Pendakian Gn. Slamet 3.428 MDPL (Hari Ke-4)

Posted on September 27, 2011

0



Perjalanan Menuju Puncak

Sekira pukul 01.00 WIB dini hari, kami mulai bersiap-siap ke puncak. Beberapa jam sebelumnya salah seorang dari tim UNISBA, yaitu Black—yang kuketahui namanya kemudian—memutuskan untuk mulai naik ke puncak pada pukul 01.00 WIB. Katanya perjalanan dari Pos 7-Puncak memakan waktu kurang lebih empat atau lima jam. Tanpa pikir panjang, semua orang sepakat—termasuk aku, dan langsung mempercayai omongan dia. Mereka berfikir bahwa Black lah yang paling mengetahui karena dia pernah menaklukkan puncak Slamet sebelumnya. Semua mengikuti anjurannya dan satu jam kemudian siap untuk mulai ke puncak.

Pagi-pagi buta kami mulai pendakian ke puncak. Angin yang malam tadi bertiup sangat kencang mendadak menjadi tenang. Hanya hawa dingin dengan sedikit kabut yang masih menyelimuti pagi itu. Hanya beberapa menit perjalanan, kami telah melewati Pos 8—kami ketahui dari papan yang bertuliskan ‘Pos 8’, tidak ada bangunan yang berdiri. Perjalanan terasa begitu ringan karena semua beban berat kami tinggalkan di Pos 7, kecuali hanya perlengkapan dan keperluan pribadi yang dibawa. Namun, tidak bagiku. Aku tetap membawa tas cariel-ku yang berisi tenda dan beberapa liter air dan makanan ringan. Beban yang sungguh berat melekat di punggungku.

Sesaat kemudian, ketika perjalanan baru sekira satu jam lebih, kami telah sampai di Pos 9. Pos terakhir yang biasa di sebut dengan ‘Plawangan’. Nama tersebut konon diambil karena daerah tersebut adalah perbatasan antara hutan dengan jalur pasir berbatu. Plawangan sendiri berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti ‘pintu gerbang’. Konon katanya juga hal tersebut sebagai pertanda atau sebagai pintu masuk ke alam lain. Suatu daerah yang boleh dikatakan sudah tidak ada lagi vegetasi. Semuanya hanya pasir dan batu hasil dari letusan gunung beberapa tahun silam. Benar-benar gundul. Angin pun dengan bebas berlarian kesana kemari.

Kami pun terus melanjutkan perjalanan di tengah udara dingin yang semakin kencang merasuk ke pori-pori kulit. Kami terus merangkak naik, langkah demi langkah. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk turun kembali beberapa meter ke bawah. Hal tersebut dilakukan karena jarum jam baru menunjukkan pukul 03.30 WIB, sedangkan puncak tinggal beberapa langkah lagi. Karena takut terlalu pagi dan harus menunggu lama beberapa jam untuk bisa melihat sun rise, maka kami pun turun lagi ke bawah. Mencari tempat yang aman dan agak terlindung dari angin. Setelah sekira setengah jam ke bawah, kami pun menemukan shelter yang hanya cukup untuk dua tenda. Itu pun dengan posisi yang sangat curam dan mengerikan.

Kami terpaksa mendirikan tenda di tengah amukan badai untuk menghangatkan tubuh dan sholat subuh. Satu tendaku diisi oleh delapan orang, dan satu tenda lagi dari tim UNISBA diisi dengan tujuh orang. Kapasitas yang sangat berlebih untuk ukuran tenda yang hanya muat empat orang. Tendaku seperti menjerit dan meronta-ronta menahan angin yang begitu kencang. Masing-masing orang harus menahan lajunya angin dari luar dengan cara berjongkok dalam tenda dan menahan tenda dengan punggungnya. Padahal aku sudah memasang pasak di keempat penjuru tenda dan mengaitkan tali dengan batu. Namun, kencangnya angin membuat kami mengeluarkan tenaga ekstra untuk menolong tenda agar tidak terbawa angin.

Setelah semua sholat, aku kemudian memasak air di dalam tenda dan membuat teh hangat. Pukul 05.00 WIB kami bersiap-siap lagi untuk ke puncak dari Plawangan. Aku kembali packing untuk memasukkan tenda dan yang lainnya. Sebuah aktivitas yang sebenarnya paling membosankan bagiku. Apalagi di atas ketinggian 3.000 MDPL kerja otakku semakin berkurang dan konsentrasiku mulai menurun karena faktor cuaca dan ketinggian. Semuanya menjadi terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Aku pun butuh waktu yang cukup lama dari biasanya untuk packing. Setelah semuanya selesai, kami langsung beranjak ke atas melanjutkan perjalanan. Kebetulan saat itu cariel yang kubawa berpindah posisi ke Maul. Sejak saat itu tubuhku terasa beberapa kilogram lebih ringan.

