Ladang Cinta (Part. 3)

Posted on April 11, 2011

0



Aku masih diterpa kebingungan dan kegundahan. Aku tak mau itu terus-menerus mewarnai hari-hariku. Aku harus mencari seseorang untuk berbagi.

“Assalamualaikum, Teh,”

“Alaikumsalam,” kemudian melanjutkan, “Eh Ara. Gimana kabar?”

“Alhamdulillah sehat Teh,”

“Alhamdulillah kalau begitu,” Teh Fatimah melihatku, kemudian melanjutkan, “kenapa Ra? Kok murung? Ayo dong berbagi.”

Fatimah adalah kakak mentorku di Keputrian. Ia adalah tempatku bertanya soal agama. Ia dewasa dan sholehah. Ia yang mengajariku banyak hal tentang Islam.

“Hmm..” aku menahan sedikit ragu, “Ara jatuh cinta dengan seseorang Teh…”

“Astagfirullah..” Fatimah kaget.

“Ara tak tahu harus bagaimana..? Ara kagum dengan figurnya dan prinsip hidupnya. Ara berdosa sekali memendam rasa ini Teh.”

“Kita tak boleh menduakan-Nya Ara,” kemudian melanjutkan, “Ara harus tahu itu. Harus ada ikatan resmi jika mau berhubungan.”

“Tapi kan Teh..”

“Tidak ada tapi-tapi,” Fatimah memotongnya. Kemudian melanjutkan, “kita boleh kagum dengan figur dan prinsip hidup seseorang. Tapi kita juga tak boleh asal-asalan melepas hati. Agama kita punya aturan sendiri Ra. Kalau mau ya menikah.”

Sebentar menghela napas. Ia kemudian melanjutkan.

“Jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Pikirkanlah dulu matang-matang.”

Ia sambil tersenyum. Aku masih termenung.

Bayangan hitam itu mendekat kepadaku. Semakin dekat dan siap mencengkeram. Perlahan tapi pasti. Bergerak dan terus mendekat. Kian mendekat hingga kusadari tanpa sekat lagi. Ia bersiap menerkamku. Kini ada dua. Tak lama kemudian bertambah jadi tiga. Empat. Lima. Dan, dalam hitungan detik sudah sangat banyak hingga aku tak sanggup lagi menghitungnya.

Di tengah kepungannya aku tak sanggup bergerak. Tak ada ruang buatku untuk menghindar. Dingin begitu menguasaiku. Tak ada gerak. Tak ada suara. Mulutku seakan berat untuk berucap. Aku ingin minta tolong. Tapi kepada siapa? Tak ada siapa-siapa selainku dan ratusan atau mungkin ribuan bayangan kelam itu.

“Aaargh…..”

Aku pun sontak berteriak. Bangun dari tidurku.

“Astaghfirullah,”

Malam tinggal sepertiga. Bulan purnama nampak menggantung di daun jendela. Sinarnya menembus sela-sela ruang yang terbuka. Mengisi ruang kamarku dengan temaram cahayanya. Terdengar suara gemerisik daun bambu dari luar kamar. Hembusan angin telah membuatnya tak tenang. Menerobos melalui sela-sela jendela dan menghampiriku pula. Kurasakan tubuh ini bergidik tak sadar. Aku setengah menggigil. Belakangan kusadari jika jendela kamar tak sepenuhnya tertutup. Pantas saja.

Untuk sejenak aku masih terduduk di atas tempat tidurku. Dalam remang malam kulihat teman satu kamarku masih pulas berselimut mimpi. Wardah nampak kelelahan malam tadi hingga dia tak mendengar teriakanku barusan.

Kuseka bulir-bulir keringat dingin yang membuncah tadi dengan lenganku. Ia telah membasahi pakaianku. Aku seperti memakai pakaian berbahan es. Memakainya membuatku menjadi semakin dingin. Kuambil selimut di dekatku untuk menutupi dingin ini. Sedikit berguna walau belum sepenuhnya rasa dingin ini lepas dan menjauhiku.

Aku mulai beringsut dari tempat tidur. Beranjak menuju meja belajarku. Duduk dan termenung.

Jam dinding terdengar kencang berdetak. Ia mencari perhatianku. Mencoba mengalihkan lamunanku. Seperti memaksaku untuk memandanginya. Jarum jam bertengger di angka tiga. Sudah saatnya aku menunaikan qiyamullail.

Aku mulai beranjak dari tempat duduknya. Kulangkahkan pelan-pelan kakiku yang masih lemas menuju ke kamar mandi. Aku mengawali pagi ini dengan mengambil air wudlu untuk menunaikan Sholat Tahajjud. Aku nampak masih linglung.

Aku masih memikirkan mimpi itu. Gerangan apa yang akan terjadi? Entahlah. Aku masih tak tahu.

 

bersambung…

Posted in: Short Story