Komunikasi Kita (Part. 4)

Posted on July 16, 2011

0



Antara Legato dan Staccato

“Tidak ada rintangan yang lebih hebat untuk berbicara di depan umum selain resah dengan diri sendiri” (Honore de Balzac).

Rasa nervous akan muncul manakala kita mengetahui bahwa kita akan dinilai. Ada dua kemungkinan ketika kita tahu akan dinilai, yaitu apakah penilaian akan mengangkat dirinya ataukah justru akan menjatuhkannya. Namun, seseorang cenderung memperhatikan yang kedua. Bagaimana nantinya ketika ucapannya tidak didengar oleh orang lain? Alangkah malunya jika kita ditertawakan oleh orang lain? Hal-hal seperti itu senantiasa membayangi seseorang dalam berbicara. Padahal, seandainya penyampaian kita gagal, kita tidak akan dinilai serendah itu. Namun, terkadang kita lebih memikirkan hal-hal tersebut ketimbang memikirkan isi atau pesan yang akan disampaikan ketika berbicara.

Berbicaralah dengan rasa dan warna yang hidup. Coba Anda bayangkan wajah yang tak pernah tersenyum, tak ada ekspresi, tak ada tanda emosi, dengan mata suram atau tanpa kesan ramah. Akan terkesan bodoh, bukan? Suara pun dapat demikian. Dalam berbicara seorang komunikator dapat menggunakan variasi dengan nada, jeda, bahasa, dan ekspresi.

Layaknya dalam musik, dalam berbicara pun dikenal dua istilah yaitu legato dan staccato. Menurut kamus Webster’s Second International Dictionary, legato adalah hubungan dan kelancaran tanpa ada hambatan di antara nada yang berurutan. Staccato adalah “tidak berhubungan” memotong pendek atau terpisah dalam penampilan.

Makin staccato bicara Anda, maka suara menjadi tidak menarik. Berbicara secara legato akan bersuara seperti rentangan dimana antara suku-katanya dijalin seperti tasbih, tidak memiliki simpul yang memisahkan. Sedangkan orang yang berbicara staccato memutus-mutus frasa kata demi kata dan memutus kata-kata menjadi suku-kata yang terpisah, sehingga pembicaraan terdengar seperti orang gagap.

Silakan memilih…