Kondisi cuaca pada saat itu sangat buruk. Kencangnya angin yang bertiup membuat tubuh kami sempoyongan dan kerapkali jatuh tak tahan menahannya. Ditambah dengan tebalnya kabut yang membuat pandangan kami hanya berjarak beberapa meter ke depan, kurang dari lima meter. Akibatnya adalah, pendakian ke puncak tidak bersamaan dan berdekatan. Masing-masing orang saling mendahului untuk mencapai puncak terlebih dulu. Egoisme begitu merajai tiap individu, sehingga kami saling berpencar. Anehnya, kami tidak menyadari akan hal tersebut. Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal.

Pagi itu sinar matahari tak dapat memberikan penerangannya yang maksimal. Sinar kuatnya terhalang oleh kabut yang sangat tebal. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap jarak pandang kami. Selain itu, suhu udara pun sangat dingin. Kabut yang membawa kristal-kristal es membuat sebagian tubuhku basah. Sesekali aku menengok ke belakang dan hanya kabut yang aku lihat. Aku sendiri mengira bahwa kawan-kawanku telah sampai di puncak terlebih dulu. Untuk itu, aku pun berjalan semampuku untuk bertekad sampai ke puncak. Tubuhku terasa sangat ringan. Beberapa kali aku terjatuh tertabrak oleh badai. Aku ingin segera mengakhiri perjalanan yang sangat melelahkan ini.

Saat itu aku hanya melihat Mba Des yang berjalan tertatih-tatih di belakangku. Aku menunggunya, “mana yang lain Mba?” tanyaku kepadanya. “Entahlah,” sahutnya, “Mba pun tidak tahu”. Akhirnya, kami pun berjalan berdua ke atas. Sesaat kemudian, aku melihat beberapa orang yang sedang berfoto-foto. Aku baru menyadarinya jika di posisi mereka berdiri adalah puncak Slamet. Aku berusaha menggapai tangan salah satu kawanku yang telah lebih dulu sampai di puncak. Saat itu aku merasa berada di atas awan dan sangat tinggi, tidak ada daerah yang lebih tinggi lagi. Namun, pandanganku yang hanya beberapa meter—kurang dari tiga meter, membuatku hanya berdiri pada satu titik saja. Aku tidak berani terlalu banyak bergerak karena takut terjatuh ke dalam jurang kawah.

“Alhamdulillah Ya Allah,” kataku lirih, “akhirnya aku sampai di puncak juga.” Aku melihat sedikit di bawahku dan melihat kawan-kawanku sedang berfoto-foto. Aku pun ikut bergabung dengan mereka. Saat itu hanya ada aku, Salman, Atok, Tokek (Tim POLBAN), Desmy, Dini, Aulia (Tim Jakarta), dan Sakti (Tim UNISBA). Hanya ada delapan orang dari 15 orang anggota tim yang sampai puncak. Sesaat kemudian, datang tiga orang pendaki lain. Mereka pun berfoto-foto, dan setelah itu dua orang dari mereka langsung meninggalkan puncak. Hanya satu dari ketiga pendaki itu yang masih terlihat di puncak. Aku tidak sempat bertanya apakah memang mereka satu tim atau tidak, yang jelas mereka bertiga secara bersamaan sampai ke puncak.

Timku pun bertambah menjadi sembilan orang sejak saat itu—satu orang dari pendaki lain. Delapan orang timku ditambah satu orang dari tim lain yang secara kebetulan bertemu di puncak dan memutuskan untuk turun bersama. Hanya beberapa menit kami berada di puncak tertinggi di Jawa Tengah tersebut, sebelum akhirnya kami pun memutuskan untuk turun. Dalam perjalanan turun aku berusaha untuk menjaga ritme langkah kami. Hal tersebut untuk menghindari resiko seperti hilang atau berpencarnya anggota tim dari yang lain. Resiko tersebut sangatlah memungkinkan terjadi karena tidak terlihatnya jalur dan kondisi cuaca yang buruk. Untuk itu, kami beruasaha untuk jalan berdekatan dan tidak ada yang saling mendahului.

