Three “R” Society

Posted on January 29, 2012

2



Sejatinya telah banyak yang peduli akan persoalan sampah di negeri ini. Malahan sudah muncul beberapa industri kreatif yang concern mengolah bahan-bahan bekas, terutama kertas, untuk disulap menjadi barang bernilai seni tinggi. Sebut saja Arsanah di Penjaringan Jakarta Utara, Bardiju, Lumintu, Bank Sampah di Cipadung Bandung dan lain sebagainya yang terbukti jaminan mutu mampu memberikan nilai tambah (value added) pada sampah. Tentunya ini wajib alias kudu dan fardhu ditiru.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan bagaimana caranya mendaurulang sampah. Saya hanya akan berbagi tentang ide saya dalam menghimpun ide-ide besar tentang daur ulang yang sudah muncul terlebih dulu. Ide ini muncul seiring dengan semakin kreatifnya masyarakat Indonesia dalam menyulap sampah menjadi satu barang seni yang mahal, tapi masih bersifat individu. Dan, saya yakin kedepannya bakal lebih inovatif lagi anak bangsa dalam mengkreasikan sampah.

Saya beserta teman-teman aktivis lingkungan, mahasiswa, dan masyarakat lokal yang tergabung di LINGKAR (Lingkung Kreatif Jatinangor) juga tengah menggagas satu program cinta lingkungan, yakni MAUMU (MAri mUlai MendaurUlang). Melalui MAUMU diharapkan tercipta satu masyarakat daur ulang ’3R Society’. Sasarannya tidak muluk-muluk, yakni bagaimana agar tempat yang kita diami ini mampu menjadi kawasan asri yang nyaman untuk ditinggali.

Semangat seperti ini, menurut saya, perlu untuk ditularkan. Saya berharap pemerintah juga masih menaruh perhatiannya pada isu lingkungan tak hanya berhenti pada satu program ’1 Man 1 Tree’ saja. Tulisan ini semoga menjadi motor sekaligus corong kepada pemerintah untuk menjadi fasilitator serta koordinator dalam mengajak semua stakeholders seperti masyarakat, LSM, dan swasta untuk bekerjasama dan bermitra membentuk masyarakat daur ulang ’3R Society’ ini.

Tiba saatnya kita mulai menyayangi lingkungan dengan membawa kantong kertas sebagai bawaan wajib kita. Memungut sampah yang terlihat. Dan, berusaha me-reuse, me-recycle, me-reduce kertas-kertas yang sudah tidak terpakai. Saya yakin jika setiap dari kita sudah punya kesadaran diri akan lingkungan (social awareness), maka kita tidak lagi menyandang ikon produsen sampah lagi.