Pendakian Gn. Sumbing-Sundoro (Part. 4)

Posted on January 14, 2012

0



Hari Ke-2 (Sundoro)

Pendakian hari pertama ke Gunung Sumbing membuat kita kelelahan—dan bagiku juga sangat menyiksa. Pendakian panjang yang hanya kita tempuh dalam waktu kurang dari satu hari. Namun, istirahat selama kurang lebih 12 jam setelah pendakian membuat badan terasa lebih fit dan segar kembali. Apalagi melihat pemandangan Gunung Sundoro dari kejauhan yang begitu menawan. Pemandangan alam yang seakan terus menggoda dan memaksaku untuk menjumpainya sesegera mungkin. Melanjutkan ekspedisi yang telah kita rencanakan, Ekspedisi Sundoro-Sumbing.

Beranjak siang hari dari base camp Gunung Sumbing, kita langsung menuju Gunung Sundoro yang terletak di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Jarak antara keduanya pun tidak terlalu jauh hanya sekira 3 KM. Namun, bagiku terasa sangat jauh karena beban berat yang dibawa dan siang hari yang sangat panas. Kakiku terasa berat untuk kulangkahkan, nyeri otot masih menyertai kakiku dalam perjalanan tersebut. Setengah putus asa, akhirnya datanglah sang penolong. Sebuah mobil pick up melintas dan tanpa pikir panjang lagi kita langsung menghentikannya. “Mas boleh ikut menumpang sampai depan?” tanya Dwiko, “ke Kledung—nama desa di kaki Gunung Sundoro”. “Oh boleh Mas, naik saja.” Jawab sang supir dengan tersenyum.

Mobil pick up berhenti tepat di gerbang desa Kledung. “Di sini Mas,” kata sang supir sembari menunjuk ke arah sebuah plang pendakian Gunung Sundoro, “ikuti petunjuk itu saja”. “Terimakasih Mas,” serempak kita menjawab. Perjalanan pun kita lanjutkan dengan mengikuti petunjuk jalan yang ada. Ternyata jarak ke base camp tidak terlalu jauh berbeda dengan perjalanan menuju base camp Sumbing. Hanya dalam beberapa menit pun kita telah sampai di rumah salah satu warga yang dijadikan base camp pendakian. Terdapat papan yang tertempel di dinding bertuliskan “Base Camp Pendakian Gunung Sundoro”, dan kita pun yakin itulah tempat yang kita tuju.

Setelah bertegur sapa dengan penjaga base camp sejenak kita beristirahat. Kita mempersiapkan dan melengkapi perlengkapan yang masih kurang, seperti bahan-bahan makanan. Kemudian, setelah semuanya lengkap kita melakukan registrasi dan perijinan untuk pendakian. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menjajal track Sundoro. Rasa penasaran selalu membayangiku setiap sesaat sebelum pendakian. Apalagi gunung ini terlihat lebih menantang jika kulihat dari bawah, dengan tingkat kecuraman yang lebih jika dibandingkan dengan Sumbing. Namun, itu hanya prediksi awalku saja. Sesaat kemudian, kita pun selesai registrasi dan siap untuk mendaki.

Sesaat setelah adzan Ashar berkumandang kita pun memulai pendakian. Sore telah menjelang dan udara saat itu terasa begitu dingin, menusuk melalui pori-poriku. Kita melalui jalanan panjang menanjak pada awal perjalanan. Ladang penduduk yang panjang terlihat tanpa ujung tersebut membuatku semakin jemu. Jalanan yang sangat monoton dan tidak jauh berbeda dengan jalur Sumbing. Terik matahari sore sesaat menghapus hawa dingin yang sebelumnya menyelimuti sekitar gunung. Panas kembali terasa, dan siang pun seakan kembali datang setelah sore. Teriknya memaksa keringat untuk keluar dari tubuh kita.

Satu jam telah berlalu dan kita pun sampai di Pos 1, pos perbatasan antara jalur hutan dengan ladang penduduk. Sejenak saja kita beristirahat, kemudian perjalanan kembali dilanjutkan. Perjalanan yang menurutku terasa lebih nyaman dibandingkan dengan satu jam sebelumnya. Perjalanan yang juga tertolong oleh tingginya pepohonan dan mulai meredupnya mentari. Aku mulai menemukan kenyamanan dan semangat yang luar biasa untuk segera menggapai puncak. Suasana sore itu menjadi suplemen yang kembali mengganti ion-ion semangatku yang telah terbuang. Mengisi kembali kekosongan rasa-rasa positif dalam diriku.

