Survival Usaha Mikro

Posted on June 6, 2011

0



The world is flat, begitulah Thomas Friedman dalam menyebut abad 21 ini (Friedman, 2004:3). Inilah era teknologi informasi, dimana dunia semakin canggih dan serba bisa. Persaingan dalam dunia bisnis juga kian sengit. Ada dua pilihan, tetap kreatif dengan membangun merek untuk tetap survive, atau mati tanpa berkreasi. Kompetisi dalam membangun jaringan bisnis terbuka bagi yang kreatif. Oleh karenanya, konstruksi sebuah brand harus memiliki seperangkat kompetensi yang konsisten, relevan dan khas yang mudah dikenali (McNally&Speak, 2004:109). Dengan itu, maka merek akan tumbuh semakin kuat dan jelas dalam pandangan orang-orang lain.

Usaha kecil dan menengah seperti hidup segan mati tak mau di era kini. Kesan stagnansi dalam dunia usaha mikro ini terlihat dari adanya kengganan dan ketidakmampuan untuk berinovasi melalui merek. Kesan asal-asalan dalam mempromosikan merek dagangnya adalah satu tindakan bunuh diri, karena tindakan seperti ini dalam jangka panjang merupakan penurunan merek (brand demotion), bukan lagi promosi merek (brand promotion).

Sebuah langkah strategis dan taktikal yang menentukan kesuksesan penjualan perlu segera dilakukan, mengingat para pelaku usaha terkadang lupa untuk memelihara dan menjaga konsistensi dari brand yang dimilikinya sebagai investasi masa depan. Padahal, pemeliharaan brand adalah aset yang sangat penting karena brand merupakan jati diri sebuah lembaga usaha. Oleh karena itu, marketing communication melalui branding dirasa akan menjadi oase di tengah minimnya inovasi usaha kecil di era kini.