Pendakian Gn. Slamet 3.428 MDPL (Hari Ke-2)

Posted on August 25, 2011

0



Tanggal 29 Desember 2007 pukul 08.00 WIB aku telah untuk berangkat. Terlebih dahulu aku menunggu kedua kawanku di base camp PANTERA. Setelah satu jam menunggu akhirnya keduanya datang dengan barang bawaan masing-masing. Satu jam berikutnya kami pun cek ulang perlengkapan pendakian. Setelah semuanya siap, kami pun langsung berangkat menunggu bus. Belum lama menunggu, bus jurusan Bandung-Tegal pun datang dan kami segera naik. Perjalanan menuju Tegal akan memakan waktu sekira lima jam.

Sepanjang perjalanan aku dan tim Jakarta terus berhubungan lewat telepon. Saling bertanya kabar, berapa yang ikut naik, cek logistik dan perlengkapan masing-masing. Aku berusaha mencuri-curi waktu untuk memejamkan mata. Maklum saja, hanya beberapa jam aku tidur semalam. Sebenarnya dapat dikatakan aku tidak tidur semalam karena aku masih meyakinkan dan membulatkan tekad untuk ke Slamet. Berbeda denganku, kedua kawanku kelihatan nyenyak tidur. Wajar mungkin, mereka baru saja melewati mabim mereka yang panjang dan ‘menyesatkan’.

Bagiku perjalanan ke Tegal merupakan nostalgia. Aku berasal dari Tegal dan aku hafal betul jalanan yang setiap pulang kampung aku lalui. Dan, tepat prediksiku, kami pun sampai di Kota Bahari setelah lima jam perjalanan. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, dan aku masih harus berbelanja barang-barang titipan tim Jakarta. Setelah semuanya beres, kami langsung naik bus untuk meneruskan perjalanan ke Purwokerto. Perjalanan Tegal-Purwokerto akan memakan waktu sekira empat jam waktu normal.

Waktu perjalanan kami habiskan dengan tidur, sesekali bangun dan kemudian tidur. Perjalanan yang sempat diwarnai dengan hujan tersebut membuatku merasa bosan. Hingga aku berharap segeralah sampai karena seluruh badanku terasa pegal-pegal terlalu lama duduk. Untunglah aku masih punya rokok yang menjadi pelampiasan rasa bosanku. Namun, tetap saja setelah habis berbatang-batang, aktivitas yang monoton pun kembali berlangsung. Saat itu pula, aku mendengar kabar bahwa tim Jakarta telah sampai di base camp Slamet. Aku jadi merasa tidak enak karena pasti mereka akan menunggu kami cukup lama.

Empat jam berlalu dan kami pun sampai di terminal bus Purwokerto. Bergegas turun, kami langsung menuju warung untuk mencari minuman penghangat tubuh karena saat itu udara cukup dingin. Sembari minum, aku berinisiatif untuk bertanya kepada seseorang yang berada di terminal tentang kendaraan yang harus kami tumpangi untuk sampai di kaki Slamet. “Ada mas angkot, tapi mas harus bayar dua sampai tiga kali lipat dari biasanya karena sudah malam,” kata seorang yang aku tanya. “Ongkos angkot yang mengantar para pendaki ke daerah Purbalingga biasanya tak lebih dari Rp. 10.000.-. namun, jika kondisinya sudah malam, maka bisa menjadi Rp. 20.000,- atau lebih.” lanjutnya.

Aku berpikir orang-orang sekarang telah terasuki virus materialisme Barat. Bagaimana mungkin hanya berbeda kondisi semua harga menjadi tiga kali lipat! Sungguh ironis memang. Setelah bertanya, aku pun langsung berdiskusi dengan Panji dan Maul, dan mereka juga sepakat denganku untuk melanjutkan perjalanan esok harinya. Setelah keputusan bulat, maka kami segera mencari masjid untuk sholat dan bermalam. Jadilah kami bermalam di masjid di dalam terminal. Di masjid, kami sempat membuka perbekalan dan memasak nasi. Setelah makan selesai barulah kami bertiga beristirahat.

bersambung…

Posted in: Expedition