Politik Etis Kapitalis

Posted on March 13, 2011

0



Politik balas budi itu telah merasuk sampai ke akar-akarnya. Entah disadari atau tidak secara perlahan-lahan dan terus-menerus bangsa kita ”disiksa” oleh Barat dengan segala kemolekannya. Tak habis pikir, bangsa yang begitu besar ini dapat takluk dan diacak-acak hingga keadaannya seperti sekarang ini. Negeri yang kaya akan pemimpin-pemimpin besar yang disegani dunia dahulu, sekarang tak bergaung layaknya macan tak bertaring. Siapa yang salah sehingga bangsa dan negeri kita seperti ini?

Sejarah pernah berkata bahwa politik etis lahir sebagai kritikan atas muncul dan berkembangnya politik tanam paksa dahulu. Pemerintah kolonial, yang pada waktu itu adalah Belanda, bertanggung jawab atas kesejahteraan pribumi. Belanda sedikit membuka mata dengan ide cemerlang dari Pieter Brooshooft dan C Van Deventer bahwa nasib pribumi perlu juga untuk diperhatikan.

Utang budi (een eerschuld) dan panggilan moral dituangkan dalam politik etis, meliputi irigasi, edukasi, dan emigrasi. Bukan kuantitas kaum terpelajar fokusnya, melainkan munculnya kesadaran politik dan nasionalisme. Lahirnya tokoh Hatta dan Suwardi Suryaningrat dari kelas menengah dan pergerakan seperti Budi Utomo pertanda munculnya semangat nasionalisme.

Derita itu tidak berhenti pasca penjajahan. Kesengsaraan terus berlanjut dan semakin parah lagi dengan bentuk dan iming-iming baru, yaitu politik balas budi.
Mereka menanam di negeri ini dan hanya memberikan sedikit dari hasil yang banyak yang mereka raih. Alangkah serakahnya orang-orang ‘luar’ dan orang-orang dalam’ yang hanya memanfaatkan tanah negeri untuk kepentingan perut sendiri. Kejahatan korporasi semakin merajalela seiring dengan globalisasi yang kian kencang berhembus.

Corporate Social Responsibility (CSR) harus ditelaah lebih dalam. Memang hal tersebut ditujukan untuk membalas semua yang telah didapatkannya. Sebagai balas budi dari perusahaan dan juga sebagai tanggung jawab sosial. Namun, di tubuh CSR jg terdapat market. Iming-iming gaya baru. Mereka (korporasi) akan mendapatkan hasil yang lebih banyak setelah mereka bertanggung jawab secara sosial. Politik etis kapitalis yang telah berganti kemasan menjadi politik balas budi.

Kini, jelas-jelas pemimpin negeri ini takluk dengan hegemoni korporasi. Sekali lagi, takluknya pemimpin negeri oleh sebab balas budi.

Posted in: Article