Kita dan Environmental Cost

Posted on January 27, 2012

0



Perhatikan fakta-fakta berikut ini :

  1. Dengan mengambil nilai minimal rata-rata tingkat pertumbuhan konsumsi dan produksi yakni 5% per tahun (sedangkan menurut World Resource Institute untuk Negara berkembang rata-rata sekitar 7% per tahun), maka diperoleh jumlah konsumsi kertas Indonesia di tahun 2006 adalah 5,96 juta ton.
  2. Dalam sebuah program Cleaning Day yang diadakan oleh sebuah perusahaan sumber energi di daerah bisnis Kuningan, Jakarta, terkumpul sampah kertas tak terpakai sebanyak 2 ton kertas, selama kurun waktu lima tahun menghuni gedung tersebut. Jumlah sampah yang dihasilkan, 30-40% merupakan sampah kertas.
  3. Konsumsi kertas di Indonesia terus meningkat satu kilogram (kg) per kapita tahun atau sekitar 220 ribu ton (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), 2003). Dengan itu, maka Indonesia membutuhkan pembangunan satu pabrik kertas baru setiap tahunnya menyusul lahapnya konsumsi kertas dalam negeri (Kapanlagi.com, 7-01-08).
  4. Kapasitas produksi kertas lainnya adalah kertas koran 750 ribu ton, kertas sackracft 0,4 juta ton, kertas bungkus 92 ribu ton, kertas sigaret 64 ribu ton, kertas tisu 312 ribu ton, dan kertas berharga 13,5 ribu ton.
  5. Data Rainforest Information Center menyebutkan sebanyak 10-17 pohon harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekira 7.000 eksemplar koran.
  6. Masih menurut Indonesian Pulp and Paper Association, sembilan puluh persen konsumsi kertas (tulis dan cetak) di Indonesia disuplai secara domestik dan dalam kurun waktu lima tahun (2000-2004).
  7. Laju deforestasi hutan Indonesia pada periode tahun 1985-1998 tidak kurang dari 1,6 juta hektar per tahun (Dephutbun, 2000).

Mencengangkan bukan? Itulah sedikit data dan fakta yang coba dihadirkan sebagai pembuka tulisan ini. Beberapa data tersebut di atas sudah cukup membuat bulu kuduk kita merinding dan tak henti-hentinya berdecak ’kagum’. Terang-terangan telah terjadi kerusakan sumber daya hutan Indonesia. Perusakan tersebut kian massif. Bukan siapa-siapa, tapi kita sendiri yang terlalu rakus dalam mengkonsumsi kertas.

Generasi muda seperti kita ini ikut berkontribusi loh. Wat? Apa buktinya kita berkontribusi terhadap kerusakan hutan? Gini, buktinya adalah setiap hari dari kita pasti tidak pernah lepas dari soal kertas. Semenjak SD, SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi kita masih disodori dengan kertas dan kertas. Makanya itu, soal sumber daya hayati itu juga persoalan kita. Sebuah persoalan yang wajib kaum muda selesaikan juga. Iya khan? Hehe.

Tak ubahnya dengan rayap, konsumsi pokok pelajar pun kertas pula. Terkadang jika dibayangkan konsumsi kita terhadap nasi hampir sama dengan konsumsi kertas. Tetapi, apakah ini seringkali kita anggap jadi persoalan? Tentunya tidak semua orang menganggap demikian. Padahal ketika kita menggunakan hasil hutan tanpa mau bertanggungjawab kita sama halnya dengan melakukan illegal loging. Ini hanya dari kertas, belum lagi dari sampah plastik lah, botol lah, kaleng lah, bla bla bla. Nah lo!

Lalu apa peran generasi muda jika sudah seperti itu?

Pernah dengar istilah environmental cost? EC atau biaya lingkungan itu adalah biaya tidak langsung terhadap dampak lingkungan yang berkaitan dengan pemakaian kertas seperti; rusaknya hutan dan isinya, polusi, sampah, pemanasan global, longsor, banjir, dan lain sebagainya. Deretan persoalan tersebut adalah suatu konsekuensi logis dari adanya penggunaan kertas yang semena-mena. Dan ini adalah murni tanggung jawab kita. Kita yang pakai kita pula yang bayar.

Menurut hemat saya, peran kita, baik tua muda, kaya miskin, cewek atau cowok, swasta atau negeri, gaul atau katro adalah ikut membayar ongkos lingkungan yang telah kita serap. Mengenai hal tersebut, saya jadi teringat akan pesan AA Gym tentang 3M, yakni mulai dari sekarang, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulai dari diri sendiri. Simpel tapi bermakna bukan? Hehe.