Pendakian Gn. Lawu 3.265 MDPL (Part. 3)

Posted on January 6, 2012

1



Hari Ke-2

Hembusan udara pagi yang sangat dingin membangunkan tidur kami. Hari pun masih remang-remang. Kami segera beranjak untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Dengan badan yang bergetar kedinginan aku pun melaksanakan sholat berjamaah dengan yang lainnya. Selesai sholat, aktivitas pun dilanjutkan. Aku berinisiatif membuat teh hangat yang kurasa sangat cocok waktu itu. Hawa dingin pagi itu seakan hilang sesaat setelah aku meminum teh hangat. Apalagi ditambah dengan beberapa batang rokok yang aku hisap, menambah keramahan pagi itu. Aku merasakan kemesraan yang begitu dalam. Suasana yang hadir saat itu layaknya seorang wanita cantik yang melenggak-lenggok di depanku. Ia terus menggodaku, dan sesaat aku pun larut dalam buaiannya. Entah kenapa aku merasa romantis di saat-saat yang seperti itu.

Setelah sempat terbius oleh suasana, aku kembali tersadar. “Ayo kita packing”, ajak Farhan, “kita akan melanjutkan perjalanan”. Beberapa menit kemudian kami telah siap dengan barang bawaan masing-masing, dan siap melanjutkan pendakian. Beberapa pos masih harus kami lalui dan perjalanan masih sangat panjang. Hari pun seakan cepat berjalan. Pagi yang dingin telah berganti menjadi siang yang panas. Pos 2 dan Pos 3 pun tak terasa telah kami lalui, tidak ada yang spesial darinya. Hanya bagunan yang kondisinya lebih memprihatinkan dari Pos 1. Sesekali kami beristirahat dan minum, untuk kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Hari yang sangat melelahkan dan terasa panjang bagiku.

Hingga akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang sangat indah dan dipenuhi dengan rumput-rumput yang telah menguning. Sebuah dataran yang sangat luas dan terbuka. Kabut tipis menyelimutinya dan menambah keeksotisan tempat itu. Terdapat bangunan yang hampir roboh. Beberapa atap masih bergelayutan di atas puing-puing bangunan. Dengan lantai yang terbuat dari bungkus-bungkus makanan instan para pendaki, kotor dan jorok. Kondisinya sangat memprihatinkan. Dua sisi pemandangan yang sangat berbeda. Satu nampak terawat oleh alam dan yang lain terawat oleh tangan kotor manusia. Sebuah papan yang sudah nampak rusak terpampang di puing-puing bangunan itu dengan bertuliskan ‘Cokro Suryo’. Itulah Pos 4 yang aku ingat.

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah beristirahat cukup lama di Pos 4. Aku merasa bahwa perjalanan hanya tinggal beberapa menit lagi. Puncak sudah dekat karena sudah tidak terlihat pepohonan yang tinggi, hanya rerumputan dan jalanan berbatu. Aku pun begitu yakin akan hal itu. Benar saja, perjalanan memang sudah dekat. Beberapa meter dari Pos 4, kami segera melewati daerah yang disebut Hargo Dalem, daerah dekat puncak yang semuanya tersedia. Dan, tak juah dari tempat itu puncak sudah dapat dilihat. Kami hanya menghabiskan sekira dua jam perjalanan dari Pos 4 menuju ke puncak. Setelah itu, kami pun merasa berada di atas lautan awan yang juah tak terhingga.

Diwarnai dengan guyuran hujan dan disertai kabut pekat kami pun sampai di puncak Gunung Lawu sore itu. Setelah sampai, kami segera mencari tempat untuk bermalam. Di puncak, terdapat satu bangunan yang tidak terlalu luas yang terbuat dari seng. Kami segera masuk untuk menghangatkan badan dan melindungi diri dari udara dingin yang menggigit. Satu tenda pun terpasang di dalam bangunan itu untuk perempuan. Sisanya, kami mendirikan dua tenda di luar untuk laki-lakinya. Samar-samar terlihat mentari sore yang akan kembali ke peraduannya. Eloknya senja nan jingga menerobos di sela-sela rintik gerimis dan kabut yang terus menutup. Eksotis dan romantis kurasakan sore itu di puncak Lawu.

 

Gn. Lawu-Karanganyar Jateng, 18-20 Oktober 2007.

Posted in: Expedition