Pendakian Gn. Lawu 3.265 MDPL (Part. 2)

Posted on January 4, 2012

0



Perjalanan Menuju Puncak Lawu

Hingga pada akhirnya kami sampai di kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Sebelumnya, kami harus menempuh perjalanan panjang dari Solo menuju Karanganyar. Perjalanan yang memakan waktu sekira empat jam tersebut membuat kami kelelahan. Panasnya siang hari itu menjadikan kekhasan tersendiri tanah Jawa. “Bukan Jawa kalau tidak panas”, begitu kata orang Jawa. Namun, aku sendiri seakan terobati dengan pemandangan hari itu. Jalanan yang dilewati menyajikan pemandangan yang begitu menawan hati. Barangkali semua gunung menyajikan dan menjanjikan pemandangan alam yang sungguh tidak main-main, indah dan menyejukkan hati.

Hari telah beranjak sore ketika kami sampai di kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Terasa aneh suasana hari itu. Aku merasa dingin disaat matahari masih sangat tajam sinarnya. Hawa dingin bercampur dengan terik matahari menyelimuti daerah itu. Sungguh perpaduan dan kolaborasi cuaca yang sangat aneh kurasakan sore itu. Aku melihat sekeliling sesaat aku menginjakan kakiku. Kubiarkan mata ini berjalan-jalan memandang keindahan daerah lereng Gunung Lawu. Lekukan-lekukan perbukitan yang nampak kuning cemerlang di sinari terik matahari. Hembusan angin yang menerpa ikut menerbangkan pasir-pasir di dataran yang terlihat luas itu. Hari itu memberikan kesan tersendiri bagiku, mengobati kerinduanku akan alam.

Pendakian menuju puncak Lawu dapat ditempuh melalui dua jalur. Jalur pertama adalah jalur Cemoro Sewu dan yang kedua adalah jalur Cemoro Kandang. Jalur Cemoro Sewu memiliki karakteristik medan yang menanjak dengan kemiringan lebih dari 45° dan anak tangga dari batu yang telah disusun rapi. Jalur pendakian yang sudah tidak alami, layaknya tempat rekreasi keluarga. Sedangkan, jalur Cemoro Kandang dengan karakteristik jauh lebih landai dan panjang. Jalurnya pun masih alami dengan sesekali jalur berbatu dan curam. Keduanya pun memiliki persamaan, yaitu sama-sama sulit dan sama-sama butuh tenaga dan perjuangan yang tidak mudah. Sebuah pilihan yang cukup adil kurasa. Satu jalur yang alami dan satunya lagi jalur buatan.

Kami memutuskan untuk naik melalui jalur Cemoro Kandang. Entah kenapa pilihan itu yang diambil, yang jelas jalur tersebut lebih kusukai ketimbang jalur yang satu lagi—jalur Cemoro Sewu. Persiapan sebelum pendakian dilakukan di base camp pendakian, termasuk registrasi dan mengurus perijinan pendakian. Aku menyempatkan diri di tengah persiapan teman-temanku untuk berkeliling di sekitar base camp. Dan, tak jauh dari pos aku melihat papan yang berisi peta pendakian Gunung Lawu beserta dengan pantangan-pantangan atau larangan-larangan bagi para pendaki. Baru kali itu aku melihat begitu banyak larangan pendakian. Satu yang aku masih ingat karena menurutku larangan tersebut sangat aneh, yaitu ‘tidak boleh memakai baju hijau daun’. Aku sangat tertarik untuk mengetahui alasannya. Ternyata hal tersebut berhubungan dengan mitos masyarakat setempat.

Persiapan pun selesai dan kami segera bersiap untuk mendaki. Dimulai dengan doa bersama, pendakian yang dibekali dengan semangat untuk merengkuh puncak Gunung Lawu segera dimulai. Jumlah personel pendakian yang banyak—13 orang—membuat kami harus membawa bekal yang cukup banyak juga, terutama air. Aku mengisi cariel-ku dengan beban yang melebihi kapasitas. Cariel yang hanya berkapasitas 45 liter aku isi dengan beban sekira 60 liter. Beban yang melebihi kapasitas tersebut sangat menguras tenagaku. Apalagi dengan jalur yang panjang membuatku terasa malas untuk melangkahkan kaki. Untunglah matahari sudah beranjak ke peraduannya membawa serta pnas dan teriknya.

Beberapa jam kami berjalan malam pun menyergap. Farhan yang saat itu menjadi pemimpin pendakian memutuskan untuk beristirahat dan bermalam. “Kita akan bermalam di Pos 1,” kata Farhan, “hari sudah mulai malam dan perjalanan kita lanjutkan esok hari”. Tepat sekali, tak begitu lama dari itu kami pun telah sampai di Pos 1. Terdapat bangunan yang terbuat dari anyaman bambu dan nampak masih rapi. Kami segera masuk ke dalam dan beristirahat. Hanya dalam hitungan menit tenda pun telah berdiri dan beberapa orang terlihat memasak makanan untuk malam itu. Beberapa orang yang lainnya terlihat sedang sholat. Aku sendiri segera memasak air untuk menghangatkan tubuh sesaat setelah mendirikan tenda.

Hari itu kami bermalam di Pos 1—seharusnya di Pos 2 sesuai rencana. Perjalanan dilanjutkan esok hari karena kondisi yang tidak memungkinkan pada waktu itu. Fisik yang terasa sudah sangat lemah karena perjalanan panjang dan malam yang menyergap membuat kami harus beristirahat. Aku pun tidak mungkin memaksakan kondisi saat itu. Bukan karena fisikku, melainkan teman-temanku yang terlihat sudah sangat payah terutama yang perempuan. Aku tidak bisa egois memaksakan semuanya untuk terus melanjutkan perjalanan, walaupun perjalanan malam adalah perjalanan yang nyaman menurutku. Toh, pemimpin pendakian adalah Farhan dan bukan aku. Jadi aku tidak dapat memutuskan. Semuanya ada di tangan Farhan.

 

Gn. Lawu-Karanganyar Jateng, 18-20 Oktober 2007.

Posted in: Expedition