Pendakian Gn. Lawu 3.265 MDPL (Part. 4)

Posted on January 7, 2012

0



Hari Ke-3

Perjalanan Turun

Aku merasakan kenyamanan dan keromantisan berada di puncak Lawu saat itu. Udara dingin yang menyeruak, kabut tipis yang menyelimutiku, dan rintik gerimis yang perlahan datang membuatku kerasan. Belum lagi dengan candaan dan gurauan dari kawan-kawanku. Kami bercengkrama dengan alam yang cukup bersahabat saat itu. Esok paginya pun kami masih disambut dengan keeksotikan alam Lawu yang sungguh menawan. Matahari terbit (sun rise) di tengah dinginnya udara pagi lagi-lagi menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Namun, hal tersebut menjadi sedikit ternodai, paling tidak untukku, ketika kutahu bahwa beberapa meter dari puncak terdapat warung makan.

Kealamian sebuah gunung akan hilang manakala di dalamnya terlalu banyak campur tangan manusia. Seperti kebanyakan gunung di pulau Jawa sekarang, Lawu pun sudah nampak tercemar. Gunung yang satu ini barangkali menjadi salah satu gunung yang paling sudah tidak alami lagi. Adanya warung makan dan beberapa warung yang menjual minuman dan makanan ringan membuat Lawu juah dari kesan alamiah (natural). Apalagi, dengan banyaknya coretan pada batu-batu dan pepohonan yang sangat banyak hampir di setiap mata memandang. Kesan modern, kotor, dan kumuh kurasakan sekali di gunung tersebut. Dan bukan lagi suasana alami, asri, dan bersih.

Gunung Lawu telah menjadi gunung wisata. Barangkali hal itulah yang melatarbelakangi dimodivikasinya gunung tersebut. Sudah tersedianya beberapa fasilitas wisata seperti warung, toilet, dan beberapa fasilitas yang lainnya membuat mendaki Lawu bukan lagi mendaki gunung semestinya, melainkan mendaki yang hanya sekadar refreshing dan berwisata ria. Tantangan telah berkurang dan karakteristiknya menjadi hilang sama sekali sebagai gunung alami. Aku sendiri merasakan hal yang biasa saja setelah kutahu bahwa beberapa meter di bawah puncak semuanya ada dan tersedia. Aku berpikir bahwa untuk apa membawa bekal yang banyak, toh di sana semuanya telah tersedia. Makan tinggal pesan. Ingin minum pun tinggal pesan air mineral ataupun minuman ringan yang dijual bebas di sana.

Sungguh perjalanan yang aneh kurasa. Aku tidak mencela perjalanan kali itu. Aku pun tidak mencaci Lawu sebagai gunung yang jelek. Aku hanya sedikit kecewa dengan dimodivikasinya gunung tersebut, apalgi jika tujuannya adalah untuk komersiil. Inilah mungkin sebuah contoh komersialisasi alam, bahwa alam pun dapat dijual. Kealamian dan keeksotikan alam yang telah dijual dengan sangat murah dan sangat tidak pantas dilakukan. Lagi-lagi manusia menjadi aktor dan kontributor utama kerusakan alam. Aku tidak tahu ketika nanti alam pun akan meminta pertanggungjawaban manusia akan hal tersebut. Alam tak segan-segan meminta korban jika ia sudah disakiti terus-menerus tanpa ampun. Dan alam tidak pernah bertoleransi.

Perjalanan turun yang sedianya melalui jalur yang sama—jalur Cemoro Kandang—akhirnya harus dialihkan ke jalur Cemoro Sewu. Ingin ganti suasana. Itulah alasan utamanya kami berlaih jalur untuk turun. Aku sendiri tidak begitu merasakan sesuatu yang spesial ketika turun. Malah aku merasa lebih membosankan saat turun. Jalur Cemoro Sewu dengan jalur anak tangga yang dibuat dari pecahan batu membuat hari itu terasa sangat monoton. Perjalanan turun yang sedikit curam memaksa kami harus berhati-hati dalam menuruni anak tangga. Sesekali kami pun beristirahat di pos-pos yang tampak rapih jauh dari kesan alami. Dan, setelah melewati perjalanan panjang nan melelahkan, akhirnya kami pun sampai di base camp bawah pendakian Gunung Lawu. Alangkah indahnya perjalanan kali itu, karena sejuta pengalaman dan persaudaraan baru kutemukan dalam waktu beberapa hari.

 

Gn. Lawu-Karanganyar Jateng, 18-20 Oktober 2007.

Posted in: Expedition