Berbeda denganku, Dwiko terlihat lebih lelah. Banyaknya keringat yang ia keluarkan dua kali lebih banyak dari yang kukeluarkan. Sesekali ia memintaku yang berjalan di depan untuk beristirahat. Menurutku hal tersebut wajar dengan melihat beban yang Dwiko bawa. Ia membawa dua tas yang diletakkan di depan dan belakang. Satu tas cariel dan satu lagi tas daypack dengan beban tiga kali lebih berat daripada beban yang kubawa. Itulah gaya dia. Beberapa kali mendaki dengannya, ia selalu membawa beban yang seperti itu. Dan, penderitaan yang sama pula dengan pendakian-pendakian lain baginya. Aku sendiri paham bahwa setiap orang memiliki gaya masing-masing dalam mendaki gunung.

Adzan Maghrib berkumandang sesaat kita sampai di Pos 2. Jarak yang tidak terlalu jauh dari Pos 1, hanya sekira setengah jam. Kita beristirahat hanya beberapa menit pada setiap pos yang kita lewati. Hal tersebut untuk menghindari kakunya otot-otot kaki dan sergapan udara dingin jika beristirahat terlalu lama. Sadar akan hal itu, kita segera melanjutkan perjalanan. Gelapnya malam telah meyergap sehingga untuk menerangi perjalanan kita menggunakan senter. Perjalanan yang semakin menantang bagiku karena jalanan semakin terjal dan sesekali kita menemui tanjakan vertikal yang licin. Tantangan tersendiri bagiku dengan jalur yang seperti itu.

Sekira satu jam setengah dari Pos 2 kita sampai di Pos 3. Kali ini, tidak ada bangunan yang berdiri yang ada hanyalah dataran (shelter) yang cukup luas. Kita beristirahat cukup lama di Pos 3. Pemandangan yang dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu perkotaan (city light) dan taburan cahaya bintang menyita perhatian kita. Kita hanya duduk termenung memaksimalkan pandangan, dan saling diam. Kita tidak saling berbicara, walaupun sesekali bertatap muka. Aku merasa dalam suasana yang romantis saat itu berbicara bukan perbuatan yang tepat. Hal tersebut malah akan mengurangi keromantisan saja. Suasana seperti itu adalah saat-saat di mana hanya ada Aku, Tuhan, dan Alam. Itulah caraku menikmati malam itu.

Terus terang aku belum puas dalam menikmati malam itu ketika Dwiko mengajakku untuk melanjutkan perjalanan. Namun, aku pun tidak bisa untuk egois terhadap aku sendiri dan kawanku. Aku sadar bahwa ada tujuan yang lebih penting dan misi yang harus diselesaikan. Perjalanan pun dilanjutkan kembali setelah melihat beberapa pertimbangan tersebut. Segera aku melangkahkan kakiku dengan semangat yang kuat dan keyakinan bahwa di depan akan ada sesuatu yang lebih menarik dan lebih romantis lagi. Dwiko sedikit lebih kuat dan bersemangat, mungkin karena tertolong oleh suasana saat itu. Ternyata, suasana yang ada yang diisi oleh komponen-komponen alam memiliki daya sembuh yang luar biasa. Mampu mensugesti otak dan membawanya ke dalam kenyamanan.

Aku menghentikan langkah kakiku setelah Dwiko memintaku untuk beristirahat dan bermalam. “Kita bermalam saja di sini Ed,” pinta Dwiko dengan napas yang masih terengah-engah, “kondisiku sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan”. Melihatnya seperti itu, aku pun bergegas untuk mencari tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, “OK, aku survei shelter dulu”. Sebenarnya saat itu hanya tinggal satu pos lagi, yaitu Pos Puncak. Namun, melihat kondisi tubuh saat itu akhirnya kita pun harus beristirahat di salah satu shelter menjelang puncak. Setelah menemukan posisi yang tepat, kita langsung mendirikan tenda dan sesegera mungkin memasak.

Jarum jam menunjukan pukul 23.00 WIB sesaat setelah kita selesai memasang tenda. Sudah cukup malam untuk melanjutkan perjalanan dan telat untuk makan malam. Aku segera memasak dan kita pun langsung makan malam. Kemudian dilanjutkan dengan sholat dan beristirahat. “Hmm..hari yang panjang dan melelahkan,” kataku lirih. “Aku tidak menyangka bakal sejauh ini,” saut Dwiko, “padahal puncak sudah terlihat dekat dari Pos 2”. “Aku yakin puncak tidak jauh dari sini,” kataku berusaha meyakinkan. “Ya, tapi fisikku sudah sangat lelah,” katanya lirih, “dan sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan lagi”. Kita pun berbincang sejenak sebagai penghantar tidur malam itu.

bersambung…

Posted in: Expedition