Pendakian Gn. Sumbing-Sundoro (Ending)

Posted on January 15, 2012

0



Hari Ke-4

Sinar matahari terasa menyengat dan membuatku serasa berada di dalam oven. Tendaku berubah menjadi oven yang siap memanggang semua yang ada di dalamnya. Aku terbangun dan tersadar bahwa saat itu hari sudah tidak pagi lagi. Aku melihat Dwiko sudah terbangun dari tidurnya dan membuat minuman hangat. Jurum jam telah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Aku sesaat keluar dan melihat sekelilingku. Sesuai prediksiku, puncak hanya tinggal beberapa meter ke atas. “Ayo siap-siap Ed,” ajak Dwiko, “sebentar lagi kita akan ke puncak”. Aku pun sudah tidak sabar lagi untuk menggapai puncak Sundoro.Letupan semangatku begitu kencang ketika aku mengetahui bahwa puncak hanya tinggal selangkah lagi. Aku begitu berapi-api saat itu. “Ayo!” kataku dengan lantang.

Perjalanan ke puncak terasa sangat ringan. Beban berat yang dibawa kita tinggal di camp. Hanya sebotol air dan dua kamera digital yang kita bawa ke puncak. Sesaat kemudian, badanku terasa sangat ringan dan napasku terasa sangat lega, tidak ada daerah yang lebh tinggi lagi. Inilah puncak Sundoro yang kemarin kulihat dari bawah. Aku pun berucap syukur—seperti kebiasaanku—atas keberhasilan hari itu. Terlihat deretan gunung-gunung yang nampak berada di atas awan. Puncak-puncak gunung Jawa Tengah terlihat begitu kecil dan mungil. Tanpa berlama-lama, Dwiko langsung mengambil kamera dan beberapa jepretan pun berhasil dilakukan.

Kita berkeliling di sepanjang puncak yang anggun itu. Terlihat jurang yang cukup dalam bekas kawah gunung yang sudah tidak aktif lagi. Kita pun mencoba turun ke bawah dan mengambil beberapa foto. Sesaat setelah itu, aku berada di tengah-tengah lekukan ngarai yang berbatu-batu. Sundoro adalah gunung mati—bukan gunung aktif, dan telah meninggalkan bekas kawah yang sanagt luas dan sungguh menawan. Untuk yang kesekian kalinya, mataku benar-benar disandera oleh keelokan pemandangan pagi itu. Aku dibuatnya terpesona, dan aku hanya bisa bersyukur atas semua ciptaan Tuhan itu. Setiap detail menampakkan keindahannya masing-masing.

Beberapa jam di Puncak membuat kita kerasan dan malas untuk kembali turun. Inilah sindrom yang biasanya menjangkiti para pendaki ketika berada di puncak. Mereka merasa nyaman dan asyik berada di puncak dan enggan untuk turun. Namun, kita harus turun mengingat matahari hampir berada tepat di atas ubun-ubun. Hanya beberapa menit perjalanan turun dari puncak menuju camp kita. Kemudian, makan dan packing adalah kegiatan kita selanjutnya. Butuh waktu sekira satu jam untuk menyelesaikan kedua kegiatan tersebut. Setelah semuanya rapih, kita pun mengucapkan salam perpisahan dengan Sundoro. Haru langsung menyelimuti perasaan kita, dan sejenak kita pun beranjak turun. Perjalanan turun yang menjemukan dan membosankan akan kembali kita lalui. Langkah demi langkah kita lewati denga semangat yang berbeda.

Perjalanan turun memakan waktu sekira lima sampai enam jam, setengah perjalanan lebih cepat dari saat kita naik. Kita pun akhirnya sampai di base camp bawah setelah melewati perjalanan yang monoton, sekira pukul 16.00 WIB. Kakiku kembali terasa nyeri dan menyiksa setiap langkah. Aku hanya mengobatinya dengan segelas kopi hitam dan sebatang rokok. Keduanya cukup dapat mengobati rasa lelahku hari itu. Akhirnya tuntas sudah ‘Ekspedisi Triple S’ku. Hanya dalam waktu tiga hari kita berhasil menggapai dua puncak gunung di atas ketinggian 3.000 MDPL. Menurutku, inilah salah satu capaian yang luar biasa dan salah satu ekspedisiku yang cukup berhasil.

Wonosobo-Temanggung, Jawa Tengah, 02/08/2008.

Posted in: Expedition