Pendakian Gn. Lawu 3.265 MDPL

Posted on January 3, 2012

0



Namun, ada orang-orang yang menganggap sesuatu yang tak terjangkau itu justru memiliki daya tarik khusus. Biasanya mereka bukan para pakar: ambisi dan fantasi mereka cukup kuat untuk mengabaikan keraguan yang mungkin dirasakan orang-orang yang lebih waspada. Tekad yang kuat dan keyakinan merupakan senjata mereka yang paling ampuh. Panggilan terbaik untuk orang-orang seperti itu adalah eksentrik; dan yang terburuk, gila…

Walt Unsworth

(Everest)

Hari Ke-1

Fajar mulai menyingsing ketika sebuah bus mengantarkanku sampai di Terminal Tirtonadi Solo, Jawa Tengah. Aku melangkahkan kakiku menuruni bus dan menuju ke sebuah warung kopi yang ada di dalam terminal. Selama hampir satu jam aku berada di dalam warung tersebut dan menghabiskan beberapa batang rokok. Saat itu aku menunggu kedatangan kawan-kawanku dari Jakarta. Mereka memberikan kabar akan sampai di Stasiun Solo Balapan pagi itu juga kurang dari pukul 07.00 WIB pagi. Aku pun menunggu kedatangannya sejenak berada di terminal. Sesaat kemudian, aku menerima kabar bahwa mereka telah sampai di stasiun. Segeralah aku menuju ke luar terminal dan sebuah becak mengantarkanku ke stasiun.

Sekira hanya setengah jam becak pun berhenti dan sampai juga aku di Stasiun Balapan Solo. Tampak dari kejauhan terlihat seorang yang melambaikan tangannya ke arahku.  Beberapa meter langkahku ke depan, terlihat muka yang sudah tidak asing lagi bagiku. Ya, Farhan, seorang kawanku dari PANTERA. “Apa kabar bro?” tanyanya sambil menjabat tanganku. “Alhamdulillah sehat,” jawabku, “kawan-kawan yang lain dimana?”. “Ada di dalam,’ katanya sambil berjalan menuju dalam stasiun, “tinggal menunggu satu orang lagi”. Kemudian, kita pun segera memasuki stasiun. Beberapa orang telah menunggu dalam stasiun, duduk di kursi-kursi yang disediakan untuk para pemudik. Aku pun menghampiri dan berkenalan dengan mereka.

Kami berencana mendaki Gunung Lawu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Saat itu adalah H+4 lebaran tahun 2007, sehingga suasana lebaran masih sangat terasa kental. Aku berpikir bahwa orang-orang yang ada saat itu adalah orang-orang gila yang meninggalkan keluarga saat lebaran hanya untuk mendaki gunung. Hari-hari adalah saat dimana seharusnya digunakan untuk berkempul dengan keluarga dalam suasana lebaran yang sakral. Namun, di lain sisi, aku juga berpikir bahwa hal tersebut juga salah satu bagian silaturahim dan sebagai salah satu bentuk penghirmatan terhadap hari besar dalam kepercayaanku. Semuanya adalah saudara, maka di mana pun tempatnaya niat ibadah dan silaturahimlah yang dijadikan landasanku pada saat itu.

Aku memutuskan untuk mendaki setelah melewati beberapa ujian panjang. Aku harus melewati kedua orang tuaku, melewati saudara-saudaraku, dan harus melewati mahalnya ongkos karena lebaran. Namun, yang terberat adalah ketika aku harus meminta ijin kepada kedua orang tuaku. Aku berterus terang bahwa aku akan mendaki gunung, dan itu yang tersulit. Pada mulanya aku tidak mendapat lampu hijau. Namun, setelah aku berargumentasi dengan sebisaku ijin pun tembus juga. Ujian tidak berhenti sampai di situ. Permasalahan mahalnya ongkos menjadi kendala berikutnya. Akan tetapi, sama seperti permasalahan yang pertama, masalah ini pun akhirnya dapat kuatasi.

Pendakian ini adalah pendakian pertamaku ke gunung di atas ketinggian 3.000 MDPL. Saat itu, aku di ajak oleh Farhan. Ia mengajakku dengan alasan agar ada teman katanya. Karena pada saat itu ia pun diajak oleh kakaknya. Jadi posisi ia pun sama sepertiku, sendiri. Setelah menerima ajakan itu, aku pun tidak berpikir lama. Aku langsung saja menerima tawaran itu dengan tanpa pikir panjang. Aku tahu dan sangat faham jika aku akan menemui banyak kendala. Namun, aku begitu yakin akan dapat mengatasinya. Mendaki gunung adalah sebuah pilihan, dan setiap pilihan pasti ada resiko di dalamnya. Resiko tidak untuk dihindari tapi dihadapi. Tinggal bagaimana cara penyikapannya apakah dengan cara yang bijak atau dengan cara yang galak. Kedewasaan sangat berpengaruh dan menjadi senjata pamungkas dalam hal itu.

 

Gn. Lawu-Karanganyar Jateng, 18-20 Oktober 2007.

Posted in: Expedition, Go Green