Ladang Cinta (Part. 2)

Posted on April 8, 2011

2



Pasca perbicangan itu, kata-katanya terus terngiang di telingaku.

Figur Imron itu luar biasa, hatiku bicara.

Ia memesona. Sepertinya hatiku tersihir oleh keluhuran budinya. Tapi apakah ia juga memendam rasa yang sama denganku? Apakah ia akan merespon ungkapan hatiku? Pantaskah aku mencintainya?

Hey, ini soal menjaga hati!

Bukankah Islam tidak mengenal pacaran? Pantaskah hati ini membagi cintanya selain kepada-Nya?

Tapi bukankah sesuatu yang wajar untuk saling mencintai dan dicintai? Bukankah Allah menciptakan segala sesuatunya berpasangan? Kalau cinta dilarang, kenapa rasa ini diciptakan? Dan bukankah kita diperintahkan untuk saling mengenal? Kalau soal menahan nafsu, bukankah di situ justru tantangannya?

Arrgh…

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang terus membayangiku cukup lama. Aku belum mampu untuk mengungkapkan isi hati ini kepadanya. Aku masih ragu. Tapi aku juga tak sanggup menahan gejolak hati ini. Aku seperti tak mampu menengahi perang batin ini. Aku harus merintis jalan menuju ke situ. Biarkan Tuhan yang memutuskan semuanya.

Hari-hari berlalu dan perang batin ini semakin menjadi. Akhirnya kuberanikan diri untuk menemui Imron. Waktu itu di taman selepas kuliah. Imron tengah membaca buku. Dan aku pun menghampirinya.

“Assalamualaikum,”

“Alaikumsalam”

“Kosong? Boleh duduk Ron?” tanyaku basa-basi.

“Oh, kukira taman ini masih bumi Tuhan. Masih gratis! Silahkan!” ia menyambutku dengan candaan.

“Hmm..,” responku kaku.

“Kenapa, Ra? Seperti ada yang mau dibicarakan. Apa soal jihad? Atau ..?” Imron mulai bertanya penasaran.

“Boleh tanya Ron?” entah kenapa kali ini aku sangat gugup. Rasanya melebihi saat-saat menjelang ujian semesteran.

“Iya, apa? Syaekhu Imron siap melayani paduka,” balasnya sedikit bercanda, kemudian melanjutkan, “ah kamu kaya ke siapa saja pakai ijin segala, Ra.”

Entah kenapa pula setian candaan yang Imron ucapkan rasanya seperti kecut di telingaku. Aku yakin jika aku adalah seorang yang punya sense of humor yang baik. Tapi, kali ini lain. Selera humorku benar-benar ciut di depannya.

“Mmm… Apa pendapatmu tentang pacaran?” aku masih kaku.

“Maksudmu, “ Imron sedikit tercengang mengernyitkan dahi, “kok..?” ia kian penasaran.

“Iya, bagaimana menurutmu tentang pacaran?” aku mengulangi seperti tak sabar ingin segera mendapat jawaban darinya.

“Hmm..” menghela nafas panjang, Imron melanjutkan, “bahwa semuanya diciptakan berpasangan, adalah firman-Nya. Termasuk pula manusia. Ada perempuan. Ada laki-laki. Ada Adam. Lalu ada Hawa. Ia diciptakan dari tulang rusuk Adam. Mereka disatukan dalam ikatan yang halal. Dari merekalah manusia dilahirkan sampai sekarang. Manusia adalah mahluk paling sempurna yang telah Allah ciptakan. Keagungan-Nya itu tercermin dalam setiap detail ciptaan-Nya. Begitulah kira-kira pemaknaan dari Islam tentang pacaran yang dapat kupahami.”

Ia berhenti sejenak. Kulihatnya melayangkan pandang menembus cakrawala. Sore itu mentari semburatkan lembayung senjanya. Indah dan romantis.

“Dan…Perempuan yang baik untuk lelaki yang baik. Dan perempuan yang jelek untuk lelaki yang jelek pula. Semua ini adalah cinta-Nya. Cinta Dia itu universal, Ra. Aku mau jadi peniru-Nya. Maka sebelum ikrar suci, aku tak ingin memberi cinta lebih bagi seseorang.” Ia pun mengakhiri.

Berpasangan. Ya. Berpasangan. Laki-laki dan perempuan. Aku dan Imron. Tapi sudah siapkah aku untuk menikah? Bolehkah aku menjalin hubungan dengannya sebelum diikat oleh ikatan yang suci? Seperti halnya Adam Hawa dulu? Untaian pertanyaan itu terus menemaniku. Membuatku tidak konsentrasi dan fokus dalam menerima pelajaran akhir-akhir ini. Aku harus bagaimana Ya Rabb?

Terasa ada sesuatu yang menerpa hatiku. Ada apa dengan Mas Imron? Kenapa ia bisa begitu menyandera batinku? Ada apa denganku? Sehingga ia mampu mambuat hatiku tersapu? Apakah aku telah jatuh cinta?

Astaghfirullah…

Aku tak boleh seperti ini. Cintaku hanya kepada-Nya. Hatiku hanya milik-Nya, dan pasti pula kembali pada-Nya.

Etiskah aku seorang perempuan mengungkapkan perasaan pada seorang laki-laki? Bagaimana dengan tugasku menimba ilmu? Apa kata orangtuaku di rumah jika tahu anak perempuannya bermain cinta di sini? Bukannya menimba ilmu malah mengais cinta!

Belum lagi secara tak sengaja aku seringkali dipertemukan dengan Imron. Mengapa Allah sering mempertemukan aku dengannya? Berjodohkah?

bersambung…

Posted in: Short Story