Pendakian Gn. Semeru (Hari Ke-7)

Posted on November 1, 2011

0



Perjalanan Turun Kalimati-Ranu Kumbolo-Ranu Pani

Kurang dari jam sebelas kami mulai turun dari Kalimati. Dengan perasaan berat hati kami meinggalkan Mahameru yang sungguh-sungguh menawan. Aku merasa jiwaku masih tertahan di Mahameru. Sulit sekali untuk menyingkirkan bayangannya dari pikiranku. Sepanjang jalan turun keindahannya seakan terus membayangiku. Mahameru seakan memiliki magnet yang senantiasa menarik pendaki-pendaki yang ada di dekatnya. Sungguh magnet yang begitu kuat.

Tak mau terbius keadaan, aku pun berusaha untuk menikmati perjalanan turun. Seperti biasa, aku melihat sekeliling setiap satu langkahku. Walaupun tetap tidak bisa mengobati rasa kangenku terhadap puncak, namun cukup untuk sebagai obat penawar rindu. Kami pun berjalan santai, sesekali bercanda dan sebentar beristirahat untuk minum. Aku sendiri tidak berambisi untuk segera sampai di Ranu Pani. Aku mencoba menikmati perjalanan turun dengan membelanjakkan pandanganku. Kesempatan yang langka dengan pemandangan yang langka pula.

Setelah berjalan lebih dari dua jam, akhirnya sampai juga di Ranu Kumbolo. Ternyata Ranu Kumbolo kemarin tidak jauh berbeda dengan Ranu Kumbolo hari itu. Ratusan tenda masih memadati danau elok tersebut, walaupun sedikit berkurang dari sebelumnya. Aku merasa berada pada sekumpulan orang yang sedang camping ceria, pendakian yang hanya main-main. Tapi sudahlah, apapun itu yang jelas keelokan Ranu Kumbolo mampu menjadi penawar rasa lelah kami. Waktu yang ada kami gunakan untuk sholat, makan, dan istirahat.

Tepat pukul 18.00 WIB sore kami melanjutkan perjalanan turun. Suasana Ranu Kumbolo sore itu semakin anggun dengan hadirnya purnama tepat setelah kami meninggalkan camp. Perjalanan kami pun menjadi tidak terfokus dan sebentar-sebentar berhenti untuk menikmati pantulan sinar purnama dari atas permukaan air danau yang sangat indah. Purnama yang keluar di tengah-tengah dua bukit memancarkan sinar yang kemudian dipantulkan oleh hamparan air membuat suasana romantis begitu menggelora di Ranu Kumbolo. Sayang, kami harus turun segera sebelum gigitan dinginnya malam menyerang.

Perjalanan turun menjadi cobaan tersendiri bagiku. Kakiku lagi-lagi bermasalah. Aku diserang oleh rasa nyeri yang menusuk sampai tulang lututku. Nyeri otot yang aku derita semenjak pendakianku di Gunung Pangrango akhir tahun kemarin akhirnya kambuh juga. Obat nyeri otot yang aku oleskan tidak memberi pengaruh apa-apa pada kakiku. Rasa nyeri terus menyergap di setiapku mengayunkan kaki. Aku berusaha untuk menahannya dengan sesekali berhenti dan beristirahat. Namun, jalan satu-satunya hanyalah terus berjalan karena di sini tidak ada tukang urut yang buka praktek.

Rasa sakit dan terlebih rasa kesal menyelimuti pikiranku terus-menerus. Perjalanan dari Ranu Kumbolo-Pos 3, Pos 3-Pos2, dan Pos 2-Pos 1 aku lalui dengan gelisah. Hingga pada akhirnya perjalanan kami sampai di Pos 1, aku merasa sedikit lega. Aku tidak mau untuk menukar kebahagiaan hari itu dengan rasa kesal pada kakiku. Segera ku ambil sebatang rokok untuk disulut. Sebatang rokok yang cukup mengobati semua rasa negative dalam diriku. Kami beristirahat cukup lama, sekira setengah jam di Pos 1 sebelum akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan.

Selama satu jam perjalanan yang kami tempuh—bagiku dengan tertatih-tatih—akhirnya peradaban pun terlihat. Secercah cahaya lampu neon memancar dari remang-remang menembus pekatnya kabut malam itu. “Sampai juga kita.” Kata beberapa kawanku hampir bersamaan. Aku pun lega, setidaknya untuk malam itu. Kami langsung menuju Pos TNBTS untuk melapor. Waktu yang ada kami gunakan untuk bersih-bersih, makan, dan sholat, sementara Salman dan Atok memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Kami pun berpisah dengan mereka berdua sejak malam itu di Ranu Pani.

Rasa lega yang ada pada malam itu nampaknya sedikit terhapus oleh rasa bingung untuk beristirahat, karena tidak adanya tempat yang layak untuk istirahat—semisal base camp. Akhirnya setelah bertanya-tanya, kami pun ditunjukkan oleh salah seorang warga setempat bahwa ada tempat bagi para pendaki untuk beristirahat. Tanpa pikir panjang kami pun langsung menuju tempat yang ditunjukkan tersebut. Sebuah tempat yang cukup besar dan gelap tanpa lampu, dengan bangunan-bangunan yang terkunci rapat. Tempat itu memang untuk para pendaki yang digunakan sebagai base camp—terlihat dari tulisan di depan bangunan tersebut. Namun, aku sendiri heran kenapa bangunan tersebut terkunci.

