Renungan Jumat Siang

Posted on January 20, 2012

0



“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermakna untuk sesama“ Muhammad SAW.

Ketika Kita Sama-sama Tua
Jika nanti kita tua, apa yang akan ditinggalkan untuk anak cucu kita nanti? Terlintaskah pertanyaan itu dalam pikiran Anda? Kita, manusia, pasti akan tua. Kita pun tentu mati nanti. Jika selama hidup kita tidak berbuat apa-apa, ketika nanti mati pun kita tidak menjadi apa-apa—selain hanya bangkai yang tertinggal. Dalam hal ini, macan lebih hebat dari manusia, karena ia mati menyisakan kulit belangnya yang tentu berharga.

Kebanyakan orang berpikir jika uang adalah segalanya. Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli dengan uang. Tapi, tak bisa dipungkiri, uang adalah salah satu sarana membelinya. Betapa luar biasanya uang sehingga manusia memang wajib untuk kaya dengan banyak harta. Bukankah lebih baik banyak harta sehingga kita bisa melakukan banyak hal yang bermakna untuk sesama? Inilah esensi hidup yang sebenarnya. Menjadi bermakna.

Soal harta adalah soal kerja. Uang datang dengan usaha, karya, dan kerja. Ia tidak datang begitu saja. Tuhan tidak mendatangkan rejekinya dari langit dengan cuma-cuma. Ia harus dijemput dengan doa, kriya, kerja, dan baik kepada sesama. Doa adalah sarana kita meminta kepada Sang Maha Penggoda. Kerja dan usaha adalah sarana menjemputnya. Dan, baik kepada sesama adalah jembatan manusia untuk ke surga—selain juga agar harta yang kita punya menjadi berkah.

Berbagi tak pernah rugi. Dengan berbagi apa yang kita punyai dapat menjadi berarti. Segala yang tak terbagi akan raib sia-sia. Harta tidak bermakna jika tak dinikmati sesama. Semua berasal dari Tuhan dan kembali kepada-Nya. Tuhan yang membagikan rizki. Dengan berbagi, maka rizki akan datang menghampiri. Nikmatilah hidup dengan cara berbagi. Selagi masih ada napas, berarti masih ada kesempatan untuk bermakna. Jangan tunggu sampai tua untuk menjadi bermakna bagi sesama.

Posted in: Contemplation