Pendakian Gn. Semeru (Hari Ke-2)

Posted on October 16, 2011

0



Malang Kota Apel

Perjalanan panjang yang memakan waktu hampir 24 jam itu cukup membuat tulangku terasa remuk. Kami sampai di Stasiun Malang sekira pukul 06.00 WIB pagi, dan untuk selanjutnya perjalanan kami lanjutkan menuju ke Base Camp Tumpang, base camp nya para pendaki sebelum naik ke Gunung Semeru. Sesampainya di Tumpang, Farhan mengajak kami ke rumah salah seorang temannya. Kami pun ke rumah Mas Rizal, kerap ia dipanggil, yang tidak jauh dari tempat kami mendarat di Tumpang.

Sesampainya di rumah Mas Rizal, kami pun menyiapkan barang-barang sebelum naik. Persiapan dari mulai bersih-bersih, mandi, makan, sholat jumat, packing, dan belanja kami lakukan pada selang waktu antara pukul 11.00 WIB – 14.00 WIB tersebut. Kami sempat mencoba makanan yang katanya khas daerah tersebut. Namanya nasi jagung, yaitu nasi yang dicampur dengan jagung yang diparut dengan lauk seperti urab, ikan asin, tempe. Harga satu porsinya sendiri cukup mencengangkan, hanya Rp. 3000,- kita bias mendapatkan nasi jagung degan bungkus besar dan aneka lauk pauk.

Tak puas dengan makan nasi jagung, kami pun mencoba makanan lain. Kami berbelanja barang-barang kebutuhan pendakian di Pasar Tumpang tak jauh dari rumah Mas Rizal. Kami pun lagi-lagi tercengang dengan murahnya harga barang-barang yang dijual di pasar tersebut. Segalanya ada dan murah. Sampai pada saat dimana kami pun siap dengan semuanya. Kami bertiga akan menaiki sebuah Jeep terbuka yang mampu memuat 17 orang. Suatu kondisi dan pemandangan yang bagiku cukup aneh, dimana mobil yang seharusnya hanya muat untuk empat atau lima orang, harus diisi oleh 19 orang ditambah seorang supir dan kondekturnya.

Sekira setengah jam dari Tumpang, kami berhenti sejenak untuk registrasi di pos awal Taman Nasional Broma Tengger Semeru (TNBTS). Semua hal-hal yang menyangkut perijinan pendakian diurus oleh Farhan dan Khemal. Aku hanya ikut dan menurut saja apa kata mereka berdua karena ini adalah pendakian pertamaku ke gunung tertinggi di Jawa tersebut. Dan, aku begitu kaget ketika mendapat kabar dari Farhan yang bilang bahwa pendakian kami kali ini hanya sampai Kalimati. “Kita hanya boleh mendaki sampai Kalimati saja!” begitu kata Farhan. “Kalimati adalah pos terakhir bagi para pendaki sebelum naik ke puncak, dan kita hanya boleh sampai situ” lanjutnya menjelaskan kepadaku.

Kekecewaan jelas terpancar dari kedua orang kawanku, terlebih aku. Pendakian ke Semeru menjadi impian tersendiri untukku karena beberapa hal. Ingin menjadi ‘orang tertinggi di Jawa’ adalah salah satu alasanku ke Semeru. Selain itu, aku ingin memperingati hari lahirnya Tanah Air tercintaku Indonesia dengan upacara pengibaran bendera Merah Putih di puncak tertinggi di Jawa tersebut. Untuk niatnya sendiri, aku sebenarnya sudah mempunyai niat untuk mendaki ke Semeru 17-an tahun lalu. Namun, hal tersebut harus dibayar mahal karena aku harus ke Purwokerto saat itu dalam rangka menghadiri undangan seminar.

Secercah harapan untuk menggapai puncak Mahameru—sebutan untuk puncak Semeru—harus diburami dengan blangko merah dengan cap bertuliskan ‘SAMPAI KALIMATI’. Aku sedikit kecewa karena ternyata tim kami berada di luar quota untuk bias sampai ke puncak. TNBTS hanya menetapkan quota untuk 660 orang untuk ke puncak, dan tim kami berada pada urutan pendaki ke 675 yang saat itu mendaki ke Semeru.

 

bersambung…

Posted in: Expedition