Kabar Dari Sahabat

Posted on January 23, 2012

3



Assalamualaikum..

Sabtu lalu, tanggal 21 Januari 2012 aku bertemu sahabat sekaligus saudara yang lama tak bersua. Sudah sekira 6 bulan lebih aku tak bersilaturahmi dengannya. Rasa rindu bertemu sahabat lama tentu sudah kunantikan. Dia lah Abid Ibnu Husein. Dia adalah sahabat, saudara, mentor, sekaligus inspirator dan motivator buatku—dan tentu buat banyak orang.

Tepat pukul 08.00 wib pagi aku bertemu dengannya di Cileunyi. Hari itu memang agenda kita, aku dan Abid, untuk melakukan outbond di Pangandaran, Ciamis Jawa Barat. PT Nusantara Citra yang bermarkas di Jalan Sumatera, Antapani Bandung mengontaknya untuk outbond. Aku dikontak Abid semenjak 3 hari sebelumnya. Waktu aku dikontak Abid, aku tidak terlampau bangga karena kita biasa bertanya kabar lewat SMS.

Entah kenapa juga Abid hanya mengajakku, bukan yang lain. Aku pikir sebelumnya dia telah mengajak yang lainnya juga, tapi ternyata hanya aku yang dia ajak. Hal ini masih menjadi misteri, setidaknya buatku. Waktu ketemu di Cileunyi dia berdua bersama temannya dari Jogjakarta, mahasiswa semester 5 UII Jogja, namanya Rauf. Inilah pertama kali aku bertemu Abid setelah sekian lama tak bersua. Rindu itu akhirnya terobati.

Jujur aku kaget. Inilah detik-detik yang begitu luar biasa. Jauh lebih mendebarkan dari saat-saat menjelang sidang S1-ku. Semua rasa bercampur jadi satu. Ada rasa senang, rindu, malu, dan kaget tentu. Bagaimana tidak. Abid yang sekarang berbeda, setidaknya terlihat dari fisiknya yang mengurus. Aku pikir beratnya turun 40% dari semula. Jika dulu aku prediksi beratnya 65-70 kg, kini aku rasa hanya kisaran 50-55 kg. Entah kenapa.

Abid pun kini tak mendengkur lagi ketika tidur. Dulu, seperti kita tahu, suara dengkurannya seperti suara seekor bajaj bahkan jenset yang memekakkan telinga. Tapi, kini desingan keras itu hilang. Dia tidur dengan lebih kalem dan cool. Tak ada lagi bising. Inilah satu hal yang hilang dan aku rindukan. Aku duga sebab seperempat berat badannya yang menyusut, suara itu raib. Terus terang aku kaget, sekali lagi.

Aku melangkahkan kaki ringan untuk menghampiri Abid. Aku bersalaman erat dengannya dan kita berpelukan. Jujur, saat itu aku terharu. Rasanya bak satu sekuadron pesawat tempur menabrakku. Luluh lantak seluruh tenaga yang kupunyai. Seorang yang telah meraibkan diri cukup lama akhirnya kutemui. Hanya aku dan Abid.

“Assalamualaikum..”
“Alaikumsalam..”
“Sehat Jaw,” Abid ternyata masih ingat dan masih mau memanggilku Jaw, Rokjaw, panggilan akrabnya kepadaku.
“Alhamdulillah sehat Bid,”
“Kumaha damang?”
“Alhamdulillah,”

Percakapan yang singkat namun bermakna dalam. Tak lama Abid lalu mengajakku ke dalam mobil ber-plat AD milik temannya yang saat itu jadi driver.

“Kenalin Jaw ieu Rauf baturan urang,”
“Edi,” aku memperkenalkan diri sambil menjabat tanggannya.
“Rauf..”

Kita pun langsung meluncur ke Pangandaran pagi itu. Dan, obrolan tetap berlanjut di dalam mobil.

Obrolan Tentang Kita
Momen ini kita isi dengan obrolan seputar Abid dan Aku. Kita berbincang seputar masing-masing. Soal aktivitas kini dan tentang mimpi kita kedepan. Abid kini bertempat di Jogja. Dia kini fokus berbisnis. Tidak spesifik dia menyebutkan, tapi sekilas aku tahu jika dia tengah bergelut di dunia moslem entrepreneur. Dia berbicara soal Syafaat Markom (syafaat marketing komunikasi) di Jogja. Dia juga sempat bilang bahwa kini dia tengah merintis kesatuan pengusaha muslim indonesia bersama rekan-rekannya di Jogja.

