Remaja dan HIV/AIDS

Posted on December 1, 2011

2



Tepat tanggal 1 Desember hari AIDS sedunia diperingati, terhitung sejak tahun 1988. Tiap tahun diperingati dan tiap tahun pula jumlah penderitanya bertambah. Tercatat sudah 1.5 juta orang di Asia Tengah dan Eropa Timur telah terinfeksi virus mematikan itu (Heise/Koesoemawi, 2011). Jutaan orangpun telah meregang nyawa oleh penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus tersebut. Penyakit inipun telah menjadi penyakit yang paling ditakuti oleh seantero penghuni jagat raya ini, terutama remaja.

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dengan batasan usia 12-24 tahun (WHO, 2009). Dari segi fisik, remaja ditandai dengan adanya perubahan penampilan fisik dan fisiologis terutama yang berkaitan dengan fungsi seksual. Secara psikologis, remaja adalah masa dimana individu mengalami perubahan-perubahan dari apa yang disebut masa kanak-kanak menjadi apa yang disebut sebagai dewasa (MCR PKBI Jabar, 2008). Satu hal yang tidak dapat dinafikan adalah bahwa usia remaja adalah masa dimana besar keinginan mencobanya.

Besarnya hasrat mencoba bagi remaja ikut menjadi ruang masuknya HIV/AIDS ini. Mulai dari keingintahuan yang besar terhadap sesuatu yang baru kemudian melahirkan hasrat untuk mencoba. Awalnya memang coba-coba. Jika itu dirasa membuat senang, maka remaja akan nyaman dan cenderung akan loyal dengan kesukaannya tersebut. Dan, jika sudah seperti ini lahirlah semacam rasa menagih (addict) yang sangat jika remaja lama tidak terpuaskan dengan hasratnya itu.

3 Gs-3 Fs

Abad 21 yang dibalut dengan manis oleh Barat menawarkan beragam kemudahan dan sesuatu yang menarik terutama bagi Timur. Berbicara soal ini berarti berbicara soal negara maju dan negara berkembang. Pun, soal bergantinya kemasan 3 Gs (Gold, Glory, Gospel) menjadi 3 Fs (Fun, Food, Fashion). 3 Fs yang dikemas manis dan menjelma menjadi hiburan malam, junkfood, hotpants, freesex, pergaulan bebas, inilah yang kini spesifik menyasar remaja dan digandrungi olehnya.

Memakai narkoba/NAPZA berjamaah dan free sex adalah sahabat remaja kini. 3 Fs menjadikan freesex dan NAPZA tersebut sebagai agen penyebar HIV/AIDS. Pemakaian jarum suntik bergantian, gonta-ganti pasangan, dan sex bebas memang hanya soal cara atau sarana masuknya virus HIV/AIDS. Sejatinya HIV/AIDS ini masuk lewat life style muda-mudi perkotaan. Remaja hingar bingar kehidupan malam inilah sasaran dari keganasan virus hedonism yang sekarang lebih dikemas dengan menarik. Fun, Food, Fashion menjadi begitu akrab di telinga kita—remaja. Pun, kita tidak dapat menafikkan bahwa remaja sekarang adalah remaja produk Barat yang kebanyakan sudah kebablasan.

Goenawan Mohamad waktu itu pernah bilang bahwa : “Pemikir-pemikir yang lahir di waktu lampau bisa memperkaya batin kita, jika kita memandang mereka dengan sikap seorang murid. Tapi bukan pribadi mereka yang jadi guru, melainkan pengalaman mereka—termasuk kekurangan mereka dalam kesalahan dan keterbatasan.” (GM, 1977). Tapi, nampaknya kita, generasi muda, tidak lagi tertarik pemikiran generasi muda negeri ini, melainkan lebih melirik trend Barat yang katanya lebih kece.

Selamat Hari AIDS sedunia, mari bersahabat dengan ODHA🙂