Era Hot Pants

Posted on March 7, 2011

4



Jeritan modernisasi kian kencang. Suaranya bak serentetan Kalashnikov di Timur Tengah sana. Terus menggema.

Perlahan tapi pasti, ia terus mendekat. Bergerak. Dan terus meringsek menuju ke relung pikiran. Tanpa bisa menolak. Seperti mengiyakan dengan penuh kesengajaan. Semuanya mengalir deras. Merasuki dandanan. Merasuki penampilan. Meracuni pola pikir. Meracuni otak dan semua organ. Atas nama alam sadar, kita telah mengekor.

Inilah kejayaan modernisasi. Dan, inilah era hot pants.

Kita pun tercenung. Entah apa yang terjadi di Negeri Bahagia ini. Tragedi ini terjadi bukan karena tanpa sebab . Kita memang tak sepenuhnya tahu. Yang kita tahu adalah telah terjadi perbenturan kebodohan muda mudi di tanah ini. Dengan bangganya mereka pamer tubuh. Paha mulus bertebaran di setiap satu centimeter jalanan. Itulah sebuah prestise. Muda mudi meneteskan liur melihat manisnya gaya trendi.

Padahal orang tua mereka masih terduduk di sini. Masih di atas tempat tidurnya yang reot ini. Tempat tidur yang kasurnya tak berselimut seprei. Di sini, di tempat tinggal yang beratapkan langit.

Inilah kita. Yang bernasib sebagai dunia ketiga. Yang seperti tak bangga terhadap apa yang kita punyai. Yang tak sanggup untuk berucap auf wiedersehen pada itu.

Tidak ada yang mampu merubah tragedi ini. Tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan kita. Kecuali kesadaran kita masing-masing.

Modernization.
It’s au revoir to your insanity.