Di Sana Masa Depan

Posted on March 29, 2011

0



“Lakukanlah sesuatu hal yang kamu takuti” Dale Carnegie

Lakukan apa yang kamu takut untuk melakukan. Jangan lari dari kenyataan. Itulah makna yang tersembunyi di balik kalimat Carnegie tersebut. Masalah bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dan dipecahkan. Klise memang kedengarannya. Tapi, tidak setiap orang sadar benar akan itu. Padahal, hanya butuh keberanian, dan bukan kesempurnaan untuk memulai sesuatu.  Waktu terus menempa kita untuk senantiasa belajar dan belajar. Dan, belajar dikonstruksikan dari pengetahuan dan pengalaman masa lampau. Pada akhirnya semua bermuara pada ingatan.

Hidup bagaikan sebuah perjalanan panjang berliku. Tanpa kita tahu di mana akhir perjalanan itu. Kita tidak akan pernah tahu dan tidak akan diberi tahu kapan dan di manakah ujungnya. Sedangkan kita—manusia—adalah komponen inti dari sebuah lingkaran kehidupan yang harus melewati jalan itu. Penyesalan akan mewarnai setiap langkah manusia. Penyesalan datang secara tiba-tiba dan pasti datang setelahnya. Itulah sebuah teka-teki dari keindahan misteri yang Tuhan ciptakan untuk mahluknya.

Masa depan telah ada di depan mata kita. Jangan sia-siakan kedatangannya. Sambut dan rangkaikanlah masa depan dengan tangan-tangan indah kita. Buktikan jika kita memang unik dan punya potensi yang luar biasa. Kumpulkan kepingan-kepingan dan serpihan-serpihan yang tercecer, rangkaikan dan bentuklah ia menjadi sebuah miniatur mimpi kita. Tidak ada sesuatu yang sia-sia, semuanya berarti dan mempunyai makna tersendiri. Susunlah puzzle mimpi-mimpi yang penuh warna dengan berpijak pada masa lalu dan masa kini. Gunakan dua fase yang telah kita punyai sebagai bahan ramuan untuk meracik masa depan. Warnai masa depan kita dengan tinta-tinta warna masa lalu.

Kita akan mengenali masa depan tatkala kita telah benar-benar mengenali masa lalu. Gauli masa-masa yang telah lewat, dan intimilah ia. Karena kita tidak akan dipertemukan kembali dengan masa lalu. Hilangkan pikiran bahwa masa lalu adalah bayang-bayang semu, sesuatu yang mengganjal dan harus dihilangkan. Buang jauh-jauh pikiran itu dan gantikan paradigma keliru itu dengan tetap memandang masa lalu sebagai bagian dari hidup kita yang penuh dengan keindahan.

Waktu terus berputar ke depan tanpa mau untuk menengokkan mukanya ke belakang. Renungkan dan maknai hal itu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan berjalan sebagaimana mestinya. Segala yang kita perbuat dimasa lalu dan semua yang kita pikirkan sekarang adalah rajutan benang-benang yang nanti akan kita kenakan sebagai pakaian masa depan. Bukan sesuatu hal yang rumit dan harus disesali, namun sesuatu hal yang harus dipikirkan untuk kemudian dilakukan. Sinergiskan ketiga fase tersebut. Lihat, dengar, cium, raba dan rasakan semua itu. Melangkahlah dengan optimisme dan ucapkan dengan lantang ‘selamat datang masa depan’!