Pendakian Gn. Slamet 3.428 MDPL (Base Camp-Pos 7)

Posted on September 20, 2011

0



Perjalanan Pos 7-Puncak

Kami memulai pendakian dengan perjuangan yang cukup berat. Medan yang kami lalui benar-benar tidak memberikan kesempatan untuk menarik nafas panjang. Jalanan terus menanjak dan kami pun berjalan dengan perlahan. Sesekali berhenti untuk beristirahat dan minum. Selama lebih dari dua jam kami melalui ladang dan perkebunan penduduk. Banyaknya percabangan jalan membuat kami sesekali tersesat dan harus berbalik arah mencari jalur yang benar. Beberapa kelompok pendaki kami jumpai sepanjang perjalanan. Mereka rata-rata memanfaatkan momen tahun baru untuk mendaki. Setelah bersusah payah, akhirnya selesai sudah jalur ladang penduduk dan mulailah masuk jalur hutan.

Gunung Slamet telah menjadi Taman Nasional. Hutannya telah menjadi hutan lindung milik pemerintah daerah setempat dan termasuk ke dalam perkebunan nusantara (PTPN). Hal tersebut menjadikan Slamet masih terlihat alami dan asri. Hutannya masih lebat dan kesan naturalnya menjadikan Slamet nampak eksotik dibandingkan dengan gunung-gunung lain, khususnya di Pulau Jawa. Namun, keasrian Slamet harus dikotori dengan ulah beberapa pendaki yang menyampah. Banyaknya sampah yang berserakan membuat Slamet nampak kumuh dan tidak terawat. Aku berpikir bahwa ternyata tidak semua pendaki adalah pencinta alam, ada juga yang menjadi perusak alam.

Sepanjang perjalanan aku sebisa mungkin mengumpulkan sampah dalam kantong kresek yang kubawa. Terus terang aku tidak rela membiarkan kecantikan Slamet tercoreng dengan sampah yang menumpuk. Aku pun mengajak kedua kawanku untuk melakukan hal yang sama. Mungkin satu pendaki berpikir bahwa tidak masalah jika ia saja yang membuang sedikit sampahnya. Namun, akan lain jadinya jika ratusan atu bahkan ribuan pendaki mempunyai pikiran yang sama. Dan, jika seperti itu, maka tidak lama lagi Slamet akan menjadi gunung sampah yang kotor dan bau.

Perjalanan menempuh jalur hutan terasa nyaman bagiku, walaupun jalanan yang terus menanjak. Nyaman karena sepanjang jalan rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi melindungi kami dari sengatan matahari siang. Satu lagi, banyaknya shelter—tempat yang cukup luas yang dapat memuat satu tenda sebagai tempat camp—menjadi daya terik tersendiri bagi Slamet. Sepanjang jalur pendakian di sisi kanan dan kiri jalan dapat ditemui shelter yang hanya berjarak beberapa meter saja, dari shelter satu dengan yang lainnya. Kondisinya pun baik, cukup nyaman dan terlindung dari angin dan terik matahari.

Selama kurang dari dua jam perjalanan, akhirnya kami pun bertemu dengan tim Jakarta beberapa meter menjelang Pos 2. Mereka sedang packing dan bersiap-siap akan melanjutkan perjalanan kembali setelah bermalam di tempat tersebut, saat kami datang. “Assalammualaikum…” aku mengucapkan salam. “Waalaikumsalam,” serentak mereka menjawab. Aku langsung memperkenalkan timku, Panji dan Maul kepada mereka. Kami langsung bergabung dengan mereka, bersalaman, cair, dan saling berbincang. Tak lama kemudian mereka berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, “Kita duluan ya, nanti ketemu di jalan saja,” kata Mba Des. “Siip, kami sarapan dulu mba, lapar euy.” jawabku.

