Pendakian Gn. Sumbing-Sundoro (Part. 3)

Posted on January 13, 2012

0



Pendakian Menuju Puncak

Pendakian dimulai pada pukul 07.30 WIB pagi, setelah selesai melakukan registrasi dan perijinan di base camp setempat. Dengan hanya membayar kurang dari Rp. 10.000,- kita mendapatkan fasilitas yang begitu banyak. Mulai dari fasilitas air bersih, tempat beristirahat, sampai dengan peta pendakian Gunung Sumbing. Begitu murah mengingat fasilitas yang diberikan. Mengenai jalur pendakian, terdapat dua jalur yang dapat ditempuh untuk mendaki Sumbing, yaitu jalur baru dan jalur lama. Saat itu jalur yang dapat digunakan adalah jalur lama, karena jalur baru sedang mengalami perbaikan. Kita pun memakai jalur lama sebagai jalur pendakian.

Beberapa meter perjalanan awal kita langsung disambut dengan jalanan yang panjang dan menanjak. Jalanan yang kering dan berdebu membuatku cepat merasa bosan dan kesal. Namun, aku sedikit terhibur dengan pemandangan pagi yang begitu menawan. Terlihat Gunung Sundoro dengan warnanya yang coklat dari kejauhan, menemani perjalanan kita dari belakang. Ladang tembakau yang menghampar hijau membuat mataku sedikit nyaman di tengah serbuan debu-debu yang berterbangan. Debu-debu itu terus saja menemani sepanjang perjalanan kita. Membuat paru-paruku terasa sesak dipenuhi olehnya.

Seringnya kita beristirahat membuat perjalanan terasa sangat panjang dan melelahkan. Kondisi jalur yang seperti itu memaksa kita untuk sering beristirahat, minum dan mengambil nafas panjang. Sekira tiga jam awal kita melewati ladang tembakau penduduk. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan jalur hutan yang sama keringnya. Kondisi hutan yang gundul dan gersang membuat perjalanan terasa sama dengan sebelumnya. Hutan Gunung Sumbing sangat parah kondisinya, tidak ada peremajaan dari gundulnya hutan tersebut. Suatu keadaan yang sangat parah yang dapat menyebabkan kerusakan ekosistem.

Keringat yang mengucur begitu deras dari tubuh kita membuat pakaian menjadi basah kuyup. Tidak ada tempat berlindung dari ganasnya terik matahari. Otakku terasa mendidih berada langsung di bawah sinar matahari, tanpa suatu pelindung sedikit pun. Aku melihat Dwiko yang kondisinya lebih parah dariku. Keringatnya seperti hujan yang sangat deras, mengucur terus dari wajahnya. Pakaiannya basah disiram oleh keringat, sehingga seperti terlihat tidak ada yang kering darinya. “Wah, gila…” keluhnya, “panasnya sungguh luar biasa”. Terus terang, aku pun belum pernah merasakan panas yang seperti itu, “Iya…” sautku, “baru kali ini aku merasakan panas yang luar biasa seperti ini”.

Saat itu, air menjadi sesuatu yang sangat berharga dan lebih berharga dari apapun yang ada. Air menjadi pelampiasan semua yang kurasakan. Aku merasa sangat tenang dan nyaman ketika aliran air membasahi mulutku dan melewati sepanjang tenggorokanku. Sejenak aku merasakan hadirnya kabut yang membawa uap air. Terasa sejuk hembusannya ketika menabrakku dan merasuk ke dalam pori-pori kulitku. Hanya beberapa menit, dan setelah itu hilang. Sekali lagi panas hadir sebagai ketidaknyamanan dalam perjalanan kita.

Beberapa pos kita lalui tanpa ada kesan yang istimewa. Hanya sebuah papan atau tulisan yang menerangkan adanya pos yang masih menggantung, tanpa ada suatu bangunan atau tempat untuk berteduh. Kita saling bergantian membuka peta pendakian dan melihatnya, dan terus bertanya kapan semuanya berakhir. Aku terus menebak-nebak dalam hatiku tentang keberadaan pos-pos yang menuju ke puncak. Namun, seketika itu perasaan kecewa langsung menyergapku. Pos yang kutunggu-tunggu yang aku lihat di peta tak kunjung sampai. “Perjalanan masih sangat panjang dan berliku,” kataku lirih sembari menghela napas panjang.

Sampai pada akhirnya kita pun sampai di Pos Watu Kotak, sebuah pos tanpa adanya bangunan dan hanya ada batu kotak berukuran sangat besar. Sebuah batu sebesar peti kemas yang berdiri angkuh di atas ketinggian lebih dari 2.000 MDPL. Kita memutuskan untuk beristirahat dan makan. Saat itu jarum jam menunjukan pukul 16.00 WIB, dan kita baru akan memulai memasak dan makan siang. Kita mengeluarkan perlengkapan dan bahan-bahan untuk memasak. Aku bertindak sebagai koki hari itu. Aku memasak sayur, menggoreng tempe, dan membuat sambal. Kemudian, setelah proses memasak selesai, kita pun langsung makan.

Perut kita nampak sama, sama-sama tidak bisa lebih lama lagi menahan rasa lapar yang datang. “Ayo kita segera makan,” ajakku, “sebelum terlalu sore”. Tanpa basa-basi Dwiko pun menyantap makanan yang telah tersedia. “Wah, enak sekali,” katanya sambil melihatku, “makanan terenak yang pernah aku makan di gunung”. Aku begitu terharu mendengar ucapannya itu. Udara sore yang begitu terasa dingin mengganggu konsentrasi makan kita. Namun, karena sudah sangat lapar kita pun sedikit mengacuhkan udara dingin yang menyapa—meskipun sesekali badanku terasa seperti fibrator, bergetar kencang tidak terkontrol.

