Pendakian Gn. Semeru (Hari Ke-6)

Posted on October 29, 2011

0



Detik-detik Menjelang Puncak

Udara yang dingin disertai dengan angin kencang menjadi warna malam itu. Kami bersiap-siap untuk menuju puncak. Menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan ke puncak. Tak lupa aku memakai beberapa rangkap pakaian karena malam itu sangat dingin. Masing-masing dari kami hanya membawa air dalam botol kecil dan sedikit makanan ringan. Semua barang-barang sisanya kami tinggal di tenda, karena perjalanan ke puncak sangat berat sehingga tidak memungkinkan membawa serta cariel kami.

Sebelum ke puncak, kami harus melapor dan diperiksa mengenai surat ijin mendaki. Dan, sesuai dengan dugaan sebelumnya. Kami sedikit bermasalah dengan petugas TNBTS. “Kalian hanya boleh sampai Kalimati dan tidak diizinkan ke puncak.” Kata petugas menjelaskan. Kami tidak menyerah begitu saja. Kami pun masing-masing beralasan untuk diperbolehkan naik sampai ke puncak. Akhirnya, di tengah keremangan malam kami pun diperbolehkan meneruskan perjalanan. Namun, hanya sampai di Arcopodo sebelum nantinya kami diperiksa kembali.

Perjalanan dari Kalimati menuju Arcopodo kami tempuh dalam waktu satu jam, dengan medan yang begitu curam dan terjal. Longsor terjadi di sisi kanan dan kiri jalanan yang sempit. Sesekali aku melihat beberapa nisan sebagai kenangan pendaki-pendaki yang hilang dan meninggal di Semeru. Angin semakin kencang dan bertiup tidak beraturan. Namun, ada juga beberapa pendaki yang mendirikan tenda di Arcopodo yang menurutku agak konyol, bermalam di tengah udara dingin dan badai pasir.

Sesampainya di Arcopodo, untuk yang kedua kalinya kami diperiksa. Dan, seperti yang terjadi di Kalimati, kami pun awalnya tidak diperbolehkan ke puncak. Namun, hanya dengan sedikit retorika kami akhirnya diperbolehkan juga naik sampai ke puncak walaupun dengan catatan, “harus turun kurang dari pukul 08.30 WIB,” kata salah seorang petugas mencoba mengancam. Tanpa basa basi lagi kami pun meng-iya-kan wejangan petugas tadi, “Siap Pak!” serempak kami menjawab. Dengan hati gembira kami melanjutkan perjalanan ke puncak.

Perjalanan dari Arcopodo-Puncak butuh perjuangan luar biasa. Longsoran yang terjadi di sisi kanan dan kiri jalur pendakian, ditambah dengan pasir yang berterbangan membuat perjalanan terasa begitu panjang. Antrean para pendaki yang ada di depan kami pun menjadi hambatan selanjutnya. Kami harus antre dengan ratusan pendaki untuk bisa sampai ke puncak. Belum lagi dengan track pasir halus yang kami lewati. Sesekiali aku terpleset dan terjatuh karena pasir yang licin. Satu langkahku ke atas harus dibayar dengan dua langkah ke belakang.

Sulitnya medan yang kami lalui sebelum mencapai puncak terbayarkan dengan pemandangan yang menawan di sekeliling kami. Satu fenomena alam yang sangat indah menemani langkah kami ke puncak. Gerhana bulan yang ada di sisi kanan atas terjadi sesaat setelah kami melewati Cemoro Tunggal—vegetasi terakhir menjelang puncak. Untuk yang kesekian kalinya kami disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa. Gerhana bulan terlalu menyita fokusku untuk menuju puncak. Terlalu sayang untuk dilewatkan momen seindah dan selangka itu.

Perjalanan menuju puncak menjadi semakin tidak teratur pada sepertiga perjalanan menuju puncak. Saling susulnya pendaki menerbangkan pasir-pasir yang tadinya diam, begitu mengganggu pandangan. Mungkin wajar adanya ketika detik-detik menjelang puncak. Antara motivasi dan ambisi sulit untuk dibedakan. Semangat dan motivasi untuk mencapai puncak seringkali dibarengi dengan ambisi personal. Itulah yang membuat orang terkadang melupakan tujuan dan hakekat mendaki gunung.

Matahari pagi pun beranjak muncul dari kegelapan, membuka tabir gelapnya malam. Fenomena yang begitu eksotik, di sisi kanan atas terjadi gerhana bulan, sedangkan di sisi kiri matahari terbit (sun rise). Sayangnya, aku belum juga mencapai puncak saat matahati perlahan terbit. Aku masih tertatih-tatih sendiri menuju puncak. Aku yakin keempat kawanku yang lain masih berada di belakang. Beberapa meter menjelang puncak terasa berat dan panjang. Otakku mendadak menjadi susah untuk berpikir jernih, barangkali karena ketinggian.

