Altruisme Ibukota

Posted on August 18, 2011

0



Beranjak dari sebuah pelosok di Tatar Pasundan, aku pun mengembara mencari ilmu. Di sini di Jakarta. Berbekal keyakinan aku memulai perjalanan itu. Kini, aku telah sampai di tanah yang katanya bengis itu. Berkali-kali aku telah berpijak di tanah ini. Namun, entah kenapa aku belum bisa bersahabat dengan ibu kota.

Belajar dan belajar. Itulah aktivitas awalku di tanah yang baru itu. Tiap jengkal waktu kuhabiskan hanya dengan membaca dan belajar. Tiap detik tak lebih dari sebuah seremoni belaka. Dan, serentetan seremoni itu membuatku terkungkung. Aku menjadi merasa teralienasi oleh dunia luar. Aku menjadi seorang yang picik dengan hanya memandang bahwa duniaku kini adalah segalanya. Jakarta adalah kunci kesuksesan.

Aku bosan. Aku muak. Dan, aku jengah dengan kondisi dan situasi macam itu. Belakangan kuakui dan kusadari bahwa itu sangatlah keliru!

Aku ingin berkomunitas. Aku ingin seperti yang Abraham Maslow bilang sebagai kebutuhan tertinggi manusia dalam piramida kebutuhannya. Aku ingin aktualisasi diri. Tapi di mana?

Pelan-pelan akhirnya kutemukan juga jawabannya. Bermasyarakat. Ya, sebuah wadah tempatku mengekspresikan otak dan rasaku. Suatu entitas di mana ada kebahagiaan otak, kesejahteraan rasa, dan kematangan ilmu yang terbagi, bukan hanya milik seorang diri. Masyarakat adalah suatu laboratorium ilmu.

Lalu, duniaku menjadi begitu berwarna semenjak aku berkomunitas dalam masyarakat sini. Hari-hariku menjadi tak monoton dengan aku bersosialisasi. Aku menjadi benar-benar bermakna karena itu. Aku pun memulai karya seniku di dalamnya.

Namun, belakangan aku sendiri merasa kini tak seperti dahulu. Detik ini tak sama dengan detik waktu itu. Masyarakat yang ada kini berbeda dengan waktu itu. Rumahku tak seramah dahulu. Aku seperti menjadi tamu di rumahku sendiri. Ini bukan seperti Indonesia.

Rumah itu kini kehilangan altruis-altruisnya. Tak ada lagi kepentingan bersama. Tak ada perhatian kepada sesama. Nominal menjadi tolok ukur. Suasasa rumah kita telah jauh dari altruistis. Semuanya serba individulistis. Segalanya serba materialistis. Meski Indonesia bukan hanya Jakarta, tapi setidaknya Jakarta adalah representasi Indonesia.

Terus terang aku merindukan karakteristik masyarakat Indonesia yang benar-benar larut di dalam kelompoknya, sehingga tidak memiliki kepentingan sendiri yang berlawanan dengan kepentingan kelompoknya.

Dirgahayu Indonesia ke-66. Semoga altruisme itu masih ada di bumi pertiwiku.

 

Dimensi 3X3, Salemba, 18 Agustus 2011