Hingga tiba pada suatu kejadian yang begitu membuat kami terguncang. Setelah berjalan turun selama kurang lebih dua setengah jam, kami belum juga sampai di jalur hutan. Kami masih melewati jalur puncak yang gundul, yang hanya dipenuhi dengan pasir dan bebatuan. Perjalanan naik ke puncak hanya butuh sekitar satu jam dari Plawangan. Berarti perjalanan turun pasti kurang dari satu jam. Itulah logikanya. Namun, ternyata logika tidak sepenuhnya benar. Buktinya adalah kami telah melewati dua jam lebih perjalanan turun dan belum juga sampai. Keanehan segera menyergap pikiranku sejak saat itu. Bagaimana mungkin perjalanan turun lebih lama daripada perjalanan naik?

Keanehan berikutnya terjadi lagi. Terdapat jurang di sisi kanan dan kiri jalan yang kami lalui, padahal jurang aliran lava tidak pernah kami temui sepanjang jalan kami naik. Setiap beberapa langkah ke kiri atau ke kanan, kami selalu terhenti oleh dalam dan curamnya jurang di depan kami. Berkali-kali kami pun harus mengulang untuk naik kembali ke atas untuk mencari titik temu atau ujung dari jurang tersebut. Namun, semakin kami ke atas untuk melewatinya, jurang tersebut bukannya bertambah sempit, melainkan bertambah lebar. Padahal logikanya adalahdalam teori perspektif, bahwa dengan kondisi dan bentuk puncak gunung yang kerucut, maka untuk mencari titik temunya kita harus ke puncak kerucut tersebut.

Kami berkali-kali harus turun naik ke puncak hanya untuk melewati banyaknya jurang aliran lava. Hal tersebut harus diperparah dengan bau belerang yang semakin menyengat. Aku menginstruksikan kepada kawan-kawanku untuk memakai syal yang telah dibasahi oleh air.  Hal tersebut dimaksudkan agar bau belerang yang masuk ke paru-paru melalui hidung dapat dinetralisasi oleh air, sehingga dapat mengurangi resiko keracunan. Aku mengajak beberapa kawanku untuk turun mengecek jalur, sedangkan beberapa yang lainnya beristirahat. Aku, Salman, Tokek, dan Sakti mencoba menuruni jalur, dan beberapa saat kemudian kami menemukan adanya tanda-tanda kehidupan. Salman menemukan botol air mineral yang telah kosong, “Ada botol air mineral, berarti pernah ada orang yang melewati jalur ini.” Terangnya.

Aku pun mencoba mengecek dan memang benar, beberapa botol dan sampah terlihat berserakan di lokasi tersebut. “Ayo ikuti saja jalur ini,” kata Salman berusaha meyakinkan yang lain, “Aku yakin ini jalur yang benar”. Menurutku sesuatu yang cukup masuk akal memang. Namun, Sakti berbeda pendapat, “Tidak mungkin lah,” katanya sedikit ngotot, “kita harus jalan ke kiri karena aku ingat betul ada pohon yang tinggi di seberang sana”. Sakti menjelaskan dengan panjang lebar dan memaksa kami untuk menuruti masukannya. Keduanya sama-sama memiliki alasan yang cukup logis menurutku. Untuk menengahi keduanya yang sudah mulai menegang, aku pun membuka kompas yang kubawa.

Aku baru ingat ada kompas di dalam tas kecilku yang kubawa. Lagian aku berpikir bahwa aku tidak akan bisa untuk melakukan navigasi darat untuk mengetahui posisi kami dengan kondisi dan cuaca buruk seperti itu. Aku hanya memakai logikaku dengan mengetahui arah mata angin. Aku ingat, kami berjalan ke utara ketika naik, berarti kami harus berjalan ke selatan ketika turun. Setelah itu, kompas ku buka dan aku mengetahui kemanakah arah selatan yang kumaksud. Dan memang benar, aku sependapat dengan Sakti. Kami pun mengacuhkan saran Salman dan berjalan sesuai petunjuk Sakti. Beberapa meter ke depan, aku membuka kompasku lagi dan keanehan terjadi lagi. Aku menyadari bahwa aku bukan berjalan ke selatan, melainkan ke barat.

Bagaimana mungkin kompas yang kondisinya masih baik bisa salah? Aku pun masih belum sepenuhnya percaya dengan kenyataan itu. Aku mencoba lagi berjalan ke selatan sesuai jarum kompas. Seperti yang pertama, aku selalu membuka kompasku setiap setelah berjalan beberapa langkah ke depan. Dan untuk kesekian kalinya kompasku berubah arah lagi. Aku semakin bertambah bingung dengan prediksi Sakti yang salah. Jalur yang kami lewati ternyata bertambah jauh dan semakin susah untuk dilewati. Akhirnya, kami berempat kembali ke atas menemui yang lainnya dan sejenak beristirahat.

