Ladang Cinta (Part. 4)

Posted on April 13, 2011

0



Kuhabiskan waktu hidupku dengan melamun dan melamun. Praktis seperti tak ada aktivitas lain selain melamun. Kuliahku kacau. Aku tak dapat berkonsentrasi. Selalu ada Imron dalam retina ini. Lebih tepatnya bayangan. Ya. Hanya bayangan Imron. Bukan fisiknya.

Sore itu, selepas kuliah, aku masih terduduk di taman kampus.

“Kenapa murung Ra?” Rani menyapaku.

Rani adalah temanku satu kelas. Ia teman karibku. Aku sudah lama tak bertemu dan berbincang dengannya. Barangkali akhir-akhir ini memang waktuku tersita untuk memikirkan Imron. Satu kegiatan yang mengorbankan arti sebuah persahabatan dan silaturahmi. Sangat membuang-buang waktu.

“Oiii…” sambil menepuk punggungku.

“Ehh.. hmmm..Ran,” sapaku seperti gugup.

“Ada apa gerangan? Cerita dong,” bujuknya.

“Entahlah, Ran. Tak tahu kenapa?”

“Iya makanya cerita. Kita kan saudara,” bujuknya lagi.

Aku menyambut kalimat itu dengan tersenyum. Ya. Dialah saudaraku.

“Aku sedang mengagumi seseorang, Ran. Dia baik, cerdas, sederhana, dan lebih penting lagi…dia beda dengan yang lainnya. Prinsipnya mulia.”

“Siapa?” Rani seperti penasaran.

“Hmm.. Si Imron, Ran.,” aku masih kosong, “dia mengajariku tentang kebersihan lingkungan dan kebersihan hati. Dia memang perokok. Tapi dia bersih, kemana-mana selalu bawa keresek buat tempat sampah. Tak ada sampah yang terlewat dari pandangan matanya. Terus…”

“Terus apa, Ra?”

“Dia mengajariku tentang bagaimana menjaga hati.”

“Maksudnya?”

“Iya…” aku berhenti sejenak, “jujur, aku sangat mengagumi prinsipnya, dan aku…jatuh hati padanya, Ran. Aku bingung. Aku yang seperti ini. Aku yang ditugaskan untuk belajar di sini. Dan, apa kata orang kalau aku pacaran?”

“Hmm…iya, aku tahu kok,” diiringi dengan senyum.

“Aku bingung, Ran,” dengan mata yang berkaca-kaca, “aku kini ngerasa lemah dan rapuh, Ran. Baru masalah seperti ini saja aku sudah tak kuat.”

Rani menyambut kalimatku dengan pelukan. Dan, tak tahu kenapa pelukannya membuatku nyaman.

“Tidak kok. Aku ngerasa kamu masih seperti yang dulu. Kamu tangguh. Kamu punya prinsip, dan karenanya kamu taft. Jalani saja apa yang ada. Kamu harus jalan dengan prinsip kamu sendiri. Dan kamu pun harus hormati prinsip orang lain. Termasuk prinsip Imron tentang pacaran.”

Aku mengangguk, masih dalam dekapan Rani.

“Ara harus menjadi manusia tipikal bola ping pong seperti kata Ulrich Bech, tipikal orang yang ketika diterpa masalah ia semakin bersemangat dan pantang menyerah. Ia bisa fleksibel dengan masalah.”

Kita saling lepas pelukan. Saling pandang dan tersenyum.

 

bersambung…

Posted in: Short Story