Indonesia dan Penyandang Cacat

Posted on December 4, 2011

1



Puluhan pekerja yang tuna rungu/tuna wicara di sebuah restoran waralaba terkenal di Jakarta di-PHK tanpa pesangon pada Mei 2011. Padahal, mereka telah mengabdi di resto cepat saji yang ada di Gedung Sarinah itu selama 15 tahun. Mereka di PHK dengan alasan pemilik lahan tidak berhasil mereguk untung dari bisnis jualan ayam goreng dan hamburger. Akhirnya waralaba itu gulung tikar per Mei 2010. (DetikNews, 03/12/2011).

Tanggal 3 Desember dijadikan sebagai hari penyandang cacat internasional oleh PBB. Tepat 19 tahun, semenjak ditetapkan pertama kali tahun 1992, Hari Penyandang Cacat Internasional resmi diperingati setiap tahun, tak terkecuali Indonesia. Negeri sejuta pulau ini pun memperingatinya tiap tahun. Namun, peringatan yang dilakukan masih hanya sekadar seremoni belaka. Buktinya toh masih banyak para penyandang cacat yang mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat.

Secuplik berita di atas hanyalah satu dari sekian banyak berita yang menunjukkan perlakuan diskriminatif bagi para penyandang cacat. Nasib para penyandang cacat masih berjalan ditempat alias terkesan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah tanpa perhatian yang lebih, terutama dalam persamaan hak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak. Penderitaan mereka harus ditambah lagi dengan perlakuan dari masyarakat dan para pelaku usaha yang juga masih memandang sebelah mata para disabilitas ini.

Data Kementrian Kesehatan RI mencatat ada sekira 6,7 juta penyandang cacat yang tersebar di seluruh Indonesia (Depkes RI, 2005). Dengan jumlah yang relatif banyak tersebut, hanya sedikit yang mendapat perhatian pemerintah. Sisanya harus berjuang sendiri menghidupi diri tanpa difasilitasi pemerintah. Padahal Indonesia telah lama meratifikasi Undang-undang Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Dalam Bab III Pasal 5 jelas-jelas tertulis “Setiap penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan”. Nyata-nyata telah terjadi paradoksial antara peraturan dan kenyataan.

Saya sepakat dengan statement salah satu komisioner Komnas HAM, Saharudin Daming, bahwa “Perlakuan terhadap disabilitas jangan dimaksudkan sebagai charity/belas kasihan. Tetapi masyarakat harus melandaskan kepada penghormatan hak asasi manusia”. Penyandang cacat juga sangat bisa jadi punya kemampuan yang lebih bahkan bisa melebihi manusia normal. Sebut saja Sukrawan, seorang penabuh drum asal Bali yang pernah menjadi penabuh drum terbaik versi RRI Bali tahun 2009. Atau pasangan Yunara-Rahma Anggraeni Chiboro, pasangan suami istri yang berkeliling Indonesia dengan bersepeda 2009 silam (Liputan6.com, 2010). Contoh tersebut hanyalah satu dari ribuan kisah kesuksesan penyandang cacat di Indonesia.

Kekurangan fisik bukanlah sumber keterbatasan. Tapi itu adalah satu peluang kesuksesan ditengah segala keterbatasan.

Selamat Hari Penyandang Cacat Internasional. Semoga keterbatasan menjadi modal dan semangat untuk meraih prestasi😀