Komunikasi Kita (Part. 2)

Posted on July 11, 2011

2



*Membangun Kepercayaan Diri dan Kredibilitas

Keinginan untuk didengar adalah satu harapan pasti seorang komunikator dalam berbicara. Dan, agar omongan dapat didengar salah satu faktor intinya adalah soal kredibilitas sang pembicara. Kredibilitas tidak melekat pada diri seseorang. Kredibilitas terletak pada persepsi khalayak tentang pembicara. Kredibilitas sendiri dapat dibangun dan dibentuk karena kredibilitas sama dengan persepsi. Salah satu komponen terpenting dari kredibilitas adalah otoritas. Memiliki otoritas berarti memiliki keahlian yang diakui. Seorang Taufik Ismail tentu akan sangat hafal dan faham ketika ia ditanya mengenai sastra dan puisi, karena ia memiliki otoritas. Kemudian, apa saja yang menyebabkan seseorang memiliki otoritas?

Pertama ; otoritas dibentuk karena orang melihat latar belakang pendidikan dan pengalaman. Harus diakui, bahwa setiap orang tentu memiliki otoritas untuk bidang yang sesuai dengan pendidikan dan pengalamannya. Namun, apakah yang akan terjadi jika tema pembicaraan tidak relevan dengan pendidikan ataui pengalaman Anda? Para pakar komunikasi menamakannya sebagai, ”gilt by association”. Salah satu senjata ampuhnya adalah denga mempelajari atau melakukan penelitian terhadap para tokoh yang memiliki otoritas pada topik yang akan Anda bicarakan. Kutiplah Al Ghazali, Abdul Qodir Jaelani, dan Imam Syafei ketika akan berbicara mengenai ajaran Islam. Sedangkan jika akan membahas mengenai politik dan administrasi, maka kutiplah Imannuel Kant, Max Webber, dan Mac-Cleland. Dengan itu, maka orang yang tidak memiliki otoritas pun akan dipandang akan memilikinya.

Kedua ; good sense. Pendengar akan mengetahui, menyukai, dan akhirnya menerima ide yang Anda sampaikan ketika dipandang objektif. Hal ini dapat dibangun dengan ; (1) menggunakan pendekatan rasional dan argumentasi yang logis; (2) menghindari penjulukan (pemilihan kata-kata); (3) menghindari sikap tidak jujur dalam penyampaian isi retorika; (4) tidak ’menggurui’ dan menunjukkan penghargaan terhadap pendapat yang berbeda. Jadikannya pendengar sebagai mitra, teman, atau saudara dalam mencari kebenaran (memanusiakan audiens).

Ketiga ; good character (akhlak). Termasuk dalam hal ini yaitu, kejujuran, integritas, dan ketulusan. Ketika Anda berbicara di depan khalayak, Anda bukan hanya menyampaikan apa yang Anda ketahui (what you know), tetapi seluruh kepribadian Anda (what you are). Good character dibangun pada sejarah yang panjang, dan cara satu-satunya adalah dengan meningkatkan kualitas diri.

Keempat ; good will. Audiens akan tertarik dengan suatu pembicaraan ketika si pembicara berjuang untuk kepentingan mereka, bahwa Anda berdiri di tengah-tengah pendengar. Anda bukan berbicara ’kepada’ (speak to), melainkan berbicara ’bersama’ (speak with) mereka. Caranya adalah dengan proses ko-orientasi. Mencari kesamaan antara Anda dengan khalayak dalam perbuatan, sikap, dan nilai. Ciptakan kesan bahwa kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan Anda, kesedihan mereka adalah kesedihan Anda, dan derita mereka adalah derita Anda pula. Bangun ikatan emosional antar Anda dan audiens.

Kelima ; dinamisme. Komponen ini merupakan ekspresi fisikal dari komitmen psikologis Anda terhadap topik. Dengan kata lain, harus adanya kesamaan antara suara, gerak, dan tema yang akan disampaikan. Ketika tema yang disampaikan serius, maka gerak dan suara juga harus serius. Ketika topiknya tentang semangat, maka si pembicara pun harus terlihat semangat dalam berbicara. Begitu seterusnya.

 

*Diinspirasi dari buku “Retorika Modern” Jalaluddin Rahmat.