Pendakian Gn. Semeru (Hari Ke-3)

Posted on October 19, 2011

0



Perjalanan ke Ranu Pani

Kekecewaan yang ada sedikit terobati selama perjalanan kami menuju Ranu Pani. Perjalanan yang memakan waktu sekira tiga jam tersebut menyuguhkan pemandangan yang yang bagiku sungguh luar biasa. Jeep yang mengantarkan kami melaju dengan hati-hati karena sempit dan terjalnya jalan di sisi kanan dan kiri. Sesekali mobil yang kami tumpangi harus berhenti sejenak untuk merelakan mobil yang di depannya untuk lewat.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan sejuknya udara pegunungan kota Malang. Sebutan Kota Apel yang melekat untuk Malang nampaknya pantas adanya. Beberapa menit awal perjalanan, lading-ladang apel penduduk luas menghampar di sisi kanan dan kiri jalan. Buah-buah apel yang menggantung pada ranting-ranting pohonnya menjadi daya tarik tersendiri. Memaksa setiap mahluk yang melihatnya untuk mencicipinya. Oh, sungguh perjalanan yang asyik dan menyenangkan.

Hamparan ladang penduduk dan hutan alam menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Sampai pada akhirnya kami melewati daerah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Daerah yang benar-benar vulgar karena setiap detail lekuk tubuh pegunungan Bromo dan Tengger begitu terlihat eksotik. Lautan pasir di kejauhan menghampar sampai cakrawala. Aku begitu terbius dengan keadaan yang ada di sekelilingku. Memandangnya merupakan penawar rasa lelah setelah perjalanan panjang.

Dekapan udara dingin begitu terasa sesaat kami memasuki perbatasan antara Kota Malang dengan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sesaat kemudian, kami memasuki Kecamatan Ranu Pani, sebuah kawasan yang terakhir yang kami lihat sebagai kawasan berpenduduk. Sebuah daerah yang tingginya lebih dari 500 MDPL, dengan orang-orangnya yang selalu mengenakan sarung baik laki-laki atau wanitanya, tua ataupun muda.

Sesampainya kami di Ranu Pani, kami langsung disuguhi oleh eksotisme Ranu Regulo, sebuah danau yang begitu menawan. Pandanganku terasa ditawan oleh keindahan danau yang tidak begitu luas tersebut. Danau yang agak malu-malu menampakkan dirinya dengan berlindung di tengah lembutnya kabut Semeru yang turun di kala senja. Aku begitu tertegun melihatnya dan beberapa menit aku terbius olehnya. Rasa dingin yang menusuk hingga tulang rusuk yang akhirnya membangunkan imajinasiku.

Sekira pukul 16.00 WIB kami ssampai dan bersiap-siap. Pemeriksaan yang begitu ketat terjadi di Base Camp Ranu Pani. Seperti biasa, Farhan lah yang mengurus semua perijinan. Waktu yang ada kami gunakan untuk mendata barang-barang bawaan dan melaporkannya kepada petugas TNBTS. Setiap barang bawaan harus dicatat secara detail, termasuk tidak diperbolehkannya membawa senjata tajam. Kami pun—sekali lagi—diingatkan untuk hanya sampai Kalimati! Suatu perkataan yang buatku cukup menyayat hati.

Banyaknya jumlah pendaki yang pada saat itu mendaftar sedikit membuatku merasa tidak intim dengan pendakian kali ini. Aku membayangkan upacara bendera di puncak nanti tidak akan sekhidmat yang aku harapkan tentunya dengan banyaknya pendaki. Tercatat lebih dari 1000 orang pendaki yang mendaki Semeru. Jumlah yang masih tergolong sedikit untuk moment semisal 17-an. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkahku untuk tetap mendaki sampai puncak. “Maju terus pantang mundur!” kataku dalam hati.

Setelah selesai semua perijinan dan pemeriksaan kami sejenak berdoa untuk keselamatan pendakian. Khemal memimpin doa, “Baik teman-teman, kita tunduka kepala sejenak untuk berdoa, agar perjalanan kita selamat sampai tujuan…Berdoa mulai…Cukup.” Khemal menutup doa. Waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB sebelum akhirnya kami memutuskan untuk naik. Perjalanan pun dimulai dengan langkah pasti untuk sampai ke puncak. Kabut sore langsung menyergap perjalanan kami begitu sampai di gapura desa. “Oh Semeru, kau begitu romantis…” gumamku.

 

bersambung…

 

Posted in: Expedition