Ladang Cinta (End Story)

Posted on April 16, 2011

0



Hari-hari pun berlalu berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan, bulan pun berlalu berganti tahun. Setahun telah hilang. Dua tahun pun terbilang. Pikiran-pikiran itu telah akrab denganku kini. Menemaniku dalam setiap aktivitasku. Aku menjadi begitu gundah. Nampaknya perang batinku telah mencapai titik kulminasinya.

Tak terasa telah tiga tahun aku memendam rasa ini. Aku tak menyesal. Itulah prinsipku untuk tidak berpacaran. Aku mengagumi Imron dan aku telah belajar banyak darinya. Belajar tentang hidup padanya. Aku selalu berdoa kepada Allah agar aku dikasih kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam. Dan semoga Allah senantiasa merahmati rasa ini.

Aku mencintainya untuk mencintai-Mu Ya Rabb…

Tak ada yang kebetulan. Karena kapan saja seseorang membicarakan tentang ‘kebetulan’, maka sama saja dengan membicarakan ketidakmengertiannya sendiri. Pertemuanku dengannya masih menyimpan misteri hingga kini. Itulah keindahan misteri yang telah Tuhan ciptakan. Soal  jodoh adalah kuasa-Nya. Sebab semuanya itu adalah rencana-Nya.

Aku harus lebih mencintai saudara-saudaraku. Islam punya cinta yang universal, seperti kata Imron. Jangan juga terlalu cepat mengambil keputusan. Pikirkan matang-matang, seperti kata Teh Fatimah. Dan, aku harus menjadi manusia tipikal “bola ping pong”, tipikal orang yang ketika diterpa masalah ia semakin bersemangat dan tak pantang menyerah. Ia bisa fleksibel dengan masalah, seperti kata Rani.

Dalam tahun terakhirku di kampus ini kuyakinkan diri untuk tetap fokus belajar. Sebentar lagi aku selesai.

***

Posted in: Short Story