Aku melihat beberapa kawanku sudah sangat lelah. Sudah sangat lama kami berkeliling di tempat itu. Beberapa orang terlihat sangat shock dengan kejadian itu. Pada kondisi yang seperti itu, satu hal yang aku takutkan. Serangan hipotermia karena gigitan udara dingin sangat memungkinkan terjadi. Apalagi beberapa kawanku terlihat kosong dan melamun. Tak ingin kejadian itu terjadi, aku pun menyuruh kawan-kawanku untuk berdoa. Di tengah keheningan berdoa, “cobalah ada yang adzan, siapa tahu kita dapat petunjuk.” kata salah seorang dari kami. Aku pun berpikir sejenak dan menyuruh Salman untuk melaksanakan usulan tersebut. Dan, Salman pun bersedia adzan setelah berkali-kali kubujuk. Beberapa saat kemuadian Salman pun mengumandangkan adzan.

Aku begitu merinding ketika suara adzan terdengar lirih memecah kebuntuan. Sekira lima menit setelah adzan selesai berkumandang, kabut yang tadinya menyelimuti puncak langsung hilang seketika. Badai yang tadinya berkecamuk begitu dahsyat pun langsung reda. Sinar matahari begitu terasa panas. Dataran hijau menghampar di sepanjang pandangan kami hingga batas cakrawala. Puncak pun terlihat cerah dan anggun. Langit terlihat begitu biru dan kondisi cuaca seketika menjadi sangat baik. Sesaat aku terperangah dan terhanyut dengan situasi itu. “Subhanallah…Alhamdulillah ya Allah.” kataku lirih.ucapan syukur pun terlontar dari masing-masing kami.

Aku tersadar bahwa aku harus melakukan plotting menentukan dimana posisi kami. Aku pun membuka kompas yang baru saja aku masukkan ke dalam tasku. Namun, belum juga aku membuka kompasku, badai kembali menyergap dan seketika kami diselimuti oleh kabut yang semakin pekat dan tebal. Kondisi yang lebih parah dari sebelumnya. Aku bertanya-tanya dalam hati, “ada apa sebenarnya ini ya Allah?”. Wajah-wajah yang tadinya ceria kembali menjadi muram semuram cuaca saat itu. Aku segera mumutuskan untuk turun dan mencari tempat yang memungkinkan untuk survival. Suatu tindakan kurasa sangat tepat mengingat kondisi yang seperti itu.

“Lebih baik kita turun ke bawah dan mencari hutan. Kita akan bermalam di hutan dan akan kembali lagi ke puncak pagi harinya,” kataku, “kita tidak mungkin terlalu lama di sini, sedangkan bau belerang sangat menyengat. Pagi nanti kita kembali ke puncak siapa tahu ada kita bertemu dengan pendaki lain”. Sebuah keputusan yang memaksa kami untuk survival, karena kami hanya membawa sedikit air kurang dari satu liter dan sama sekali tidak ada makanan. Sebagai pemimpin tim, aku dituntut untuk memutuskan segala sesuatunya dengan tepat dan bijak. Aku dituntut untuk menjadi pembuat keputusan yang bijak (good decision maker). Untuk itu, aku yakin keputusan tersebut sangatlah tepat dan bijak jika mengingat kondisi dan situasi saat itu.

Kami segera beranjak menuruni puncak setelah keputusanku disetujui oleh yang lain. Namun, cobaan tidak berhenti sampai di situ. Dalam perjalanan turun, terjadi kecelakaan yang cukup fatal. Pertama, Atok yang kakinya tertimpa batu berukuran sangat besar kurang lebih seukuran televisi 21 inci. Batu yang sangat besar tersebut menimpanya setelah salah seorang dari kami menginjaknya. Batu tersebut langsung terperosok ke bawah dan mengenai kedua kaki Atok yang kebetulan berada tepat di bawahnya. Seketika itu Atok langsung mengerang kesakitan dan langsung tidak bisa bergerak. Akibatnya, Atok tidak bisa berjalan. Kedua, tak berapa lama dari kejadian pertama, Sakti sobek kakinya beberapa centimeter terkena batu puncak yang tajam. Darah pun mengucur dari kakinya tersebut.