Setiap kali aku bangun dan berdiri dari istirahat, tubuhku seakan menolak untuk bergerak. Namun, aku harus tetap bergerak karena sebentar lagi puncak, dan sebentar lagi aku akan merayakan keberhasilanku menaklukan puncak tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Aku terus bergerak perlahan ke arah puncak. Pandanganku semakin kabur, karena angin yang begitu kencang membawa serta pasir menabrak mataku. Aku tidak bisa melihat secara jelas karena harus menjaga mataku agar jangan terlalu banyak pasir yang masuk ke mataku. Penglihatanku benar-benar terganggu dan mataku terasa berta untuk dibuka.

Sesaat kemudian, aku merasakan tubuhku terasa ringan dan melayang. Aku berada di lautan pasir yang luas, terdapat tiang aluminium sebagai tempat berkibarnya sang Merah Putih, ratusan pendaki memadati tempat tersebut, dan tidak ada tempat yang lebih tinggi lagi untuk didaki. Aku menyempatkan diri untuk menundukkan kepala, bersyukur atas karunia-Nya. Sejenak aku berkeliling melihat lautan awan yang membentang sampai batas cakrawala. Aku memandang ke bawah, terlihat dataran luas berwarna coklat keabu-abuan, dan tak kalah menariknya asap tebal yang membumbung tinggi ke atas dari kawah Jonggring Saloko—sebutan untuk kawah Semeru.

Puncak tertinggi di Pulau Jawa memberikan sentuhan tersendiri. Aku terharu dan hampir menitikkan air mata sesaat ku mencapai puncak. Sesuatu yang aneh, karena aku belum pernah merasakan hal yang sama sebelumnya. Namun, keinginanku untuk menitikkan air mata seakan sirna seiring dengan datangnya badai pasir. Ragaku seperti akan roboh setiap kali ribuan pasir menabrakku. Aku semakin sulit untuk menikmati eksotiknya Mahameru karena pandanganku terasa penuh dengan pasir. Akhirnya, setelah sekira setengah jam menunggu, keempat kawanku sampai. Tanpa membuang-buang waktu lagi, kami langsung mengabadikan pencapaian ini. Beberapa jepretan berhasil dilakukan di tengah amukan badai pasir.

Kami sedikit kecewa karena upacara bendera dalam rangka peringatan proklamasi kemerdekaan urung dilakukan. Mengingat badai yang terjadi, maka upacara ditiadakan. Kenyataan yang pahit harus kami terima. Namun, aku sendiri sempat melakukan ritual, berdiri dan memberi penghormatan di depan Sang Merah Putih. Selain itu, tak lupa aku dan Farhan mengibarkan Panji PANTERA—korps kebanggaan kami. Aku pun mengunjungi nisan sebagai peringatan meninggalnya Soe Hok Gie dan Idhan Lubis, dua orang MAPALA UI yang meninggal di puncak Semeru beberapa tahun silam.

Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB dan itu berarti kami harus segera turun. Terus terang, aku masih kerasan berada di puncak itu. Namun, waktu, kondisi alam, dan matahari yang menyengat terus memaksaku untuk segera turun. Kami pun segera berdiri dan berderet dalam antrean pendaki. Deretan panjang pendaki yang akan turun layaknya gerbong kereta api yang ditarik oleh lokomotif. Dalam perjalanan turun, tak henti-hentinya indahnya pemandangan mengajak pandanganku untuk terus berkeliling melihat sana-sini. “Pemandangan yang sungguh indah,” kataku lirih. Sesekali aku sadar akan bahaya yang ada, aku pun berusaha untuk memfokuskan pikiranku dan tetap waspada dalam perjalanan turun.

Setelah sekira satu jam akhirnya kami sampai juga di Arcopodo. Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah sejenak beristirahat di Arcopodo. Banyaknya pasir yang menempel dalam pakaian dan di sekujur tubuh membuat perjalanan pun semakin berat. Kami pun harus membersihkan pasi-pasir yang ada di sepatu agar tidak memberatkan langkah. Butuh waktu satu jam dan tentunya dengan perjuangan berat sebelum akhirnya kami sampai di Kalimati. Tanpa berpikir panjang, sesampainya di Kalimati aku langsung masuk ke dalam tenda dan mengenakan kantong tidurku. Keempat kawanku yang lain pun mengambil jalan yang sama denganku.

Teriknya matahari siang itu memaksaku untuk segera mambuka mata. Tak terasa hari telah siang dan kami pun harus segera bersiap-siap untuk turun. Di depanku telah siap makanan dan teh hangat hasil karya dari Farhan, koki hari itu. Tanpa basa-basi lagi aku langsung menyantapnya sesaat Farhan menawariku untuk makan. Salman dan Atok yang tendanya berada tak jauh dari tenda kami terlihat masih sibuk dengan menu hari itu. Kami pun sempat berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya packing dan memutuskan untuk turun. Sebelum beranjak dari Kalimati, tak lupa kami pun sejenak menundukkan kepala berdoa agar perjalanan turun tetap di bawah lindungan-Nya.

 

bersambung…

Posted in: Expedition