Ladang Cinta

Posted on April 6, 2011

0



Namaku Az Zahra Ayu Madinna. Aku mengawali tahun pertamaku di Jurusan Administrasi Negara FISIP UNPAD dengan sebuah kisah.

Suatu ketika kujumpai seorang kawan satu jurusan. Imron namanya. Ia tengah memilah-milah sampah dalam tong di depan kelas. Saat itu kelas kami baru selesai. Sebelum aku menuju ke kantin, pertemuan itu terjadi dan kita terlibat sebuah percakapan.

“Assalamualaikum, Imron?” salamku.

“Alaikumsalam,” sontak ia menjawab.

“Kamu sedang apa?” tanyaku sebagai pembuka.

“Ah, biasa, Ra, lagi mencoba hidup bersih,” begitu jawabnya.

“Ah, biarkan saja petugas kebersihan kampus yang membersihkan,” timpalku lagi.

“Tidak apa-apa kok, lagian kebersihan itu kan urusan kita bersama sebagai penghuni kampus. Toh kita sendiri yang nyampah kan?” lanjutnya seakan bertanya.

“Oh seperti itu ya?” responku kaku.

“Saya tidak rela melihat tempat yang saya singgahi jadi ladang sampah.”

“Iya,” balasku lirih.

“Yah…” jawabnya dengan mengambil nafas panjang, “kalau bukan kita siapa lagi, Ra.”

“Saya ke Musholla dulu ya Ron, belum Sholat Ashar,” kataku mengakhiri.

“Assalamualaikum,”

“Alaikumsalam,”

Sambil kaki ini melangkah ke Musholla aku resapi kata-katanya.

‘Kalau bukan kita siapa lagi’.

Kalimat nan simpel tapi berarti. Aku masih berpikir apa gerangan makna di balik kalimat itu. Berupa sindirankah? Ajakan? Atau malah kritikan? Sampai beberapa hari aku belum bisa sepenuhnya paham kalimat itu.

Imron lah satu-satunya mahasiswa yang mau dan tidak malu untuk memunguti sampah. Ia selalu membawa keresek kecil untuk membersihkan serakan sampah di kampus. Satu demi satu di ambil dan dimasukannya di dalam keresek. Tak pernah ada yang luput dari pandang matanya.

Coba bayangkan. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku pun mengulangi pertemuanku dengan Imron. Kesempatan yang aku gunakan masih sama. Tak disengaja. Di saat aku selesai belajar kelas. Seperti biasa. Sama seperti waktu itu.

“Assalamualaikum, Imron,” salamku seperti biasa.

“Alaikumsalam,” ia pun menoleh ke arahku.

“Maaf, boleh ganggu?” tanyaku santun.

“Ya, asal ada bayarannya saja. Saya tidak sepemurah Tuhan,” ia berkelakar, “maaf bercanda. Ada apa, Ra?”

“Masih ingat dengan perbincangan waktu itu, Ron?” Sambil menunggu Imron mengingat-ingat, aku pun langsung melanjutkan.

“Kamu kan waktu itu pernah bilang soal sampah, ‘kalau bukan kita siapa lagi toh?’”

“Iya, kenapa Ra?” tanyanya penasaran.

“Boleh tahu maksudnya, Ron?” lanjutku.

“Oh…” katanya sambil ia tersenyum seperti menunjukkan keramahan, “ya kalau bukan saya, kamu, kita, dan seisi kampus ini, siapa lagi yang akan membersihkannya. Saya dari kecil terbiasa memulai segala sesuatunya dari diri saya sendiri dulu sebelum menyuruh orang lain. Memulai segala sesuatunya dari hal-hal yang kecil dulu, Ra. Lagipula, bukankah itu jihad? Bahkan yang terbesar?”

“Terus, Ron?” tanyaku lagi tak mempedulikan pertanyaannya. Tak sabar menunggu petuah bijak selanjutnya.

“Ara ini kaya tukang parkir saja terus terus,” ia tersenyum lebar mencoba berkelakar kembali.

Karena melihat aku yang konsentrasi mendengarkan, Imron pun melanjutkan kembali petuahnya.

“Mulailah sesuatu dari diri dulu. Jangan pernah menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu sedangkan kita sendiri belum melakukannya. Muhammad pun tak akan mengatakan sesuatu sebelum ia melakukannya kan?” jelasnya seperti mengulang.

“Iya,” responku singkat.

“Apa yang menjadi sabdanya pasti telah dilakukannya terlebih dahulu. Dan nabi kita selalu di depan. Dialah teladan, bukan majikan. Apa Ara tidak sayang kalau ladang ilmu kita ini jadi ladang sampah? Pasti tidak kan?”

Aku hanya meresponnya dengan tundukan malu di depannya.

Seorang Imron. Seorang yang sederhana di kelas. Seorang yang berpenampilan biasa-biasa, bahkan cenderung urakan. Siapa sangka, punya pikiran yang luhur dan bijaksana, setidaknya menurutku. Jangan-jangan memang benar,  keluhuran budi tak selalu ditentukan dari dandanan dan penampilan. Banyak orang di luar sana yang rapi, wangi, dan berpengetahuan tinggi tapi keblinger. Tak sedikit orang yang berkedudukan tinggi tapi tak bisa punya arti. Tapi Imron lain. Ia sederhana namun istimewa. Sepertinya keluhuran budinya telah menambat hatiku. Ah, apakah ini sebentuk kekaguman?

“Sepele namun berarti mulia.”

 

bersambung…

Posted in: Short Story