Jogja kini menjadi pelarian aktivitas dan mimpi Abid. Dia juga kini tengah aktif berkampanye program UTHB (Umat Terbaik Hidup Berkah). Aku tidak terlalu paham apa itu. Tapi, yang jelas itu salah satu program dalam upayanya menuju kesatuan pengusaha muslim Indonesia. Ia mengajariku, dan juga peserta pelatihan, tentang apa itu Fitrah.

“Fitrah itu asal katanya Fitarah, yang artinya mengembang, berkembang, dan menyebar. Inilah fitrah manusia. Kita wajib berkembang dan menyebar. Di akherat kelak, Tuhan akan bertanya kepada manusia; sudah melakukan apa saja anda di dunia? Anda sudah dibekali akal, hati, rasa, dan semuanya oleh-Ku, lalu apa yang telah Anda tinggalkan untuk dunia? Soekarno telah meninggalkan Indonesia dalam keadaan merdeka. Hatta meninggalkan koperasi, dan lain-lain. Sedangkan Anda apa?”

Begitulah Abid bercerita soal Fitrah. Dari hal tersebut, saya sangat paham jika dia kini memang tengah mengembangkan sayap dirinya untuk mengembang, berkembang, dan menyebar. Pelariannya bukan hanya karena sebab yang teman-teman sangka. Lebih dari itu, ada satu mimpi yang tengah diejawantahkan olehnya. Semoga kita dapat memahaminya.

Akan Kembali
Sebelum aku bertanya kapan dia akan kembali, terlebih dulu aku menyampaikan salam dari teman-teman terdekatnya.
“Bid ada salam dari anak-anak,”
“Heueuh…”  dia hanya berekspresi agak kaget tanpa kata-kata setelahnya.
“Kapan ke Nangor Bid?”
“Insyaallah Maret atau April Jaw,”

Itulah janjinya. Dia akan kembali pada dua bulan itu. Soal kebenarannya kita tunggu saja. Jika memang tidak kembali pada waktu yang dijanjikan semoga kita tetap mendoakannya. Tetap mengharap kesehatan untuknya.

Hari minggu malam aku berpisah dengannya. Kita bersalaman erat dan saling berpelukan. Seketika bulu kudukku merinding. Baru hanya 2 hari kita bertemu, dan sesaat berpisah. Entah kapan lagi bertemu.
“Sukses ya Jaw. Semoga ada waktu untuk bertemu lagi,” Kita berpelukan di depan para peserta pelatihan.

Dia memelukku erat. Sangat erat. Seperti tak ingin melepasnya. Baru kali ini aku merasakan pelukkan yang begitu luar biasa. Aku yakin inilah pelukan seorang kakak kepada adiknya.

Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Hanya haru dan merinding yang menyelimutiku saat itu.

Masih Sama
Abid, seorang sobat, kakak, mentor, inspiring men, sekaligus motivator buta banyak orang. Aku yakin jika kepergiannya hanya sementara, dan karena ada mimpi yang akan dia wujudkan menjadi kenyataan. Aku juga mengharap kepada yang merasa menjadi saudaranya agar juga yakin itu. Pada saatnya nanti dia akan kembali berjumpa dengan kita semua. Kita harus menghargai prinsip dan jalan hidup seseorang. Jika kita merasa menjadi bagian dari saudaranya, kita juga wajib memahaminya. Jangan hanya karena 1 cela dan kekurangan mengorbankan 1000 kebaikan yang telah dia lakukan. Mohon untuk dewasa dalam menyikapi ini, jika kita masih menganggap Abid sebagai saudara bagi kita.

Sekali lagi, tidak ada perubahan secuilpun dari Abid. Jika ada, itu hanya dari fisik, tapi tidak karakter dan perilaku. Abid masih tetap seperti yang dulu. Seorang yang periang, ceplas-ceplos, motivator, guru, taat beribadah, santun, kalem, dan kocak. Abid dulu dan sekarang adalah Abid Ibnu Husein.

Salam hangat untuk Abid dan untuk semua yang mencintainya. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan untuk kita semua.

Wassalam…

*jika Abid membaca tulisan ini mohon juga untuk dipahami jika teman-teman juga merindukanmu sangat.

Posted in: Short Story