Akhirnya dengan rasa berat karena malas aku pun harus mengeluarkan tenda yang telah ter-packing rapi dalam tas carielku. Kami segera mendirikan tenda, dan setelah tenda siap kami pun langsung masuk. Kami telah dengan kantong tidur masing-masing, dan tanpa lama-lama kami langsung merebahkan diri. Rasa capek dan lelah setelah perjalanan panjang memaksa kami untuk segera terlelap. Dekapan dingin cuaca malam itu hanya sedikit berpengaruh pada kami. Buktinya kami masih nyenyak dan terlelap sampai akhirnya matahari pagi membangunkan kami.

Pagi itu kabut tebal masih menyelimuti Ranu Pani. Rintik-rintik hujan membasahi daerah sekitar. Suasana seperti itu membuat kami malas untuk bergerak. Jika saja kami tidak terpikir untuk segera pulang, maka menarik lagi kantong tidur merupakan pilihan yang menggiurkan saat itu. Tak ingin tergoda dan terhanyut dengan keadaan, kami langsung menghangatkan tubuh dengan membuat minuman hangat dan setelah itu packing kembali. Setelah selesai, kami segera menuju Pos TNBTS untuk menunggu jeep yang akan membawa kami turun. Namun, karena sedikitnya pendaki yang turun pada saat itu kami harus rela menunggu selama dua jam lebih untuk bisa turun.

Rintik hujan dan pekatnya kabut menemati perjalanan turun kami. Namun, hal tersebut hanya berlangsung beberapa menit saja. Kabut dan rintik hujan seketika sirna setelah mobil yang kami tumpangi memasuki kawasan pegunungan Bromo Tengger. Pemandangan yang sangat indah di tempat itu memaksa kami untuk berhenti dan mengabadikannya dalam beberapa foto. Lekuk tubuh bukit-bukit tersebut menawarkan daya tarik tersendiri. Ngarai-ngarai terlihat gagah menjulang di bawah teriknya sinar mentari. Tak mau kalah, hamparan samudera pasir pun menawarkan dirinya dalam keelokan setiap butirnya. Kami begitu terhibur dengan sajian yang ditampilakan.

Puas berfoto-foto dan memandangi keindahan Bromo-Tengger, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Rasa capek karena berdiri terasa hilang dan tergantikan dengan indahnya pemandangan sepanjang jalan turun. Setelah memakan waktu kurang lebih tiga jam, akhirnya sampai juga kami di Tumpang. Karena uang habis, maka aku dan Khemal harus mencari ATM terdekat untuk membayar ongkos naik Jeep. Dalam perjalanan mencari ATM, kami sekilas melihat wajah Salman dari sela-sela kaca angkot. Ternyata benar, keduanya belum pulang dan masih di Tumpang tidak seperti yang kami perkirakan.

Setelah pembayaran selesai, kami menyempatkan diri untuk berbelanja apel Malang yang terkenal itu. Bukan Malang jika tanpa apel, dan tidak afdhol jika ke Malang tanpa membeli apel. Farhan bergegas keluar dari angkot yang kami tumpangi. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa seplastik kecil apel yang ia beli dari pasar. “Wah murah sekali apel ini, 1 kg Cuma Rp. 1000,-.” Katanya keheranan. Karena begitu menggiurkan, aku dan Khemal tidak terlalu menanggapi omongan Farhan tentang murahnya apel yang ia beli. Kami pun menikmati apel sepanjang perjalanan menuju ke stasiun Malang.

Teriakan perut yang semakin keras membut kami segera mencari warung makan sesampainya di depan stasiun. Kami segera mengabari Salman dan Atok yang sebelumnya telah sampai di stasiun untuk bergabung dengan kami. Tak berapa lama mereka berdua dating dan langsung makan bersama kami. Setelah makan kami langsung masuk ke dalam stasiun dan menunggu datangnya kereta yang akan mengantar kami ke tujuan masing-masing. Aku dan Farhan ke Jatinangor, Salman dan Atok ke Bandung, dan Khemal ke Jakarta.

Tepat pukul 15.00 WIB sore kereta Matarmaja melaju dari stasiun Malang menuju Jakarta. Kami bersiap-siap menghadapi perjalanan panjang lebih dari 15 jam. Perjalanan panjang yang diwarnai dengan obrolan dan gurauan khas masing-masing dari kami membuat rasa capek dan lelah sirna. Tak terasa kami pun sampai di stasiun Prujakan Cirebon sesuai rencana awal. Itulah awal perpisahan aku, Farhan, Salman, dan Atok dengan Khemal yang akan kembali ke Jakarta. Kami pun bergegas menuju ke terminal untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Setengah jam berlalu dan akhirnya sampai juga kami di terminal Harjamukti Kota Cirebon. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB pagi, dan kami pun memutuskan untuk sarapan terlebih dulu. Menu hari itu adalah Nasi Jamblang, makanan khas Cirebon. Kebetulan tepat di depan terminal ada seorang ibu setengah baya yang berjualan Nasi Jamblang. Kami langsung menghampirinya dan segera memesan. Makanan yang cukup merakyat dengan harga yang benar-benar rakyat, seleranya pun pas dengan selera rakyat. Dan satu lagi, pas juga dengan kantong kami yang sedang cekak.

Perjalanan berlanjut setelah makan. Kami menunggu bus jurusan Bandung. Setelah beberap menit akhirnya bus yang ditunggu-tunggu pun datang. Setelah sebelumnya kami tawar-menawar dengan kondektur untuk mencocokkan harga dengan kantong kami, kami pun naik setelah harga benar-benar cocok. Perjalanan yang diwarnai hanya dengan tidur dan tidur. Aku segera terbangun ketika kondektur dengan suara kerasnya meneriakkan, “Jatinangor…Jatinangor…”. Aku dan Farhan pun turun setelah bersalaman denga Salman dan Atok. “Sampai bertemu lagi pada pendakian selanjutnya ya, bro…”.

selesai.

Posted in: Expedition