Pendakian Gn. Slamet 3.428 MDPL

Posted on August 23, 2011

0



Musim kemarau telah beranjak terganti oleh hujan. Tanah Jawa yang semula gersang dan terbakar menjadi kembali basah dan hidup.

Sekilas tak ada yang menarik dari pergantian musim tahun ini. Namun, siapa yang sangka jika di atas sana terjadi sesuatu yang mengerikan. Amukan badai bak serigala yang mengamuk terjadi di ketinggian 3.428 MDPL.

Badai yang telah membuat kami kalang kabut. Badai yang akan menjadikan kami rapuh dan begitu tidak berdaya.

Alam tak pernah bertoleransi.

Hari Ke-1

Saat itu aku dan kawan-kawan (PANTERA) baru saja selesai melaksanakan masa bimbingan (mabim) gunung hutan angkatan pertama. Setelah tiga hari dua malam berjalan entah dimana—karena kami sendiri tidak mengetahui posisi kami—akhirnya  kami menemukan peradaban. Suatu perjalanan yang cukup menantang adrenalin. Tersesat, sehingga kami pun harus naik turun bukit dan buka jalur baru. Kejadian yang tidak kami duga-duga sebelumnya. Berjalan dari Bandung-Subang dengan bekal seadanya. Sungguh perjalanan yang tidak akan pernah aku sendiri lupakan.

Aku masih dirundung kebingungan, sesaat setelah mba Desmy—salah satu kawanku dari Jakarta yang pertama kali bertemu di Gunung Lawu, Jawa Tengah—mengontakku dan mengajakku ke Gunung Slamet. Sebenarnya, pendakian ke Slamet telah direncanakan beberapa hari sebelumnya. Mba Des, begitu kerap disapa, dan beberapa kawannya berencana tahun baruan di Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah. Aku telah berjanji bahwa aku bisa mendaki sesuai jadwal yang ditentukan. Untuk itu, aku pun tidak ingin mengecewakan kawan-kawanku dan pastinya tidak ingin mengingkari janjiku tersebut.

Rasa ragu masih membayangiku sesaat setelah kami (PANTERA) sampai di Jatinangor. Namun, aku begitu yakin saat aku kembali mengontak Mba Des tentang fiksasi keikutsertaanku dalam pendakian Gunung Slamet. Malam itu, aku mengajak dua orang kawanku dari PANTERA, Maul dan Panji. Sembari makan bareng setelah mabim selesai, kami berbincang-bincang tentang rencanaku ke Slamet. “Aku akan ekspedisi ke Slamet, kalian ikut tidak?” tawarku kepada mereka berdua. “Wah minggu depan ada UAS (Ujian Akhir Semester) euy…” kata Panji yang dengan segera di-iya-kan oleh Maul.

Perdebatan malam itu pun berlangsung cukup lama sebelum akhirnya mereka ikut serta denganku ke Slamet. Saat itu aku berpikir bahwa aku harus mengajak kawan-kawan PANTERA Muda—sebutan untuk anggota baru PANTERA—untuk pengalaman mereka. Aku pun sebenarnya malas untuk pergi sendiri. Perjalanan yang cukup panjang dari Bandung-Purwokerto yang memakan waktu lebih dari 10 jam tersebut enggan aku habiskan sendiri. ‘OK, kita ikut!’ Itulah kata-kata yang membuatku cukup tenang. “Akhirnya aku tidak sendiri ke Slamet,” kataku lega.

 

bersambung…

Posted in: Expedition