Generasi Bawang

Posted on June 15, 2011

1



“Pemikir-pemikir yang lahir di waktu lampau bisa memperkaya batin kita, jika kita memandang mereka dengan sikap seorang murid. Tapi bukan pribadi mereka yang jadi guru, melainkan pengalaman mereka—termasuk kekurangan mereka dalam kesalahan dan keterbatasan.” Goenawan Mohamad.

Barangkali catatan Mas Goen—sapaan akrabnya, tertanggal 31 Desember 1977 itu kini hanya jadi isapan jempol semata. Catatannya itu setidaknya berisi ekspektasi kaum muda untuk dapat belajar dari kaum terdahulu. Pelajaran yang dapat memperkaya batin kita, kaum muda. Tapi, pernahkah terlintas dalam benak kita kini akan pelajaran itu?

Kaum muda diharapkan dapat belajar dan mempelajari ilmu dari generasi tua. Tujuannya hanyalah satu. Untuk kemajuan bangsa kita sendiri. Kemajuan yang dibangun dari pondasi pemikiran, ide-ide, dan kreativitas kaum muda. Kemajuan yang hanya bisa didapat dari hasil belajar, dan bukan menyusu.

Beberapa hari lalu, saya mendapat ilmu baru dari salah seorang guru—yang saya belajar darinya. Ilmu tentang ekses dari peradaban. “Sampah peradaban”, begitu pak Agus Sulistyono Kasrip menyebutnya. Sampah itu kini telah merasuk ke dalam urat nadi negeri ini. Saraf penduduk negeri telah teracuni oleh sampah itu. Tak ada lagi kekeluargaan. Tak ada lagi pikiran untuk bangsa. Yang ada hanyalah style-isme, gaul-isme, dan mentereng-isme. Orang kita akan bangga jika berlabel fun, food, and fashion a la Barat. “No style is Katro”, beginilah pikiran orang muda kini.

Seorang pemikir Barat, Karl Popper, juga pernah menyebut bahwa teknologi informasi adalah sendi dalam menopang kemajuan peradaban. Kemajuan urung tercapai jika tak ada teknologi informasi. Begitu barangkali sederhananya. Memang, manusia tidak bisa menafikkan bahwa adanya teknologi informasi dapat memudahkan manusia untuk hidup dan berinteraksi. Kehidupan yang instan, serba gampang, serba cepat, dan serba praktis akan dijalani jika teknologi informasi telah nampak. Orang mana yang tak akan tergoda dengan iming-iming itu?

“Dalam hal seperti itu generasi sekarang lebih beruntung. Kita lebih banyak bahan. Generasi sekarang lebih banyak bisa mempelajari hasil penelitian tentang masyarakatnya sendiri, yang di jaman dulu belum pernah dilakukan. Generasi kini juga dapat melihat apa yang dulu tak terlihat.” Begitulah Mas Goen melanjutkan catatannya.

Bukan soal kemajuan itu yang jadi masalahnya. Asal itu bermanfaat, tak merusak, dan tak mengganggu tak apalah. Hanya saja, seringnya kita salah kaprah dalam menjawab tantangan kemajuan itulah persoalannya. Kita tak punya filter yang mumpuni dan kokoh dalam menyedot peradaban. Apa yang disebut Mas Goen sebagai “keberuntungan” kaum muda memang benar. Beruntung hanya pada fun, food, and fashion, bukan keberuntungan pada cara pandang dan pola pikirnya karena punya lebih banyak bahan dan kemudahan kini.

Dan, dalam hal itu, menurutku kaum tua lebih “beruntung”. Kenapa orang tua beruntung? Karena mereka punya kesalahan yang lebih yang kaum muda tidak punyai. Mereka bisa belajar dari kesalahan tersebut. Sedangkan kini generasi muda enggan untuk belajar. Inilah yang kemudian melahirkan generasi bawang. Seperti halnya bawang, berbau tapi tak berasa.