Pendakian Gn. Semeru (Hari Ke-4)

Posted on October 21, 2011

0



Perjalanan Menuju MAHAMERU

Menit-menit awal mendaki sekira 3 KM, kami melewati jalanan ber-paving block. Medan yang paling menjemukan buatku. Aku berpikir bahwa aku sedang mendaki gunung wisata dan bukan sedang mendaki Semeru. Paving block yang tertata rapi membuat kealamian Semeru berkurang. Semeru tidak lagi sealami dahulu. “Tahun kamarin belum seperti ini, Ed” kata Farhan mencoba menjelaskan kepadaku tentang kondisi jalan pendakian setahun yang lalu. Aku pun hanya terdiam dan semakin kesal dengan jalanan yang merusak alam ini.

Setelah sekira satu jam, akhirnya kami sampai di Pos 1. Kami pun sejenak beristirahat untuk minum dan mengembalikan tenaga. Kondisi Pos 1 yang telah dibangun semacam saung yang beratap seng dengan bangku panjang di keempat sisinya membuat kami nyaman baristirahat. Tidak ingin terbius suasana, kami pun melanjutkan perjalanan ketika dingin telah merasuk ke dalam pori-pori kulit.

Beberapa meter menuju Pos 2 jalanan masih ditutup oleh paving block, sebelum akhirnya medan menjadi alami kembali. Sepanjang perjalanan, kami ditemani cahaya rembulan yang begitu indah. Sinarnya merasuk ke dalam sela-sela dedaunan. Terangnya membuat kami tidak perlu menggunakan lampu senter lagi. Mungkin sinar dari lampu senter malu dan minder melihat sinar rembulan yang begitu terang tersebut.

Perjalanan pun sampai pada kawasan yang disebut dengan Watu Rejeng, beberapa meter menjelang Pos 2. Kawasan berbatu dan sedikit terjal membuat kami pun harus berhati-hati melewatinya. Sesaat kemudian sampailah Pos 2 yang kami tunggu-tunggu. Kami pun beristirahat sejenak. Namun, udara yang semakin menggigit memaksa kami untuk segera melanjutkan perjalanan. “Ayo keburu dingin.” Ajak Khemal. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Perjalanan menuju Pos 3 pada dasarnya tidak terlalu berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Kami melalui jalanan yang landai walaupun menanjak konstan. Tak terasa keringat telah membasahi pakaianku dan nafas semakin tidak teratur. Aliran darah pun terasa sekali desirannya. Mungkin medan yang menanjak tidak begitu terasa dengan panjang dan landainya jalur menuju Pos 3.

Akhirnya, setelah menempu perjalanan cukup jauh kami sampai di Pos 3. kondisi posnya pun tidak berbeda jauh dengan Pos 1 dan Pos 2, rapi dan baik. Kami beristirahat cukup lama di Pos 3. Aku pun sempat menyalakan sebatang rokok untuk menghangatkan tubuh. Setiap hisapan begitu sangat enak, nyaman, dan hangat terasa. Farhan pun ikut merokok dengan alasan yang sama sepertiku. Kami berdua memang perokok sejati.

Perjalanan kami lanjutkan setelah hisapan terakhir rokok yang kupegang. Beberapa meter ke depan kami melewati jalanan yang begitu menanjak tajam. Kami pun harus pelan-pelan berjalan sambil sesekali berhenti menarik nafas panjang. Hanya beberapa puluh meter, namun terasa sangat jauh. Perjalanan menuju Ranu Kumbolo, sebuah danau yang tidak kalah eksotiknya dengan danau Ranu Regulo, membutuhkan tenaga yang besar. Track yang terjal membuat perjalanan terasa lama.

Sesaat kemudian, kami memasuki kawasan Ranu Kumbolo yang ternyata telah dipenuhi dengan lampu-lampu yang terlihat kecil. Lampu-lampu dari para pendaki yang membuat tenda di sekitar danau. Kami beristirahat sejenak sebelum menentukan posisi untuk nge-camp. Aku lagi-lagi terhipnotis dengan keadaan di Ranu Kumbolo. Cahaya bulan yang dihimpit oleh dua bukit begitu terang menyinari sekitar danau. Riak air yang tenang  memantulkan dengan sempurna sinar rembulan. Kalau saja dua kawanku tidak membangunkan aku, mungkin aku akan terus terhipnotis.

Kami berjalan menyusuri danau untuk mencari tempat mendirikan tenda. Sampai pada akhirnya kami menemukan tempat yang kami anggap pas dan cocok. Tepat pukul 22.00 WIB kami pun mendirikan tenda di tengah-tengah ratusan tenda pendaki lain. Sesaat setelah itu, aku segera membuat air hangat untuk menghangatkan tubuh dan masak nasi karena perut telah kosong sejak sore tadi. Setelah makan dan sholat kami segera memasang perlengkapan tidur dan sesegera mungkin memejamkan mata. Namun, hawa yang begitu dingin hingga minus dibawah nol derajat, membuat kami tidak bisa tidur dengan tenang dan nyaman.

 

bersambung…

Posted in: Expedition