Selesai makan, matahari sore langsung menyambut kita. Lautan awan terlihat menghampar sampai batas cakrawala. Matahari senja membuat semuanya nampak berwarna orange. Sinar senja melukis sore itu dengan siluetnya. Nampak dari kejauhan Gunung Sundoro dan Gunung Slamet yang terlihat kecil berada di atas lautan awan. Tanpa ragu dan tak ingin kehilangan momen, Dwiko langsung mengambil kamera digital dan handycam dari dalam tasnya. “Ayo Ed, kita foto-foto,” ajaknya sambil menenteng kamera di tangannya, “indah sekali lautan awannya”. Aku pun langsung berlari mencari posisi yang strategis. Beberapa jepretan berhasil kita lakukan, dan hasilnya pun sungguh sangat indah dan eksotik. Sun set yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Kita segera bersiap-siap kembali. Puncak hanya tinggal beberapa meter lagi dari Pos Watu Kotak—yang merupakan pos terakhir sebelum puncak. Kita hanya membawa kamera, sebotol air, dan tas kecil menuju puncak. Barang-barang yang lainnya kita tinggalkan di Pos tersebut. Sekira 200 Meter menuju puncak, jalanan berbatu siap menghadang. Dwiko masih tampak sibuk dengan kameranya, beberapa jepretan masih sempat ia lakukan sembari berjalan menuju ke puncak. Aku menyuruhnya untuk berjalan lebih cepat karena hari sudah mulai gelap. Beban berat yang kita tinggalkan ternyata memberikan pertolongan yang berarti saat menuju puncak.

Waktu telah menunjukan pukul 18.00 WIB. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib dari kejauhan. Sesaat kemudian aku merasakan tubuhku terasa sangat ringan seperti melayang. Aku dapat merasakan sekelilingku, ternyata sudah tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi. Itulah Puncak Buntu, puncak tertinggi Gunung Sumbing. “Alhamdulillah…” serentak kita berkata, “akhirnya sampai juga,” sambung Dwiko. Beberapa saat aku melihat ke bawah yang merupakan bekas kawah yang telah mongering. Mataku tidak begitu jelas melihatnya, karena hari sudah mulai gelap. Namun, aku dapat merasakan keindahan tempat tersebut.

Sekira setengah jam kita menghabiskan waktu di puncak. Menghabiskan sore itu dengan sejenak renungan tentang keindahan setiap detail ciptahan Tuhan. Hanya beberapa saat sebelum sang surya benar-benar menutup matanya dan meneggelamkan dirinya dalam kegelapan malam. Seluruh rasa berkumpul dan bersatu padu dalam diriku, mencoba memberikan atensi terhadap situasi yang ada. Rasa syukur, romantis, sakral, haru, suka, dan harap bercampur menjadi satu. Aku berterima kasih dengan segala kerendahan hati atas seluruh rasa yang telah Tuhan anugerahkan kepadaku saat itu.

Aku kembali diingatkan oleh Dwiko untuk segera turun. Setengah jam yang tak terasa bagiku. Aku belum puas merenggut kenikmatan dari seluruh keindahan puncak Sumbing. Lebih dari 10 jam mendaki dan hanya setengah jam di puncak. Namun, aku sadar bahwa hari sudah sangat gelap. Kita pun sesegera mungkin turun dari puncak, dan beberapa menit kemudian sampailah kita di Pos Watu Kotak. Sejenak berada di tempat itu untuk membawa barang-barang yang ditinggalkan saat menuju ke puncak. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kita segera menuruni lereng dengan sangat hati-hati mengingat jalanan yang licin dan berbatu.

Perjalanan turun merupakan sesuatu hal yang membosankan bagiku. Karena pada saat-saat seperti itu, kesabaranku kembali diuji. Aku harus sabar dengan manjanya kakiku. Aku harus berjalan tertatih-tatih selangkah demi selanglah menuruni gunung, dengan kondisi kaki yang mengalami cidera otot. Aku sangat tersiksa dengan kondisi saat itu. Langkahku sangat pelan dan aku harus berhati-hati. Apalagi dengan jalanan licin berbatu dan berdebu dengan kemiringan yang cukup curam membuatku harus selalu waspada dalam melangkah. “Pelan saja,” pintaku kepada Dwiko, “jangan terlalu cepat”. Dwiko pun tahu kelemahanku itu, dan berusaha berjalan sesuai dengan ritme jalanku.

Sesekali kita berhenti untuk minum dan beristirahat. Namun, semakin lama akuberistirahat semakin sakit pula kakiku. Serasa otot-ototku tertarik setiap kali beristirahat lama. Aku pun berpikir semakin banyak beristirahat, semakin lama pula kita sampai di bawah, dan tentunya hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Tersadar akan hal tersebut, aku langsung melanjutkan perjalanan lagi. Aku memaksakan langkahku saat itu. Salep yang aku oleskan di sekitar lututku juga tidak memberikan pengaruh yang berarti. Aku tetap saja berjalan sambil meringis kesakitan menahan derita di kakiku sepanjang perjalanan turun.

Perjalanan yang terasa sangat panjang dan menyiksa bagiku itu akhirnya tuntas sudah. Jarum jam menunjukan pukul 24.00 WIB saat kita sampai di base camp. Aku langsung meletakkan tas carielku dan membuka sepatuku. Aku merasa pada kondisi yang cukup nyaman saat itu. Selesai sudah penderitaan kakiku—setidaknya untuk hari itu.

bersambung…

Posted in: Expedition