Katanya Pembangunan?

Posted on March 1, 2011

0



“Pembangunan ibarat jalan panjang tak berujung…”

Secara sederhana, pembangunan dapat diartikan sebagai proses multi-dimensi yang mencakup perubahan-perubahan penting dalam struktur sosial, sikap-sikap rakyat dan lembaga-lembaga nasional dan juga akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangan (inequality) dan pemberantasan kemiskinan absolut (Todaro dan White, 1982: 3). Secara gamblang disebutkan bahwa pembangunan hanya mencakup pada hal-hal yang berkaitan dengan fisik seperti misalnya struktur sosial dalam masyarakat. Artinya adalah bahwa pembangunan merangkul aspek-aspek yang bersifat ragawi saja, tanpa adanya ketersinggungan dengan sisi mental atau moral.

Deskripsi tersebut yang nampaknya sering orang-orang identikkan bahwa pembangunan sama dengan gobalisasi. Padahal, tidak bisa secara mentah-mentah kedua hal tersebut disamakan. Artinya ada batas-batas tertentu yang sudah menjadi pakemnya masing-masing. Masaki Kotabe menyatakan bahwa globalisasi adalah proses memfokuskan sumber daya (manusia, uang, dan aset fisik) dan tujuan-tujuan dari suatu organisasi untuk memperoleh kesempatan dan menanggapi ancaman global (Kotabe, 1992). Baik buruknya konsep tersebut tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.

Lain halnya dengan Kotabe, Arif Budiman menyatakan arti pembangunan dalam bukunya, “Teori Pembangunan Dunia Ketiga” bahwa pembangunan mempunyai dua masalah pokok. Pertama, adalah masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi. Kedua, masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif, yang menjadi manusia pembangun (Budiman, 2000: 13). Ada dua perbedaan besar dari kedua tokoh tersebut, yang satu melihat pembangunan dari sudut pandang fisik dan satunya lagi dari sudut pandang sumber daya manusianya. Artinya adalah bahwa pembangunan mempunyai makna yang begitu luas dengan sudut pandang yang berbeda-beda pula.

Siapapun akan mengakui bahwa pembangunan merupakan sesuatu hal yang rumit untuk dipahami, karena sifatnya yang multifaset dan multidimensional. Namun, hal seperti itu merupakan tuntutan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak salah jika bidang-bidang seperti ekonomi, politik, sosial budaya, keamanan, dan administrasi pemerintahan menjadi fokus dan objek dalam pembangunan.Tuntutan tersebut menjadi sangat kompleks dan rumit karena telah terakumulasi dan memuncak layaknya sebuah bukit. Sebuah bukit yang di lembahnya terdapat jurang-jurang kemiskinan.

Posted in: Article, Bureaucrazy