Pembangunan, Barat-Timur

Posted on March 3, 2011

0



Adanya pembangunan bisa menjadi angin segar bagi sebuah bangsa. Hal itu berarti akan adanya sebuah perubahan dan perpindahan dari kondisi yang memprihatinkan kepada kondisi yang diharapkan. Pembangunan bukan sebuah hal yang ajeg, karena pembangunan merupakan sebuah proses yang panjang menuju harapan. Berbagai negara memiliki konsep masing-masing untuk membangun negaranya. Baik Barat atau Timur, yang jelas keduanya merupakan acuan atau kiblat dalam pembangunan yang tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beberapa teori mengenai pembangunan pun bermunculan. Ibarat buih di lautan, teori-teori pembangunan tetap mempunyai muara yang sama, yakni sebuah kemajuan dan kemakmuran bangsa.

Secara garis besar teori pembangunan dapat dibagi menjadi dua, yaitu teori ketergantungan dan teori modernisasi. Pertama, teori modernisasi. Teori ini mengatakan bahwa pembangunan menjadi sebuah masalah internal. Inti dari teori ini adalah adanya keharusan bagi negara-negara dunia ketiga untuk menggunakan pinjaman luar negeri dalam pembangunan. Dalam bukunya “The Stages of Economic Growth, A Non-Communist Manifesto” W.W. Rostow menyatakan bahwa pembangunan prosesnya dibagi menjadi lima tahap, yaitu masyarakat tradisional, prakondisi untuk lepas landas, lepas landas, bergerak ke kedewasaan, dan jaman konsumsi masal yang tinggi (Rostow, 1966: 4). Termasuk di dalam pendukung teori ini adalah Max Weber, Harrod-Domar, David McClelland,dan Bert F. Hoselitz.

Kedua, yakni teori ketergantungan (Dependency Theory). Secara sederhana dimaknai teori ini mengharamkan pinjaman luar negeri bagi para penganutnya. Diantara pendukungnya adalah Karl Marx dan Frederick Engels. Marx mengatakan bahwa negara-negara pra-kapitalis di Asia adalah seperti seorang puteri cantik yang masih tidur, yang sedang menunggu ciuman seorang pangeran tampan untuk membangunkannya. Pernyataan Marx tersebut nampaknya ada benarnya. Pangeran tampan ini adalah negara-negara kapitalis industrial yang sudah maju. Ciumannya adalah imperialisme. Setelah dicium, si puteri cantik memang terbangun. Tetapi Marx nampaknya tidak sampai mengira bahwa hidup sang puteri sedang tidak sehat, karena, ciumannya beracun.

Begitu hebatnya Barat dalam menyebarkan ‘virus’ nya sehingga Marx menyebutnya sebagai ciuman yang beracun. Negara-negara dunia ketiga menjadi mangsanya, dan anehnya lagi negara-negara tersebut tidak pernah kapok untuk datang kepada Barat dan meminta belas kasihan darinya. Sedikit miris memang, namun apalah daya bahwa mereka mempunyai kekuatan dan hegemoni yang begitu luar biasa. Ketergantungan negara-negara dunia ketiga terhadap Barat (kapitalis) kian menjadi, termasuk Indonesia.

Posted in: Article