De Nekat Creativepreneur

Posted on January 1, 2012

3



Direktori Bisnis Usaha Kecil dan Menengah di Dunia Maya

Menarik untuk dicermati perihal usaha kecil dan menengah (UKM) kini. Mereka seperti berada di ujung tanduk di tengah kemajuan teknologi informasi. Serbuan teknologi informasi, terutama internet, yang kian masif menjadikan UKM mulai tersingkir. Belum lagi pola instan yang seringkali menjadi andalan usaha kreatif besar juga menjadi musuh selanjutnya. Lalu, apakah Indonesia membiarkan hal tersebut berlalu dengan mengorbankan usaha kecil dan menengah? Berharap tidak demikian.

Dunia kewirausahaan (entrepreneurship) memang tengah diminati di Indonesia meski peminatnya dirasa masih sangat jauh dari ekspektasi. Bermula pada tahun 2009 yang menjadi Tahun Indonesia Kreatif (TIK) dunia wirausaha mulai serius digalakkan. Menindaklanjuti pertemuan di Jepang pada tahun 2008 tersebut, Indonesia kemudian membuat gebrakan dengan mencanangkan TIK dengan Bandung sebagai Pilot Project-nya. Inilah langkah awal dan bukti komitmen pemerintah yang katanya akan concern dalam entrepreneurship dan menjadikannya sebagai salah satu pilar pembangunan nasional.

Disparitas Wirausaha Indonesia

Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, melalui menterinya, merilis data bahwa baru sekira 0.24% penduduk Indonesia yang berwirausaha (Kemenkop dan UKM, 2011). Statistik tersebut tentunya sangat jauh jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang mimiliki 11% dan Malaysia yang 5%. Menurut saya, Indonesia sangat bisa untuk mengejar, paling tidak mendekati, negara tetangganya tersebut. Geliat wirausaha mulai terasa kuat terutama di daerah-daerah. Tinggal bagaimana pemerintah dan pihak-pihak yang terkait lainnya (stakeholders) memfasilitasinya.

Indonesia boleh saja memiliki TIK dalam mendongkrak pembangunan perekonomian nasional. Tetapi, bukan berarti hanya memberikan peluang kepada para pemilik modal besar saja untuk maju dan berkembang. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga harus diberi kesempatan yang sama untuk itu. Kesan kesenjangan antara usaha besar dan UKM sangat terlihat, terutama dari segi fasilitas promosinya. Besarnya modal para pengusaha besar menjadikan mereka dengan gampangnya merajai pasar. Sedangkan pengusaha kecil malah tertinggal jauh sebab minimnya fasilitas.

Komitmen pemerintah dalam mengembangkan entrepreneurship juga wajib berimbang. UKM pun butuh difasilitasi untuk sama berkembangnya dengan usaha besar lainnya. Selama ini TIK hanya menjangkau pengusaha kreatif yang sudah punya brand saja, sedangkan para pelaku usaha mikro terkesan diacuhkan. Padahal jika dicermati lebih jauh, UKM juga bisa jadi lebih kreatif dari usaha-usaha besar tersebut. Untuk itu, pemerintah juga harus concern terhadap persoalan ini. Pola kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) melalui dunia maya perlu dikembangkan dalam menopang kemajuan UKM.

Direktori UKM Via-Internet

Pembuatan direktori bisnis di internet yang khusus menampung UKM bisa menjadi alternatif solusi di tengah persaingan usaha yang kian ketat. Fungsi dari direktori bisnis UKM tersebut adalah sebagai penyederhana informasi, komunikator, dan sebagai sarana untuk memudahkan keputusan pembelian. Sehingga diharapkan UKM yang memang benar-benar dijalankan oleh rakyat kecil dapat maju dan berkembang di tengah gempuran produk-produk impor yang kian masif. Jika UKM telah memiliki merek yang kuat, maka dengan sendirinya pelanggan pun akan meliriknya.

Branding (merek) diyakini memiliki kekuatan superdahsyat dalam memengaruhi dan mengarahkan sikap serta perilaku konsumen dalam membeli. Brand adalah sarana komunikasi perusahaan kepada masyarakat dalam rangka mempengaruhi massa (McQuail, 1987:56). Brand ibarat nyawa dalam dunia perdagangan. Begitu dahsyatnya arti sebuah brand sehingga Kenneth Roman dan Jane Maas melukiskannya seperti ini, “Keajaiban merek dapat mengangkat produk menjadi sesuatu di atas hal biasa (Roman&Mass, 2005:3).  Brand menjadi sangat diperlukan karena ia sebagai penanda barang atau jasa dari para penjual serta pembeda dari pesaing.

Berdasarkan hal tersebut, maka strategi promosi merek UKM lewat media internet strategis dilakukan. Selain dapat memberikan nilai tambah produk (value added), merek juga dapat melahirkan kesetiaan konsumen serta mampu untuk menangkap harga premium. Begitu pentingnya arti sebuah brand menjadikan para pelaku usaha harus berpikir keras untuk berinovasi. Inovasi merek dengan memanfaatkan teknologi internet adalah harga mati jika menginginkan kemajuan. Dan, berbicara inovasi berarti berbicara soal ide—pengusaha yang inovatif paham bahwa inovasi merek dimulai dari sebuah ide (Drucker, 2004:9). Semoga tahun 2012 menjadi awal semangat Indonesia dalam mengembangkan entrepreneurship melalui Direktori Bisnis UKM di dunia maya.