Tim Jakarta berjumlah lima orang, yaitu Dwiko, Dwi, Aulia, Desmy, dan Dini. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Saat kami temui, mereka ternyata bersama tim dari Bandung yang kebetulan bertemu di base camp. Tim Bandung beranggotakan tiga orang laki-laki. Mereka adalah Salman, Tokek, dan Atok, yang kebetulan juga satu kampus di Politeknik Negeri Bandung (POLBAN). Salah satu dari mereka, Salman, adalah temanku yang telah aku kenal sebelumnya. Aku mengenalnya dari Tio—kawanku dari PANTERA. Salman dan Tio satu almamater ketika SMA. Itulah awal perkenalan kami dengan tim-tim lain

Aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu karena dari pagi perut kami hanya diisi air dan air, tanpa asupan makanan. Kami harus mengisi tenaga agar perjalanan ke depan lebih bersemangat lagi. Maing-masing dari kami pun langsung mengeluarkan perlengkapan dan bahan-bahan makanan. Kami menghabiskan waktu kurang dari satu jam untuk masak dan makan. Setelah semua selesai, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali. Kami yakin bahwa mereka belum jauh dan masih dapat dikejar. Apalagi dengan tenaga kami yang sudah terisi dan siap tanding.

Tepat sekali dugaanku, tidak berapa lama, kami pun mampu menyusul mereka yang terlihat kelelahan. Mereka beristirahat di Pos 2, dan mereka dengan sengaja menunggu kami. “Wah cepat juga kalian ya,” kata salah seorang dari mereka salut. “iya dong!” jawabku sambil mencari tempat untuk duduk. Kami pun langsung bergabung dengan mereka. Jadi, sekarang tidak ada lagi penyebutan tim Jakarta atau tim Bandung, yang ada hanyalah tim ekspedisi Slamet. Tim dengan personel 11 orang, dan aku yang menjadi pemimpin ekspedisi.

Perjalanan berlanjut dari pos ke pos. Hingga pada akhirnya kami sampai di Pos 5—setelah kurang lebih lima jam perjalanan, pos yang biasa disebut dengan pos mata air. Barangkali sesuai dengan namanya, pos tersebut memang terdapat mata air dan posnya pun terlihat nyaman dengan adanya bangunan yang terbuat dari seng. Ukuran bangunannya pun boleh dikatakan cukup luas, mampu menampung dua tenda ukuran normal di dalamnya.  Satu lagi, pos tersebut aman dari gangguan badai, karena sisi atas, kanan, dan kirinya dibuat dari senga yang sangat kokoh. Berada di ketinggian lebih dari 2.000 MDPL dengan udara yang cukup terbuka, membuat angin dengan bebas keluar masuk.

Kami mengisi botol-botol air yang telah kosong sebagi bekal ke puncak. Sebagian yang lain beristirahat untuk menghemat tenaga. Dengan jumlah personel 11 orang, kami pun harus membawa banyak air ke atas. Satu orang minimal harus membawa dua sampai tiga liter air untuk bekal selama satu hari satu malam. Bekal yang tergolong cukup banyak untuk perorangnya. Setelah semua botol terisi dan cukup untuk istirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali. Rencanaku, kami akan nge-camp di Pos 7, pos terakhir jalur hutan yang konon katanya lebih nyaman dari Pos 5 tadi. Jarak dari Pos 5 ke Pos 7 sekira dua sampai tiga jam perjalanan standar.

Sepanjang perjalanan dari Pos 5 kami ditemani dengan kabut yang terus naik dari bawah dengan membawa uap air. Terasa sejuk dan dingin udara siang menjelang sore itu, dan untuk sesekali turun gerimis dari kabut yang lewat. Kami pun menyempatkan diri untuk berfoto beberapa jepretan. Dan, sesaat kemudian, sampailah kami pada sebuah daerah yang sangat gersang. Sisa-sisa kebakaran hutan meninggalkan luka yang mendalam bagi biota Slamet. Beberapa bulan yang lalu tersiar berita bahwa puluhan hektare lahan di Slamet terbakar. Entah apa penyebabnya, yang jelas hal tersebut menjadi luka yang mendalam bagi Slamet.

