Komunikasi Kita (Part. 3)

Posted on July 13, 2011

0



*Prinsip-prinsip Retorika

a) Kontak; Kontak merupakan hubungan yang terjadi antara pembicara dengan pendengar. Pandanglah orang atau khalayak yang ada di depan Anda ketika berbicara. Pandanglah hadirin secara keseluruhan dan tidak sebagian. Pahami ekspresi para pendengar, semisal ketika hadirin mengernyitkan dahi, tersenyum, dan lain sebagainya ketika Anda berbicara.

b) Karakteristik Olah Vokal; Merupakan kemampuan pembicara dalam mengubah bunyi menjadi kata, kalimat, atau ungkapan. Stewart Tubbs dan Sylvia Moss dalam bukunya ”Human Communication; An Interpersonal Perspective” mengatakan bahwa;

”secara intuitif kita merasa bahwa kita dapat menarik kesimpulan dari suara tentang apa yang ia komunikasikan. Mungkin Anda pernah berdebat, kemudian seseorang berkata, ”Jangan jawab aku dengan nada suara seperti itu!” Pada saat seperti itu, emosi mulai naik, karena keberatan akan nada suara seseorang didasarkan pada penyimpulan mengenaiperasaannya. Vocal cues (petunjuk suara) adalah sumber berbagai macam penyimpulan, dan kebanyakan berkaitan dengan emosi”.

c) Olah Visual; Yaitu olah gerak dari pembicara yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Para pakar komunikasi membaginya ke dalam dua jenis, yaitu gerakan fisik (physical action) atau tubuh (bodily action) dan alat-alat visual (visual aids).

Selain hal-hal tersebut di atas, dalam berbicara di depan orang banyak (khalayak) dikenal juga prinsip tiga P (3P), yaitu pause, poise, dan pose. Pause adalah hentian yang tepat, dengan menunjukkan olah vokal yang baik. Maksudnya adalah bagaimana caranya pembicara memotong pembicaraan atau kalimat-kalimat sehingga menghasilkan pembicaraan yang dapat diterima oleh pendengar. Poise adalah kepercayaan diri, ketenangan, dan kredibilitas. Seorang pembicara harus memiliki kepercayaan diri yang kuat, ketenangan dalam menghadapi massa, dan kredibilitas dalam berbicara menyampaikan pesan. Pose adalah penampilan seorang pembicara di depan khalayak. Bagaimana penampilan mulai dari pakaian dan lain sebagainya seorang pembicara di depan pendengara akan mempengaruhi perhatian khalayak.

Satu hal yang terpenting dalam retorika adalah bagaimana cara kita dalam menyampaikan pesan dan kepada siapa kita menyampaikannya, untuk kemudian meyakinkan atas apa yang kita sampaikan tersebut. Sekali lagi, tidak ada rumus baku dalam retorika. Untuk itu kita bebas dalam menyampaikan apa yang kita inginkan dengan gaya kita sendiri. Syaratnya adalah kita harus mengoptimalkan panca indera kita. Menggunakan telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, hati untuk merasa, tangan untuk meraba, hidung untuk mencium dan yang terpenting adalah tidak bosan untuk berlatih ’berbicara’.

*Diinspirasi dari berbagai sumber.

Posted in: Article, Book Recency