Pertolongan pertama pun dilakukan kepada keduanya. Namun, Atok tetap saja tidak bisa berjalan sedangkan Sakti tertatih-tatih dan hanya mampu berjalan dengan satu kaki. Perasaan kalut terus membayangiku dengan kejadian yang tepat terjadi di depan mataku. “Apa yang harus kuperbuat,” jeritku dalam hati. Aku berusaha untuk menutupi kekalutanku. Aku tidak ingin kawan-kawanku mengetahui hal ini. Keadaan akan lebih buruk jika mereka tahu akan hal ini. Aku berusaha untuk tegar dan kami pun tetap melangkah.

Sepanjang perjalanan turun aku ditemani dengan sebuah peluit yang Mba Des kasih kepadaku. Suara peluit terus menemani perjalanan kami. Selain itu, suara kawan-kawanku yang terus keluar dari mulut masing-masing mencoba mencari pertolongan. Pikiranku melayang-layang dan semakin berhalusinasi yang tidak-tidak. Wajah-wajah putus asa pun menyelimuti dan begitu terlihat. Dengan peluit yang terus menempel di mulutku aku berjalan menuruni puncak. Langkah gontai tak membuat semangatku pudar. aku tetap optimis dalam menyongsong hari esok. Aku yakin semuanya akan berlalu seperti layaknya siang berganti malam dan malam berganti siang.

Setelah beberapa menit kubunyikan peluit. Aku serasa mendengar sautan peluit entah dari mana, yang jelas aku sangat hafal dengan suara peluit itu. “Ya, itu peluit PANTERA, kalau bukan Maul pasti Panji.” kataku dengan yakin, “kalian mendengarnya?”. Aku semakin cepat dan kencang meniup peluitku. “Ya, aku mendengarnya,” kata Mba Des, “aku pun mendengar suara seperti ada pendaki lain”. Beberapa menit kemudian, dari balik kabut aku melihat dua orang sedang menuju ke atas. Sesaat aku sadar bahwa mereka adalah Maul dan Dwiko, dua orang tim kami yang lain. “Alhamdulillah,” kataku pelan. Mereka langsung bertanya tentang kondisi kami, dan kukatakan bahwa yang terpenting sekarang adalah secepatnya ke base camp tidak usah terlalu banyak bicara.

Aku dan Maul berusaha memapah Atok yang sama sekali tidak bisa berjalan. Kami agak kesusahan dengan medan yang seperti itu, untuk berjalan sendiri pun sebenarnya aku sudah sangat susah. Pada ketinggian dan kondisi dingin seperti itu, kerja otakku sedikit lambat dan pergerakanku pun sangat terbatas. Kami pun langsung menuruni lereng dan sesaat kemudian kami sampai di Plawangan. Aku menyuruh kawan-kawanku untuk segera ke base camp. Sejenak aku beristirahat dan meminta makanan dan minuman yang dibawa oleh Dwiko. Aku merenung dan sesaat pikiranku melayang entah kemana. Membayangkan kejadian yang hampir saja merenggut nyawaku dan kawan-kawanku. Aku masih terlihat seperti orang gila yang duduk termenung sendiri.

Beberapa menit kemudian, aku tersadar dan terbangun dari lamunanku. Aku langsung berdiri dan berjalan menuju ke base camp. Sesampainya di base camp aku melihat beberapa orang timku tertidur pulas, dan beberapa yang lainnya terlihat sedang memasak. Aku langsung membuka pakaianku yang sudah basah kuyup dan menggantinya dengan yang kering. Setelah itu, aku meminum beberapa teguk minuman hangat ayng dibuat oleh Maul dan waktu siang itu aku habiskan dengan melamun. Sesekali kawan-kawanku mengajakku untuk ngobrol. Namun, aku hanya menanggapi seperlunya karena aku masih belum bisa melupakan kejadian tadi.

Aku begitu tercengang ketika salah satu kawanku mengatakan bahwa kami sebenarnnya hanya berjalan di sekeliling tempat itu saja. “Sebenarnya kalian hanya berputar-putar di tempat itu saja,” kata Dwi, salah seorang kawnku yang tidak ikut ke puncak, “aku lihat tadi saat kabut sejenak mengholang”. “Apa?” sekali lagi aku bertanya kepadanya. “Iya, kalian hanya berkeliling di satu tempat.” Dwi kembali menjelaskan. Mana mungkin kami hanya berputar di satu tempat saja sedangkan kami telah menghabiskan waktu lebih dari enam jam di puncak?

 

bersambung…

Posted in: Expedition