yang terjadi di negeri ini, kepintaran tanpa jiwa.

Kala penguasa itu buta. Rakyat pasti sengsara. Aku berpikir jika negeri ini indah tanpa politik. Dan, aku sangat yakin itu tanpa pengecualiaan sedikitpun. Perbenturan kepentingan menjadi senjata yang paling membunuh lebih dari bom nuklir. Bahkan aku yakin, jika dibolehkan memilih, orang-orang Hiroshima dan Nagasaki lebih bersyukur terbunuh oleh bom atom ketimbang orang Indonesia yang terbunuh oleh kerakusan penguasa.

Soal kerusuhan. Beberapa sudut tanah air menampakkan kekacauan. Berita di televisi menampilkan kebengisan rakyat kecil. Mereka melawan sebab terusik. Kegilaan yang berduit menyebabkan rakyat tersudut. Ending-nya adalah pasti carut marut. Aparat pun disuruh manut. Tentu oleh senjata yang paling mutahir, yakni duit.

Berikutnya adalah korporasi. Mereka yang berkuasa tunduk oleh materi. Inilah era kehebatan korporasi. Para penguasa menjadi kacung para pengusaha. Para aparat menjadi robot para korporat. Ini pasti urusan perut. Soal ini sangat wajar jika saling sikut. Tak peduli rakyat tetap melarat. Terpenting adalah bagaimana terpenuhi kebutuhan perut—dan bawah perut.

Media juga berlomba-lomba menyuguhi kita dengan berita-berita yang tak layak konsumsi. Kepentingannya cuma satu, yakni bagaimana mereka meraup materi dari yang diberitakan. Tak peduli rakyat teracuni. Secara tidak sadar media telah mengajari massa apa itu munafik. Rakyat kini belajar bagaimana melangsungkan kejahatan, meneruskan korupsi, melanggengkan kekerasan, melestarikan kebodohan. Aku sepenuhnya yakin jika media bertanggungjawab atas semua ini.

Terlalu banyak memikirkan negeri ini membuat migrainku tak kunjung pergi. Ia pasti datang seiring dengan kekesalan yang muncul. Aku kesal ia muncul. Untuk tidak berpikir itu tidak mungkin. Berpikir bukti eksistensiku. Berhenti berpikir berarti aku mati. Dan, selama masih ada secangkir kopi aku akan terus berpikir untuk menuliskan kekesalan. Secangkir kopi mengobati kekesalanku akan akan ibu pertiwi. Terpenting, ia mengusir seketika migrainku yang juga tak kalah menyebalkan.

Terimakasih untuk secangkir kopi.