Kebakaran yang terjadi hanya beberapa meter menjelang puncak meninggalkan kondisi yang sangat parah. Hawa panas pun serasa menyeruak sesaat setelah kami melewati daerah tersebut—padahal pakaian kami masih basah kuyup karena gerimis. Kami sempatkan diri untuk mengambil beberapa gambar memprihatinkan tersebut. Aku sedikit yakin bahwa ulah manusialah yang telah menyebabkan semua ini. Dengan sampah yang menggunung, dan terik matahari yang begitu dahsyat tidak mustahil jika sangat mudah terjadi kebakaran. Ditambah dengan banyaknya pecahan botol di sepanjang jalan tersebut, yang mampu menjadi mediator pembuat nyala api jika terkena sinar matahari.

Pantas saja jika alam marah, dan menumpahkan semuanya itu pada manusia. Karena manusialah yang seringkali berbuat kerusakan di muka bumi. Tapi sudahlah, aku berdoa dalam hati semoga kondisi seperti itu cepat mendapat perhatian dan Slamet akan segera pulih dan menjadi cantik kembali. Tak terasa perjalanan telah memakan waktu lebih dari satu jam dan Pos 6 pun telah kami lewati. Hanya tinggal beberap meter ke depan kami akan menjumpai Pos 7 dan segera beristirahat. Aku terus memotivasi diri dan juga kawan-kawanku bahwa sebentar lagi kita akan sampai ke Pos 7.

Sekira satu jam dari Pos 6, kami pun menemukan bangunan yang mirip dengan Pos 5. Pikiranku langsung mengarah pada Pos 7, mungkin inilah yang dimaksud. Ternyata tepat dugaanku. Terdapat papan terbuat dari kayu bertuliskan ‘Pos 7’. “Alhamdulillah…” kataku lega, “ayo kawan-kawan segera masuk istirahat.” Terpancar juga rasa lega—di sela-sela kelelahan, dari kawan-kawanku setelah mengetahui telah sampai di Pos 7. Semuanya masuk ke dalam Pos 7, dan beberapa dari kami menyiapkan makanan. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara dari luar pintu. Suara ketokan pintu membuatku merasa penasaran dan langsung membukanya. “Masih ada ruang kosong?” tanya salah seorang dari empat orang yang aku lihat. “Oh, masih ada kok. Masuk saja,” jawabku setelah yakin bahwa masih ada ruang untuk beberapa orang.

Keempat pendaki yang datang beberapa menit setelah timku akhirnya bergabung. Mereka mengaku berasal dari Bandung, ada yang mengaku dari Universitas Islam Bandung (UNISBA). “Ternyata jauh-jauh ke Jawa, ketemu juga orang Bandung,” kataku lirih. Dan, akhirnya kami pun menjadi satu tim karena tujuan yang sama, yaitu puncak. Untuk sekarang, tim ekspedisi Slamet bertambah menjadi 15 orang, 13 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Dengan kondisi Pos 7 yang cukup luas, kami mendirikan tiga tenda di dalam pos. Padahal, tanpa mendirikan tenda pun akan sangat aman dari badai. Namun, untuk kenyamanan kami pada akhirnya tetap mendirikan tenda.

Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 WIB saat semuanya selesai makan. Kami sesegera mungkin beristirahat. Udara di luar begitu sangat dingin disertai dengan rintik hujan. Angin pun serasa tidak mau berhembus pelan. Kecepatannya hampir-hampir membuat atap pos berterbangan. Suaranya bagaikan deru pesawat jet yang akan tinggal landas. Aku menyempatkan diri untuk melongok ke luar, suasana mencekam terasa begitu kuat. Pandanganku hanya beberapa meter karena terhalang kabut yang begitu tebal. Suatu kondisi cuaca yang paling buruk yang pernah aku alami selama beberapa kali mendaki gunung. Apakah ini sebuah pertanda akan datangnya bahaya?

 

bersambung…

 

Posted in: Expedition